Trump dan Prabowo Akan Menghadiri WEF di Davos
Poin Penting
|
DAVOS, Investortrust— Kehadiran Donald Trump di Davos tahun ini menjadi sorotan utama karena berlangsung di tengah eskalasi geopolitik global yang belum mereda. Beberapa pekan sebelum forum digelar, Trump mengambil langkah-langkah kontroversial di panggung internasional, mulai dari operasi militer di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro, hingga kembali melontarkan wacana pencaplokan Greenland dari Denmark. Langkah-langkah tersebut dinilai banyak kalangan telah mengguncang tatanan internasional yang terbentuk sejak Perang Dunia II.
Tak mengherankan jika isu stabilitas global, masa depan multilateralisme, serta dampak kebijakan Amerika Serikat terhadap perdamaian dan perekonomian dunia diperkirakan mendominasi diskusi sepanjang forum lima hari ini. Ironisnya, perdebatan tersebut berlangsung di bawah tema “A Spirit of Dialogue”, yang justru menekankan pentingnya dialog dan kerja sama di tengah ketidakpastian global.
Pertemuan tahunan ke-56 World Economic Forum (WEF) yang dilangsungkan Senin (19/01/2026) hingga Jumat (23/01/2026) di Davos-Klosters, Swiss dengan tema mengusung tema “A Spirit of Dialogue" (Semangat Dialog), akan membahas disrupsi ekonomi, transformasi digital, dan keberlanjutan, dengan partisipasi pemimpin global dari pemerintahan, bisnis, dan masyarakat sipil, termasuk delegasi dari Indonesia. Presiden RI Prabowo Subianto termasuk satu dari 64 hingga 65 kepala negara dan pemerintahan yang dijadwalkan hadir di pertemuan ini.
Baca Juga
Presiden dan CEO World Economic Forum, Børge Brende menegaskan bahwa dialog kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Di tengah transformasi geoekonomi dan teknologi yang kian cepat, Davos 2026 diposisikan sebagai forum strategis untuk merumuskan kembali arah kerja sama internasional yang kian terfragmentasi.
Trump sendiri akan bergabung dengan lebih dari 60 kepala negara dan pemerintahan, termasuk para pemimpin Eropa, Asia, dan Amerika Latin. Ia juga memimpin delegasi AS terbesar sepanjang sejarah ke Davos, terdiri atas lima menteri kabinet dan sejumlah pejabat tinggi. Komposisi delegasi ini memperkuat sinyal bahwa Washington akan memainkan peran dominan dalam berbagai diskusi strategis, mulai dari Ukraina, Gaza, Iran, hingga masa depan perdagangan global.
Di sela-sela forum, Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy serta para pemimpin negara G7 untuk membahas kemungkinan jaminan keamanan bagi Ukraina pasca-perjanjian damai dengan Rusia. Kehadiran AS juga diperkuat dengan peluncuran “USA House” untuk pertama kalinya di Davos, yang akan menjadi pusat diplomasi ekonomi dan jejaring investasi AS selama forum berlangsung.
Bagi Indonesia, kehadiran Presiden Prabowo Subianto memiliki arti strategis. Selain mengikuti diskursus global mengenai geopolitik dan transformasi ekonomi, Prabowo membawa agenda khusus untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi jangka panjang. Salah satu fokus utama adalah memperkenalkan Danantara, entitas baru pengelola investasi nasional yang diproyeksikan menjadi instrumen kunci dalam menarik modal global dan mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.
Forum Davos tahun ini juga berlangsung di tengah tekanan ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih. Meski ekonomi dunia relatif bertahan berkat lonjakan investasi kecerdasan buatan, proyeksi pertumbuhan global 2026 yang hanya sekitar 3,1% dinilai masih rapuh, terutama di tengah lonjakan utang global yang telah mencapai level tertinggi sejak Perang Dunia II. Proteksionisme perdagangan, perang tarif, serta pembatasan investasi lintas negara kembali menjadi isu utama yang menghantui prospek pertumbuhan jangka menengah.
Kecerdasan buatan (AI) menjadi tema besar lain yang menyita perhatian. Para pemimpin teknologi dunia dijadwalkan hadir untuk membahas peluang dan risiko AI, mulai dari produktivitas hingga ancaman terhadap lapangan kerja. Kekhawatiran bahwa AI dapat menghilangkan jutaan pekerjaan kerah putih dalam beberapa tahun ke depan memperkuat urgensi agenda reskilling dan investasi pada kualitas sumber daya manusia.
Baca Juga
Pertemuan tahunan ini juga menjadi penanda transisi kepemimpinan di WEF. Untuk pertama kalinya sejak berdiri pada 1971, forum ini digelar tanpa pendirinya, Klaus Schwab, yang telah mundur pada 2025. Kepemimpinan sementara kini dipegang oleh Larry Fink dari BlackRock dan Andre Hoffmann dari Roche, di tengah tantangan melemahnya multilateralisme dan meningkatnya skeptisisme terhadap perdagangan bebas.
Dengan hampir 3.000 peserta dari lebih 130 negara, Davos 2026 menjadi cermin dunia yang tengah berada di persimpangan. Di satu sisi, ketegangan geopolitik dan fragmentasi ekonomi semakin nyata. Di sisi lain, forum ini tetap menawarkan ruang dialog bagi para pemimpin dunia—termasuk Trump dan Prabowo—untuk merumuskan ulang arah kerja sama global di era penuh disrupsi.

