FTSE 100 Inggris Cetak Rekor di Tengah Pelemahan Pasar Eropa
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id – Bursa saham Eropa sebagian besar melemah pada Selasa (28/10/2025) saat pasar global menunggu keputusan suku bunga dari Federal Reserve AS. Tapi, FTSE 100 Inggris menguat hingga mencapai titik tertinggi sepanjang masa.
Baca Juga
Pasar Eropa Menguat, Investor Pantau Arah Kebijakan The Fed dan Pertemuan Trump-Xi
Dikutip dari CNBC, indeks pan-Eropa Stoxx 600 ditutup turun 0,3% setelah bel penutupan di London, dengan sebagian besar bursa utama berada di zona merah. Sektor saham yang menguat adalah sektor utilitas—yang sering dianggap sebagai investasi relatif stabil di tengah volatilitas pasar—naik 1%. Saham pertambangan yang terkait dengan mineral penting dan logam tanah jarang juga menutup sesi dengan kenaikan 1%.
Indeks IBEX 35 Spanyol, yang sejak awal tahun telah naik hampir 40% dalam reli bullish, sempat menyentuh rekor tertinggi yang terakhir dicapai pada 2007 pada Selasa pagi. Indeks itu berakhir 0,5% lebih tinggi.
Sementara itu, FTSE 100 Inggris menguat sepanjang sesi hingga mencapai titik tertinggi sepanjang masa, menembus 9.700 poin. Indeks FTSE 100 ditutup naik 0,4%.
Pergerakan pada Selasa menandai pembalikan arah dari sesi sebelumnya, di mana saham sempat menguat karena harapan mencairnya ketegangan perdagangan AS-Tiongkok. Presiden Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dijadwalkan bertemu di Korea Selatan pada Kamis.
Kedua pihak tampak berada dalam suasana yang lebih bersahabat, setelah menyepakati kerangka kesepakatan dagang potensial yang mencakup pembatasan ekspor logam tanah jarang oleh Tiongkok, pembelian kedelai, dan aplikasi TikTok.
Baca Juga
AS-China Capai Konsensus Awal Soal Mineral Kritis dan Perang Tarif Jelang Pertemuan Trump-Xi
“Saya sangat menghormati Presiden Xi, dan kami akan pulang dengan membawa kesepakatan,” kata Trump pada Senin. Kedua pemimpin dijadwalkan bertemu di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC).
Pada level saham individual, Philips anjlok 6% setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) mengeluarkan peringatan terhadap standar di tiga fasilitas produksinya.
Saham Novartis turun 4,1% menjelang akhir sesi setelah raksasa farmasi asal Swiss itu melaporkan kinerja keuangan untuk tiga bulan hingga September. Penjualan kuartal ketiga dalam mata uang konstan naik 7% dari tahun sebelumnya, sementara laba bersih melonjak 25% menjadi 3,9 miliar dolar AS. Para analis sebelumnya memperkirakan laba bersih akan mencapai 4,4 miliar dolar, menurut konsensus yang dihimpun oleh LSEG.
Di sektor jasa keuangan, saham BNP Paribas turun 3,5% setelah bank asal Prancis itu melaporkan laba pra-pajak grup sebesar 4,28 miliar euro, mengalahkan perkiraan analis sebesar 3,44 miliar euro. Pendapatan bank selama periode tersebut mencapai hampir 12,6 miliar euro, sedikit di bawah proyeksi analis sebesar 12,8 miliar euro. Laporan keuangan kuartal ketiga BNP juga menyoroti adanya “situasi kredit spesifik” yang meningkatkan biaya risiko di divisi Pasar Global.
Saham HSBC yang tercatat di London naik 4,6% setelah laba kuartal ketiganya melampaui ekspektasi.
Di sisi lain, Financial Times melaporkan pada Selasa bahwa Kantor Tanggung Jawab Anggaran (OBR) Inggris diperkirakan akan memangkas proyeksi pertumbuhan produktivitas lebih dalam dari perkiraan—yang dapat menambah defisit keuangan publik negara itu sebesar 20 miliar pound (26,6 miliar dolar). Menteri Keuangan Rachel Reeves kini tengah berupaya menambal kekurangan fiskal yang bisa mencapai 50 miliar pound saat ia menyampaikan Anggaran Musim Gugur bulan depan.
Pound sterling Inggris melemah pada Selasa, turun sekitar 0,5% terhadap dolar AS maupun euro.
Peristiwa besar bagi investor minggu ini adalah pertemuan dua hari The Fed yang dimulai Selasa. Pasar kini memperkirakan peluang 96% bahwa bank sentral AS akan mengumumkan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pekan ini, menurut alat pantauan CME Fedwatch.
Para pelaku pasar juga berharap Ketua Fed Jerome Powell memberi sinyal pada Rabu bahwa pemangkasan tambahan akan dilakukan dalam pertemuan terakhir tahun ini pada Desember, di tengah kekhawatiran terhadap pelemahan pasar tenaga kerja.
The Fed saat ini menghadapi kekosongan data ekonomi karena penutupan pemerintahan AS yang masih berlangsung, dengan laporan inflasi pekan lalu menjadi salah satu dari sedikit data yang baru dirilis.

