Wall Street di Zona Merah, Aksi Jual Saham Teknologi Tekan Pasar
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS melemah pada Rabu waktu AS atau Kamis (15/1/2026) WIB. Wall Street memerah untuk sesi kedua berturut-turut, makin menjauh dari level rekor, seiring pelaku pasar mencermati rangkaian laporan keuangan terbaru dan memantau perkembangan geopolitik.
Indeks S&P 500 turun 0,53% dan ditutup di level 6.926,60. Dow Jones Industrial Average berkurang 42,36 poin atau 0,09% menjadi 49.149,63. Nasdaq Composite anjlok 1% dan berakhir di 23.471,75. Ini merupakan hari kedua berturut-turut ketiga indeks utama tersebut membukukan penurunan.
Baca Juga
Kebijakan Trump Guncang Wall Street, Dow Anjlok Hampir 400 Poin
Sektor teknologi menjadi penekan utama pasar. Saham chip khususnya mengalami tekanan, dengan Broadcom anjlok 4%, sementara Nvidia dan Micron Technology masing-masing turun lebih dari 1%. Pada Rabu, Reuters melaporkan, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, bahwa otoritas bea cukai China telah memberi tahu petugas bahwa chip Nvidia H200 tidak diizinkan masuk ke negara itu.
Wells Fargo termasuk saham dengan kinerja terburuk pada sesi tersebut, turun lebih dari 4% setelah perusahaan membukukan pendapatan kuartal keempat yang lebih lemah dari perkiraan. Bank of America dan Citigroup juga melemah meski hasil keuangan mereka melampaui estimasi konsensus, karena pelaku pasar menilai kinerjanya belum cukup kuat untuk menopang pasar yang diperdagangkan dekat rekor tertinggi.
Penurunan ini menambah kerugian kedua saham tersebut sepanjang pekan, menyusul seruan Presiden Donald Trump pada Jumat lalu untuk mereformasi suku bunga kartu kredit. Saham Citigroup telah turun lebih dari 7% sepanjang pekan berjalan, sementara Bank of America melemah sekitar 6%. Wells Fargo turun hampir 7% hingga penutupan Rabu.
Pasar saham tetap melemah meskipun data indeks harga produsen (PPI) dan penjualan ritel November yang dirilis terlambat menunjukkan hasil yang solid.
“Jika Anda menerjemahkan angka PPI ini ke dalam gambaran PCE inti, saya pikir angkanya akan sedikit tinggi,” kata Tom Graff, chief investment officer di Facet, seperti dikutip CNBC. Menurut dia, jika itu benar, maka bisa menjadi masalah besar bagi The Fed. Ini memperparah kekhawatiran tentang independensi The Fed.
Serangan Trump terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell berlanjut pada Selasa, di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai independensi bank sentral tersebut, setelah Departemen Kehakiman melakukan penyelidikan pidana terhadap pimpinan The Fed. Para bankir sentral global kemudian menyatakan dukungan terhadap Powell menyusul dimulainya penyelidikan tersebut.
“Apa yang terjadi jika kita memasuki paruh kedua tahun ini, ada ketua The Fed baru dan mungkin The Fed seharusnya menaikkan suku bunga, atau setidaknya tidak memangkas, karena ekonomi mulai datar dan inflasi kembali naik. Para trader akan mulai khawatir soal itu,” beber Graff.
Risiko Geopolitik
Ketidakpastian geopolitik juga membebani sentimen pasar pada Rabu. Harga minyak sempat menguat sepanjang sebagian besar sesi perdagangan di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat kerusuhan sipil di Iran — salah satu anggota utama OPEC — serta meningkatnya ketegangan antara negara tersebut dan AS. Namun, harga kemudian turun setelah Trump memberi sinyal bahwa ia mungkin tidak akan menyerang Iran.
“Kami diberi tahu bahwa pembunuhan di Iran berhenti. Itu berhenti. Sedang berhenti, dan tidak ada rencana eksekusi,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval.
Trump membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran pada Selasa dan mengatakan kepada para demonstran bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan.” Harga minyak mentah melonjak lebih dari 2% pada hari itu, sebelum terakhir tercatat turun lebih dari 1% pada Rabu.
Perundingan krusial juga berlangsung pada Rabu antara pemerintahan Trump dengan pejabat Greenland dan Denmark, seiring dorongan Trump agar AS menguasai Greenland. Presiden menegaskan posisinya menjelang pertemuan tersebut, dengan menyebut apa pun selain Greenland menjadi bagian dari AS sebagai “tidak dapat diterima.”
Baca Juga
Trump ‘Keukeuh’ AS Greenland Jadi Bagian AS, Denmark Kedepankan Dialog
“Amerika Serikat membutuhkan Greenland demi keamanan nasional. Ini vital bagi Golden Dome yang sedang kami bangun. NATO seharusnya memimpin jalan agar kami mendapatkannya,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.

