Trump Tegaskan Israel Tidak Akan Diizinkan Menganeksasi Tepi Barat
Poin Penting
|
WASHINGTON, Investortrust.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dengan tegas bahwa dirinya tidak akan mengizinkan Israel untuk menganeksasi wilayah Tepi Barat. Pernyataan ini disampaikannya sebagai tanggapan atas desakan sejumlah politisi sayap kanan Israel yang ingin memperluas kedaulatan Israel ke wilayah tersebut dan menghapus kemungkinan terbentuknya negara Palestina.
"Saya tidak akan mengizinkan Israel untuk mencaplok Tepi Barat. Tidak, saya tidak akan membiarkannya. Itu tidak akan terjadi," ujar Trump kepada para wartawan di Gedung Oval, Kamis (25/9/2025). Ia menambahkan, "Ini sudah cukup. Saatnya berhenti," seperti dikutip Koreatimes.co.kr, Jumat (26/9/2025).
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional, terutama setelah beberapa negara seperti Prancis, Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal dalam beberapa hari terakhir mengakui keberadaan negara Palestina. Langkah ini dilakukan untuk menjaga peluang solusi dua negara tetap hidup. Israel sendiri mengecam keputusan tersebut.
Komentar Trump disampaikan saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tiba di New York untuk berpidato di hadapan Majelis Umum PBB pada Jumat. Kantor Netanyahu menyatakan bahwa ia akan menanggapi pernyataan Trump setelah kembali ke Israel.
Sejak Israel merebut Tepi Barat dalam perang tahun 1967, pembangunan permukiman Israel terus berkembang, baik dari segi jumlah maupun ukuran. Permukiman ini tersebar luas dan didukung infrastruktur di bawah kendali Israel, yang semakin membelah wilayah yang diinginkan Palestina untuk negara masa depan mereka. Salah satu rencana pembangunan permukiman yang paling kontroversial, yaitu Proyek E1, mendapat persetujuan akhir pada Agustus lalu. Proyek ini akan memotong Tepi Barat dan memutus akses ke Yerusalem Timur, yang sangat penting bagi Palestina.
Baca Juga
Prabowo: Perdamaian Palestina-Israel Takkan Datang Tanpa Jaminan Keamanan
Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich, seorang ultra-nasionalis yang merupakan bagian dari koalisi sayap kanan pendukung Netanyahu, sebelumnya menyatakan bahwa keberadaan negara Palestina kini "telah dihapus dari meja perundingan."
Negara-negara Arab dan Muslim telah memperingatkan Trump tentang konsekuensi serius jika aneksasi Tepi Barat benar-benar terjadi. Peringatan ini disampaikan dalam pertemuan dengan Trump di sela-sela Sidang Umum PBB awal pekan ini. Menurut Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al-Saud, pesan tersebut dipahami dengan sangat baik oleh Trump.
Saat ini, sekitar 700.000 pemukim Israel tinggal di antara 2,7 juta warga Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur—yang dianeksasi Israel namun tidak diakui oleh sebagian besar negara di dunia.
Israel menolak melepaskan kendali atas Tepi Barat, apalagi setelah peristiwa serangan Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang. Dari jumlah itu, sekitar 48 orang masih ditahan, dengan 20 di antaranya diyakini masih hidup.
Sebagian besar komunitas internasional menganggap permukiman Israel di Tepi Barat melanggar hukum internasional. Namun Israel membantah hal tersebut, dengan menyatakan bahwa mereka memiliki ikatan sejarah dan religius dengan wilayah itu serta bahwa permukiman memberi kedalaman strategis dan keamanan nasional.
Sementara itu, di tengah berlangsungnya Sidang Umum PBB, Amerika Serikat mempresentasikan rencana perdamaian Timur Tengah berisi 21 poin untuk mengakhiri perang hampir dua tahun di Gaza antara Israel dan kelompok militan Hamas. Rencana ini dibagikan kepada perwakilan dari Arab Saudi, UEA, Qatar, Mesir, Yordania, Turki, Indonesia, dan Pakistan oleh utusan khusus AS Steve Witkoff.
Trump mengatakan bahwa dirinya telah berbicara dengan para pemimpin dari negara-negara Timur Tengah serta Netanyahu, dan menyebut bahwa kesepakatan damai mengenai Gaza mungkin akan segera tercapai. “Kami ingin para sandera dikembalikan, jenazah dikembalikan, dan kami ingin perdamaian di kawasan itu. Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat baik,” ujarnya.
Namun demikian, Israel saat ini menghadapi kecaman global atas operasi militer mereka di Gaza yang sudah berlangsung hampir dua tahun tanpa adanya gencatan senjata. Perang ini telah menyebabkan kehancuran besar dan menewaskan lebih dari 65.000 warga Palestina, menurut otoritas kesehatan lokal.
Sebuah lembaga pemantau kelaparan global juga menyatakan bahwa sebagian wilayah Gaza saat ini mengalami kelaparan.
Di lapangan, pasukan Israel semakin dalam memasuki Kota Gaza pada Kamis, dan serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 19 orang di berbagai lokasi, menurut laporan otoritas kesehatan setempat.
Sementara itu, upaya internasional untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan terus berlangsung. Israel kian terisolasi karena tekanan global meningkat. Italia dan Spanyol pada Kamis mengirimkan kapal angkatan laut untuk membantu armada bantuan internasional yang diserang drone saat mencoba menembus blokade laut Israel atas Gaza. Armada bernama Global Sumud Flotilla ini terdiri dari sekitar 50 kapal sipil yang bertujuan menyalurkan bantuan ke Gaza.

