Trump Sebut Venezuela ‘Kooperatif’, Batalkan Serangan Militer Lanjutan
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan telah membatalkan rencana serangan militer lanjutan terhadap Venezuela, dengan menyebut kedua negara kini “bekerja sama dengan baik” dalam membangun kembali infrastruktur minyak dan gas negara tersebut.
Baca Juga
Dalam unggahan di Truth Social pada Jumat (9/1/2026), Trump menyoroti pembebasan “sejumlah besar tahanan politik” oleh Venezuela, yang ia sebut sebagai “isyarat yang sangat penting dan cerdas.”
“Karena kerja sama ini, saya telah membatalkan gelombang kedua serangan yang sebelumnya diperkirakan akan terjadi, dan tampaknya tidak akan diperlukan. Namun, semua kapal akan tetap berada di posisi demi keselamatan dan keamanan,” tulis Trump, dikutip CNBC.
Dalam konferensi pers pada 3 Januari, Trump sebelumnya menyatakan kecil kemungkinan serangan kedua ke Venezuela akan diperlukan, mengingat apa yang ia sebut sebagai keberhasilan operasi pertama.
“Kami siap melancarkan serangan kedua yang jauh lebih besar jika diperlukan,” kata Trump kepada wartawan saat itu. “Kami siap untuk gelombang kedua jika dibutuhkan. Bahkan, awalnya kami mengasumsikan gelombang kedua akan diperlukan. Namun sekarang tampaknya tidak — gelombang pertama, atau serangan pertama, begitu sukses sehingga mungkin tidak perlu serangan kedua, meski kami tetap siap.”
Washington melancarkan operasi militer di Venezuela pada akhir pekan lalu yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Keduanya didakwa atas tuduhan perdagangan narkoba dan menyatakan tidak bersalah. Dalam sidang di New York pekan ini, Maduro mengklaim dirinya “diculik” dan merupakan “tawanan perang.”
Pada Kamis, Ketua Majelis Nasional Venezuela Jorge Rodríguez mengumumkan pemerintah akan membebaskan sejumlah besar tahanan asing dan warga Venezuela. Menteri Luar Negeri Spanyol José Manuel Albares kemudian mengatakan lima warga Spanyol telah dibebaskan dan dalam perjalanan pulang ke negaranya.
Sejak Maduro disingkirkan, Trump mengalihkan fokus ke sumber daya energi Venezuela yang kaya minyak. Tak lama setelah operasi militer, Trump mengatakan telah berbicara dengan perusahaan-perusahaan minyak besar terkait rencana membangun kembali infrastruktur energi negara tersebut.
Dalam unggahan Jumat, Trump menyatakan sedikitnya US$100 miliar akan diinvestasikan di Venezuela oleh “Big Oil,” seraya menambahkan bahwa ia akan bertemu perwakilan perusahaan minyak besar AS di Gedung Putih pada hari yang sama.
Saat ini Chevron merupakan satu-satunya perusahaan minyak besar yang beroperasi di Venezuela. Perusahaan-perusahaan minyak besar AS lainnya sejauh ini sebagian besar masih bungkam terkait dorongan Trump untuk ikut terlibat dalam pembangunan kembali sistem energi Venezuela.
Venezuela, anggota pendiri aliansi energi OPEC, memiliki cadangan minyak mentah sekitar 303 miliar barel, menurut Badan Informasi Energi AS (EIA). Angka tersebut setara sekitar 17% cadangan minyak dunia. Namun, Venezuela saat ini diperkirakan hanya memproduksi kurang dari 1% output minyak global dan mengekspor sekitar setengah dari produksinya.
Pada Selasa, Trump mengatakan otoritas Venezuela akan memberikan hingga 50 juta barel minyak kepada AS untuk dijual dengan harga pasar.
Baca Juga
Trump Sebut Venezuela Akan Serahkan Minyak hingga 50 Juta Barel ke AS
“Uang tersebut akan dikendalikan oleh saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat!” kata Trump saat itu. Sumber yang dekat dengan Gedung Putih kemudian mengatakan kepada CNBC bahwa Venezuela akan mengirim minyak yang sebelumnya dikenai sanksi ke AS tanpa batas waktu.

