Misi Flotilla Gagal, Indonesia Tetap Kirim Bantuan ke Gaza
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketegangan diplomatik meningkat setelah pasukan Israel mencegat konvoi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) yang berupaya menembus blokade laut Gaza. Lebih dari 400 aktivis dari berbagai negara, termasuk relawan Indonesia, ditangkap dan kemudian dideportasi. Namun, di balik kegagalan misi itu, Indonesia tetap menjadi salah satu negara yang konsisten mengirimkan bantuan bagi warga Palestina - meski jalur laut dan darat praktis tertutup.
Baca Juga
Komisi I DPR Kecam Israel yang Cegat dan Tangkap Aktivis Global Sumud Flotilla
Dalam kesaksiannya usai kembali ke Tanah Air, aktivis dan politisi Wanda Hamidah menyebut bahwa dirinya telah “menghibahkan nyawa” demi membuka blokade Gaza. Bersama Muhammad Fatur Rohman dari Aqsa Working Group (AWG), keduanya mewakili Indonesia dalam konvoi tersebut. Mereka berangkat dari Tunisia dan sempat menanti berhari-hari di pelabuhan Sisilia, Italia, sebelum akhirnya misi mereka dibatalkan karena tidak ada lagi kapal yang diizinkan berlayar.
“Kami sudah siap dengan segala risiko, bahkan jika harus dipenjara oleh Israel,” ujar Wanda di Jakarta, seperti dikutip Antara. “Yang kami lakukan untuk membangunkan kesadaran bahwa Palestina harus dibebaskan dari penjajahan.”
Kesaksian para aktivis internasional yang ikut dalam armada itu menggambarkan perlakuan keras aparat Israel. Mereka mengaku diintimidasi, dipukul, bahkan dipaksa minum air dari toilet selama penahanan. Namun Israel membantah seluruh tuduhan tersebut dan menyebut laporan-laporan itu sebagai “kebohongan terang-terangan”.
Perlakuan Buruk
Dilansir Al Jazeera, tuduhan terbaru yang disampaikan oleh peserta Global Sumud Flotilla Minggu (5/10/2025), menambah sorotan terhadap Israel atas perlakuannya pada para aktivis.
Lebih dari 400 peserta dalam armada GSF ditangkap antara Rabu dan Jumat saat pasukan Israel mencegat kapal-kapal yang berusaha menembus blokade laut Gaza dan mengirim sejumlah simbolis bantuan ke warga Palestina di wilayah terkepung itu.
Berbicara di Bandara Fiumicino Roma setelah tiba pada Minggu, aktivis Italia Cesare Tofani mengatakan, “Kami diperlakukan dengan sangat buruk... Dari tentara, kami diserahkan ke polisi. Ada pelecehan,” lapor kantor berita ANSA.
Yassine Lafram, presiden Uni Komunitas Islam Italia, yang tiba di Bandara Malpensa Milan bersama para aktivis, mengatakan kepada surat kabar Corriere della Sera: “Mereka bahkan memperlakukan kami dengan kekerasan, menodongkan senjata kepada kami, dan ini sama sekali tidak bisa diterima bagi kami di negara yang menganggap dirinya demokratis.”
Jurnalis Italia Saverio Tommasi, yang tiba di Bandara Fiumicino Sabtu malam, mengatakan tentara Israel menahan obat-obatan dan memperlakukan para aktivis yang ditahan “seperti monyet,” lapor Associated Press.
Ia mengatakan para penjaga Israel mengejek para aktivis yang ditahan — termasuk aktivis iklim Swedia Greta Thunberg, cucu Nelson Mandela Mandla Mandela, dan beberapa anggota parlemen Eropa — untuk “menghina, menertawakan, dan mempermalukan dalam situasi yang sama sekali tidak lucu.”
Jurnalis Italia Lorenzo D’Agostino mengatakan barang-barang dan uangnya telah “dicuri oleh orang Israel.”
Berbicara kepada AP setelah tiba di Bandara Istanbul, Turki, usai dideportasi dari Israel pada Sabtu, ia mengatakan para aktivis juga diintimidasi dengan anjing dan oleh tentara yang menodongkan sinar laser senjata ke arah tahanan “untuk menakuti kami.”
Aktivis lain, Paolo De Montis, melaporkan mengalami “stres dan penghinaan terus-menerus” oleh para penjaga, yang menahannya di dalam mobil tahanan selama berjam-jam dengan tangan diikat tali plastik.
