Korban Tewas di Gaza Tembus 65.000, Serangan Israel Makin Brutal
Poin Penting
- Israel membuka jalur evakuasi tambahan selama 48 jam, namun serangan darat di Kota Gaza terus berlanjut.
- Korban jiwa Palestina melampaui 65.000, dengan angka sebenarnya diyakini lebih tinggi karena banyak jenazah tertimbun reruntuhan.
- PBB menuduh Israel melakukan genosida, sementara Netanyahu menegaskan akan menyerang pemimpin Hamas di mana pun berada.
- Krisis kemanusiaan memburuk: ratusan ribu warga terjebak, rumah sakit anak terkena serangan drone, dan pengungsian massal menimbulkan kekhawatiran kelaparan di selatan Gaza.
JERUSALEM, investortrust.id – Israel membuka jalur tambahan selama 48 jam bagi warga Palestina untuk keluar dari Kota Gaza. Langkah ini diambil di tengah intensifnya serangan darat yang bertujuan merebut pusat kota utama dari kendali Hamas. Namun, di balik langkah evakuasi ini, korban jiwa terus bertambah, dengan total lebih dari 65.000 orang tewas sejak perang dimulai pada Oktober 2023.
Baca Juga
Dokter Temukan Pola Luka Tembak Mengejutkan pada Anak-Anak di Gaza
Seperti dilansir Reuters, ratusan ribu orang masih berlindung di kota itu dan banyak yang enggan mengikuti perintah Israel untuk pindah ke selatan. Alasannya, bahaya di sepanjang jalan, kondisi yang parah, kekurangan makanan di wilayah selatan, serta ketakutan akan pengungsian permanen.
“Jika kami ingin meninggalkan Kota Gaza, adakah jaminan kami bisa kembali? Akankah perang ini pernah berakhir? Karena itu saya lebih memilih mati di sini, di Sabra, lingkungan saya,” kata Ahmed, seorang guru, lewat telepon.
Sedikitnya 63 orang tewas akibat serangan dan tembakan Israel di seluruh Jalur Gaza pada Rabu (17/9/2025), sebagian besar di Kota Gaza, menurut otoritas kesehatan setempat. Mereka mengatakan jumlah korban terbaru membuat total korban tewas Palestina dalam perang dua tahun antara Israel dan Hamas melampaui 65.000. Pejabat Palestina dan tim penyelamat menyebut angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena banyak jenazah masih terperangkap di bawah reruntuhan bangunan yang hancur.
Di antara korban tewas terdapat 13 orang, termasuk jurnalis TV lokal Mohammad Alaa Al-Sawalhi, yang menurut petugas medis sedang mematuhi perintah untuk meninggalkan Kota Gaza.
Lima orang lainnya tewas dan puluhan luka-luka akibat tembakan Israel di dekat lokasi bantuan di Rafah, kata pejabat kesehatan setempat. Militer Israel mengatakan pasukan telah melepaskan tembakan peringatan untuk mengatasi “ancaman langsung.”
Perang ini dipicu oleh serangan yang dipimpin Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya, menurut data Israel.
Tank Merangsek
Israel memperkirakan sekitar 400.000 orang, atau 40% dari jumlah warga yang berada di Kota Gaza pada 10 Agustus — ketika diumumkan rencana pengambilalihan kota — telah melarikan diri. Kantor media Gaza menyebut 190.000 menuju ke selatan dan 350.000 bergerak ke wilayah tengah dan barat kota.
Sehari setelah Israel mengumumkan dimulainya serangan darat untuk merebut pusat kota utama Gaza, tank-tank bergerak jarak pendek ke arah tengah dan barat kota dari tiga arah, tetapi belum ada kemajuan besar yang dilaporkan.
Seorang pejabat Israel mengatakan operasi militer difokuskan untuk memaksa warga sipil menuju selatan dan pertempuran akan meningkat dalam satu hingga dua bulan ke depan.
Pejabat itu menyebut Israel memperkirakan sekitar 100.000 warga sipil akan tetap berada di kota, yang akan memakan waktu berbulan-bulan untuk direbut, dan operasi bisa ditangguhkan jika gencatan senjata tercapai dengan kelompok militan Hamas.
Namun, prospek gencatan senjata tampak jauh setelah Israel menyerang para pemimpin politik Hamas di Doha pekan lalu, memicu kemarahan Qatar, salah satu mediator utama dalam pembicaraan gencatan senjata.
Menentang kritik global, termasuk teguran dari sekutu dekat Israel, Amerika Serikat, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel akan menyerang pemimpin Hamas di mana pun berada.
Drone Serang RS Anak
Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas mengatakan sebuah drone Israel menjatuhkan granat ke salah satu lantai Rumah Sakit Anak Rantissi pada Rabu. Tidak ada korban jiwa, tetapi kementerian menyebut sekitar 40 keluarga membawa anak-anak mereka pergi.
“Rumah sakit ini adalah satu-satunya fasilitas khusus bagi anak-anak dengan kanker, gagal ginjal, dan kondisi yang mengancam nyawa lainnya — namun bahkan anak-anak yang sakit parah ini tidak luput dari bombardir tanpa henti,” kata Fikr Shalltoot, Direktur Gaza di lembaga amal Inggris Medical Aid for Palestinians.
Militer Israel tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Dalam selebaran yang dijatuhkan di atas Kota Gaza, militer menyatakan warga Palestina dapat menggunakan Jalan Salahudin yang baru dibuka kembali untuk menuju selatan, dan mereka memiliki waktu hingga Jumat siang untuk melakukannya.
Namun, situasi tetap kacau dan berbahaya bagi warga sipil, yang dalam beberapa hari terakhir telah mengungsi dengan berjalan kaki, kereta keledai, atau kendaraan.
Sebagian besar Kota Gaza telah hancur pada awal perang tahun 2023, tetapi sekitar 1 juta warga Palestina kembali ke rumah-rumah di antara reruntuhan. Memaksa mereka keluar berarti memindahkan sebagian besar populasi Gaza ke kamp-kamp penuh sesak di selatan, di mana krisis kelaparan tengah berlangsung.
Kecaman Internasional
Perserikatan Bangsa-Bangsa, kelompok bantuan, dan pemerintah asing telah mengecam serangan Israel serta rencana pengungsian massal.
Sebagai tanggapan terpisah terhadap konflik Gaza secara umum, sebuah Komisi Penyelidikan PBB pada Selasa menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan genosida di Gaza. Israel menyebut penilaian itu “memalukan” dan “palsu.”
Pasukan Israel menguasai pinggiran timur Kota Gaza dan terus menggempur tiga area di tenggara, utara, dan wilayah pesisir barat laut kota, dari mana tank-tank bergerak ke arah pusat dan barat.
“Gaza sedang dihapuskan. Kota yang berusia ribuan tahun sedang dihapuskan di depan seluruh dunia yang pengecut,” kata Ahmed, sang guru.
Baca Juga
Curigai ‘Tipu daya’ Israel, Hamas Tolak Rencana Relokasi Gaza
Di kamp pengungsi Nuseirat di pusat wilayah, sebuah serangan udara menghancurkan gedung tinggi pada Rabu, membuat penduduk bangunan di sekitarnya panik melarikan diri.
Pejabat Palestina dan PBB menyebutkan tidak ada tempat yang aman, termasuk di wilayah selatan yang ditetapkan Israel sebagai “zona kemanusiaan.” Pada Selasa, sebuah serangan udara menewaskan lima orang di dalam kendaraan saat mereka meninggalkan Kota Gaza menuju selatan.

