Kinerja Bank Raksasa AS Topang Wall Street di Tengah Gejolak Perang Dagang
Poin Penting
- Indeks S&P 500 naik 0,4% didorong kinerja kuat Bank of America dan Morgan Stanley di awal musim laporan laba.
- Volatilitas pasar meningkat karena ancaman baru Trump terhadap China dan berlanjutnya penutupan sebagian pemerintahan AS.
- Indeks VIX kembali naik ke atas 20, mencerminkan tingginya ketegangan di pasar.
- Ekonom menilai investor menunggu kepastian lebih lanjut dari laporan laba perusahaan dan sinyal politik dari Washington serta Beijing.
NEW YORK, investortrust.id – Saham di Bursa AS sebagian besar menguat pada pada Rabu waktu AS atau Kamis (16/10/2025) WIB. Indeks S&P 500 kembali ke zona hijau, didukung laporan laba spektakuler dari Bank of America dan Morgan Stanley. Kekhawatiran berkelanjutan atas negosiasi perdagangan AS-China dan penutupan sebagian pemerintahan membebani sentimen investor, namun tertutupi oleh antusiasme terhadap awal musim laporan keuangan yang lebih baik dari perkiraan.
Baca Juga
Pasar Saham AS Bergejolak, Trump Kembali Kobarkan Perang Dagang
Indeks Dow Jones Industrial Average berakhir turun tipis 17,15 poin atau 0,04% di 46.253,31 setelah sempat naik 422,88 poin di siang hari. S&P 500 naik 0,4% ke 6.671,06, setelah sempat menguat hingga 1,2% dalam perdagangan intraday. Nasdaq Composite menguat 0,7% ke 22.670,08, sempat melonjak 1,4% sebelumnya.
Saham-saham mendapat dorongan dari hasil laba kuat Bank of America dan Morgan Stanley. Saham Bank of America naik 4,4%, sementara Morgan Stanley melonjak 4,7%.
“Bank-bank raksasa berhasil mencetak kinerja luar biasa, melampaui ekspektasi laba dan pendapatan. Itu menunjukkan ekonomi tetap kuat, dan dengan kemungkinan The Fed kembali memangkas suku bunga di akhir bulan ini, optimisme investor semakin meningkat,” urai Sam Stovall, kepala strategi investasi di CFRA Research, kepada CNBC.
Namun volatilitas masih tinggi. Investor tetap waspada karena ketegangan dagang global meningkat. Indeks Volatilitas Cboe (VIX), dikenal sebagai “pengukur ketakutan Wall Street,” naik ke 20,6 di sore hari, setelah pekan lalu mencapai 21,6 — level tertinggi sejak akhir Mei.
Saham raksasa AI Nvidia sempat naik 2,7% namun ditutup turun tipis 0,1%.
S&P 500 sempat mencoba rebound pada Selasa namun gagal dan berakhir melemah setelah Trump mengancam embargo minyak goreng terhadap China sebagai pembalasan karena tidak membeli kedelai AS. Sebelumnya, Trump juga mengancam menambah tarif 100% terhadap seluruh barang dari China setelah Beijing memperketat kontrol ekspor mineral tanah jarang.
Menteri Keuangan Scott Bessent pada Rabu menyatakan, volatilitas yang dipicu perang dagang tidak membuat pejabat pemerintah mundur dari negosiasi keras dengan China. “Kami tidak akan bernegosiasi karena pasar saham turun. Kami akan bernegosiasi karena ini yang terbaik bagi ekonomi AS,” tegas Bessent.
Penutupan sebagian pemerintahan AS yang telah memasuki minggu ketiga turut menambah ketidakpastian. Akibatnya, publikasi data ekonomi penting dari lembaga federal dihentikan tanpa batas waktu, menciptakan kekosongan informasi bagi pelaku pasar.
Baca Juga
‘Shutdown’ Pemerintah AS, 750 Ribu Pegawai Terancam Tanpa Gaji
“Investor tampaknya belum siap mendorong indeks saham ke rekor baru untuk saat ini, mereka menunggu lebih banyak laporan laba dan pernyataan dari Washington atau Beijing,” ujar Jose Torres, ekonom senior di Interactive Brokers. Tingkat volatilitas yang tetap tinggi menunjukkan potensi pergerakan tajam ke dua arah, seiring pelaku pasar mencari berita yang bisa memengaruhi sentimen dan perilaku pengambilan risiko.