“Kami tidak diizinkan menatap wajah mereka, harus selalu menunduk, dan ketika saya mendongak, seorang pria datang, mengguncang saya dan menampar bagian belakang kepala saya,” katanya kepada AP. “Mereka memaksa kami berlutut selama empat jam.”
Secara terpisah, dua saudara perempuan asal Malaysia yang juga penyanyi dan aktris, Heliza Helmi dan Hazwani Helmi, menggambarkan perlakuan “brutal” dan “kejam” saat ditahan oleh pasukan Israel.
“Bayangkan kami harus minum air dari toilet? Beberapa orang sangat, sangat sakit, tetapi mereka [Israel] berkata: ‘Apakah mereka mati? Kalau tidak, itu bukan urusan saya,’” kata Hazwani kepada kantor berita Anadolu setelah tiba di Istanbul pada Sabtu. “Mereka sangat kejam.”
Heliza juga mengatakan dirinya tidak makan selama berhari-hari. “Saya makan pada 1 Oktober. Hari ini makanan pertama saya,” katanya pada Sabtu. “Jadi selama tiga hari saya tidak makan – hanya minum air dari toilet.”
Para aktivis yang dideportasi dari armada sebelumnya juga menuturkan perlakuan buruk terhadap Thunberg, salah satu anggota paling terkenal dari misi itu, termasuk “diseret di tanah,” “dipaksa mencium bendera Israel,” dan “dijadikan alat propaganda.”
“Kebohongan Terang-terangan”
Kementerian Luar Negeri Israel dan Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben-Gvir memberikan tanggapan yang saling bertentangan terhadap tuduhan para aktivis. Kementerian menegaskan bahwa cerita-cerita tentang perlakuan buruk itu adalah “kebohongan terang-terangan,” sementara Ben-Gvir mengatakan ia “bangga” atas perlakuan keras terhadap para tahanan di penjara Ketziot.
“Saya bangga kami memperlakukan ‘aktivis armada’ sebagai pendukung terorisme. Siapa pun yang mendukung terorisme adalah teroris dan pantas mendapat perlakuan seperti teroris,” katanya dalam pernyataan.
“Jika ada di antara mereka yang berpikir mereka akan datang ke sini dan disambut karpet merah dan terompet – mereka salah besar,” kata Ben-Gvir, yang difilmkan sedang mengejek para aktivis saat mereka dibawa ke darat.
“Mereka seharusnya merasakan betul kondisi di penjara Ketziot dan berpikir dua kali sebelum mendekati Israel lagi.” Sebaliknya, Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan bahwa klaim perlakuan buruk terhadap Thunberg dan aktivis armada lainnya adalah “kebohongan.”
Bantuan Indonesia
Meski misi laut gagal, Indonesia tetap melanjutkan pengiriman bantuan kemanusiaan melalui jalur lain, termasuk udara dan lembaga internasional seperti World Food Programme (WFP).
Pada 17 Agustus 2025, bertepatan dengan peringatan kemerdekaan RI, Indonesia melakukan airdrop 17,8 ton barang kemanusiaan berupa makanan siap saji, obat-obatan, selimut, dan pakaian ke 10 titik aman di Gaza.
Baca Juga
Prabowo Bakal Kirim 20.000 Pasukan Perdamaian ke Gaza, Menkomdigi: Bukti Indonesia Takkan Diam
Setelah itu, misi lanjutan juga dijalankan. Hingga laporan per 28 Agustus 2025, total 91,4 ton barang telah didrop oleh TNI ke wilayah Gaza.
Dalam operasi tersebut, pesawat C-130 Hercules milik TNI digunakan sebagai pesawat pengangkut bantuan yang dilepas lewat udara (parasut) di kawasan yang dinilai “aman” atau cukup jauh dari konflik langsung.
Pada 26 September 2025, Indonesia berjanji memberikan bantuan pangan senilai US$ 12 juta kepada rakyat Gaza melalui World Food Programme. Paket ini termasuk rencana pengiriman 10.000 ton beras sebagai bagian dari program bantuan pangan.
Pemerintah menyebut bahwa mekanisme penyaluran lewat WFP adalah opsi terbaik mengingat situasi keamanan dan hambatan akses langsung oleh darat.
Pengiriman bantuan ke Gaza mengalami banyak hambatan. Laporan menyebut bahwa pengiriman bantuan lewat darat ke Gaza sangat sulit karena izin dari Israel menjadi syarat utama, sehingga sebagian besar bantuan disimpan di Mesir menunggu giliran untuk melewati perbatasan.
Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) menyebut memiliki 700 ton barang bantuan yang masih berada di Mesir, siap dikirim jika rute darat dibuka.

