Pasar Asia Menguat, Kospi Korea Selatan Cetak Rekor Tertinggi
Poin Penting
|
SEOUL, investortrust.id - Indeks Kospi Korea Selatan ditutup pada rekor tertinggi pada Kamis (16/10/2025), setelah Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan negara tersebut untuk tahun 2025 menjadi 0,9% dari 0,8%.
Dalam laporan prospek Oktober, IMF juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global, dengan menyebut dampak tarif Amerika Serikat berada “pada batas bawah dari kisaran dampak yang mungkin.”
Baca Juga
IMF Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Global ke 3,2%, tapi Perang Dagang Masih Menghantui
IMF menyebut beberapa alasan untuk peningkatan proyeksi tersebut, termasuk ketangkasan sektor swasta yang mempercepat impor pada paruh pertama tahun ini dan dengan cepat menata ulang rantai pasok untuk mengalihkan arus perdagangan, kesepakatan dagang antara AS dan negara lain, serta sikap menahan diri dari banyak negara yang pada umumnya menjaga sistem perdagangan global tetap terbuka.
Saham-saham Korea Selatan juga terdorong setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan dalam wawancara dengan CNBC pada Rabu waktu setempat bahwa Washington “hampir menyelesaikan” negosiasi perdagangan dengan negara Asia itu.
“Kami sedang merapikan detail-detailnya,” ujar Bessent.
Sektor otomotif, elektronik, dan peralatan industri memimpin kenaikan di indeks Kospi. Saham Samsung Electronics naik 2,84% ke rekor tertinggi, sementara Hyundai Motor bertambah lebih dari 8%. Kia juga menguat 7,23%.
Kospi Korea Selatan melonjak 2,49% dan ditutup di 3.748,37, sementara indeks saham kecil Kosdaq ditutup datar di 865,41.
Saham SK Inc., salah satu konglomerat teknologi terbesar di Korea Selatan, turun lebih dari 5% setelah Mahkamah Agung pada Kamis sebagian membatalkan putusan sebelumnya mengenai penyelesaian perceraian Ketua Chey Tae-won, menurut laporan media lokal.
Tahun lalu, pengadilan tingkat lebih rendah memerintahkan Chey untuk membayar sekitar USD 1 miliar kepada istrinya yang terpisah dalam kasus perceraian profil tinggi tersebut.
Sementara itu, saham produsen chip SK Hynix ditutup naik 7,1%.
Australia Cetak Rekor Baru
Indeks ASX/S&P 200 Australia naik ke rekor baru setelah tingkat pengangguran musiman negara itu melonjak ke level tertinggi hampir empat tahun pada September di 4,5%. Angka tersebut dibandingkan dengan perkiraan 4,3% oleh ekonom yang disurvei Reuters dan 4,2% pada Agustus. Indeks naik 0,86% dan ditutup di 9.068,4.
Sementara itu, jumlah lapangan kerja naik 14.900 pada September, di bawah ekspektasi kenaikan 20.000. Data ketenagakerjaan yang lemah membuka jalan bagi pemangkasan suku bunga lebih lanjut.
Indeks acuan Nikkei 225 Jepang melonjak 1,27% dan ditutup di 48.277,74, sementara indeks Topix naik 0,62% ke 3.203,42.
Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup datar di 25.888,51, sementara indeks Hang Seng Tech turun 1,18% ke 6.003,56. Indeks CSI 300 daratan Tiongkok naik 0,26% dan ditutup di 4.618,42.
Saham Nio yang terdaftar di Hong Kong anjlok 9% setelah dana kekayaan negara Singapura menggugat pembuat mobil listrik Tiongkok itu karena diduga melanggar undang-undang sekuritas dengan memanipulasi pendapatan.
Gugatan tersebut menyebut CEO Nio Li Bin dan mantan Direktur Keuangan Feng Wei sebagai terdakwa, menurut dokumen pengadilan yang diajukan pada Agustus di Pengadilan Distrik Selatan New York.
Indeks acuan Nifty 50 India serta BSE Sensex masing-masing naik 0,85% pada pukul 14.00 waktu setempat.
Futures saham AS sedikit lebih tinggi setelah bank-bank besar melaporkan hasil keuangan yang melampaui ekspektasi, sementara penutupan sebagian pemerintahan Washington memasuki minggu ketiga dan ketegangan perdagangan dengan Tiongkok terus berlanjut.
Baca Juga
Kinerja Bank Raksasa AS Topang Wall Street di Tengah Gejolak Perang Dagang
Indeks Dow Jones Industrial Average berakhir nyaris tak berubah, turun 17,15 poin atau 0,04% ke 46.253,31. Pada satu titik di hari itu, indeks berisi 30 saham tersebut sempat naik hingga 422,88 poin.
S&P 500 naik 0,4% ke 6.671,06 setelah sempat menguat hingga 1,2% dalam perdagangan intraday. Nasdaq Composite berakhir naik 0,7% di 22.670,08 setelah sempat melonjak hingga 1,4%.

