Bursa AS Bergejolak Tertekan Saham AI dan Data Ekonomi, Indeks Nasdaq Tergerus 3% dalam Sepekan
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS bergejolak pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (8/11/2025) WIB. Indeks Nasdaq Composite kembali melemah dipicu penurunan saham-saham kecerdasan buatan (AI). Nasdaq berada di jalur pekan dengan kinerja terburuk sejak April, di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi.
Baca Juga
Wall Street Rontok Dibayangi Kekhawatiran ‘Bubble’ Saham AI, Indeks Nasdaq & S&P 500 Turun Tajam
Pada titik terendah perdagangan, Nasdaq sempat merosot 2,1%, sementara S&P 500 turun 1,3% dan Dow Jones sempat kehilangan lebih dari 400 poin, atau sekitar 0,9%.
Pasar saham berhasil memangkas sebagian kerugian setelah Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer mengajukan rencana baru kepada Partai Republik untuk mengakhiri penutupan pemerintahan AS yang telah memecahkan rekor sepanjang masa. Usulan tersebut mencakup pendanaan sementara bagi operasi pemerintah federal dengan imbalan perpanjangan satu tahun kredit pajak program Affordable Care Act.
Indeks Nasdaq yang berbasis teknologi ditutup turun 0,21% menjadi 23.004,54. Sedangkan, S&P 500 dan berhasil ditutup di zona hijau. S&P 500 menguat 0,13% berakhir di level 6.728,80 dan Dow Jones Industrial Average naik 74,80 poin atau 0,16% menjadi 46,987,10.
Di tengah kebuntuan 'shutdown', kekhawatiran investor atas kekuatan ekonomi AS semakin meningkat. Survei Universitas Michigan yang dirilis Jumat menunjukkan sentimen konsumen mendekati level terendah sepanjang masa. Data itu muncul sehari setelah firma Challenger, Gray & Christmas melaporkan bahwa pengumuman PHK pada Oktober mencapai level tertinggi dalam 22 tahun untuk bulan tersebut.
Baca Juga
Sentimen Konsumen AS Merosot Tajam di Tengah Kekhawatiran ‘Shutdown’
Investor juga kekurangan data ekonomi karena penutupan pemerintahan masih berlangsung. Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) seharusnya merilis laporan ketenagakerjaan non-pertanian pada Jumat, namun untuk bulan kedua berturut-turut, laporan itu tertunda. Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan penurunan 60.000 pekerjaan dan kenaikan tingkat pengangguran menjadi 4,5%.
Senat dijadwalkan melakukan pemungutan suara Jumat untuk melanjutkan langkah pendanaan darurat yang telah disahkan DPR. Penundaan pendanaan federal terpanjang dalam sejarah ini mulai berdampak pada aktivitas ekonomi, termasuk gangguan penerbangan akibat kekurangan pengatur lalu lintas udara yang telah bekerja tanpa bayaran sejak Oktober.
Menteri Transportasi Sean Duffy mengatakan pada Rabu bahwa ia akan memangkas 10% jadwal penerbangan di 40 bandara utama mulai Jumat, yang berpotensi memengaruhi 3.500–4.000 penerbangan per hari. Hingga Jumat pagi, lebih dari 700 penerbangan AS telah dibatalkan.
“Tidak ada yang suka berada dalam kegelapan, dan kita sudah cukup lama dalam kegelapan terkait data pemerintah,” ujar Leah Bennett, Kepala Strategi Investasi di Concurrent Asset Management kepada CNBC. Hal ini, menurut dia, memperlihatkan alasan mengapa valuasi pasar kemungkinan terus melemah dalam jangka pendek.
Tiga indeks acuan saham AS menutup pekan ini di zona merah, di tengah kekhawatiran atas valuasi tinggi sektor teknologi dan konsentrasi pasar yang sempit. Nasdaq turun sekitar 3% sepanjang pekan, menuju kinerja lima hari terburuk sejak awal April ketika indeks jatuh 10%. S&P 500 dan Dow Jones masing-masing kehilangan lebih dari 1%.
Saham Oracle merosot hampir 2%, hingga tergerus 9% dalam sepekan. AMD (Advanced Mocro Devices) melemah, dengan penurunan mingguan sekitar 9%. Saham Broadcom turun lebih dari 5%. Saham Nvidia, Tesla, dan Microsoft juga terkoreksi.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Tertekan Saham AI, Dow Anjlok Hampir 400 Poin
Pemimpin sektor AI mencatat penurunan besar pada Kamis, yang menekan pasar secara keseluruhan. Ketika itu Nasdaq turun 1,9% dan Dow Jones kehilangan hampir 400 poin.
“Telah terjadi sedikit rotasi ke saham bernilai, yang membuat saya percaya bahwa penurunan ini tidak terlalu mengkhawatirkan untuk kelompok ‘Magnificent Seven’,” ujar Bennett. Ia menambahkan bahwa “pengeluaran untuk AI masih terus berjalan.”
Menurut Bennett, reli AI kemungkinan akan berlanjut. “Sulit menentukan puncaknya, tapi saya rasa ini belum berakhir,” ujarnya.

