Inflasi Produsen AS Meningkat Tajam seiring Lonjakan Harga Barang dan Jasa
Poin Penting
- PPI Juli melonjak 0,9%, tertinggi sejak 2022.
- Lonjakan harga dipicu sektor jasa dan pangan.
- Tarif impor Trump mulai tekan harga domestik.
- BLS hentikan 350 indeks karena kekurangan dana.
WASHINGTON, investortrust.id – Harga produsen AS naik tajam pada Juli, tertinggi dalam tiga tahun, seiring lonjakan biaya barang dan jasa. Ini menandakan potensi percepatan inflasi yang dapat menjadi dilema bagi Federal Reserve.
Baca Juga
Laporan inflasi produsen yang lebih kuat dari perkiraan ini disampaikan Departemen Tenaga Kerja pada Kamis (14/8/2025), setelah data sebelumnya pekan ini menunjukkan konsumen membayar lebih untuk jasa seperti perawatan gigi dan tarif penerbangan bulan lalu. Tidak ada tanda pelemahan lebih lanjut di pasar tenaga kerja pada awal Agustus.
Ekonom sebelumnya berharap kenaikan harga jasa yang moderat dapat meredam dampak inflasi dari kenaikan harga barang akibat tarif impor besar-besaran Presiden Donald Trump.
Bank sentral AS memberi perhatian lebih pada inflasi jasa karena perekonomian AS berorientasi pada sektor ini. Meskipun pasar keuangan tetap memperkirakan The Fed akan melanjutkan pemangkasan suku bunga pada September, sebagian ekonom menyerukan kehati-hatian.
“Ini adalah tamparan keras bagi siapa pun yang mengira tarif tidak akan berdampak pada harga domestik di Amerika Serikat,” ujar Carl Weinberg, Kepala Ekonom High Frequency Economics, dikutip dari Reuters. Laporan ini sangat mendukung sikap wait-and-see The Fed terhadap perubahan kebijakan.
Indeks harga produsen untuk permintaan akhir melonjak 0,9% bulan lalu—kenaikan terbesar sejak Juni 2022—setelah tidak berubah pada Juni, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS). Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan kenaikan PPI sebesar 0,2%.
Kenaikan 1,1% pada biaya jasa menyumbang lebih dari tiga perempat lonjakan PPI secara keseluruhan. Ini adalah kenaikan harga jasa terbesar sejak Maret 2022, setelah penurunan 0,1% pada Juni. Lebih dari setengah kenaikan tersebut dipicu oleh lonjakan 2,0% pada margin perdagangan, termasuk untuk grosir mesin dan peralatan.
Biaya pengelolaan portofolio melonjak 5,8% seiring reli pasar saham. Tarif kamar hotel dan motel naik kembali 3,1%, sementara tarif penerbangan meningkat 1,0%. Biaya angkutan barang lewat darat naik 1,0%.
Harga barang melonjak 0,7% setelah naik 0,3% di Juni. Lonjakan 1,4% harga pangan menyumbang 40% dari kenaikan harga barang. Harga pangan didorong percepatan 38,9% biaya sayuran segar dan kering. Petani melaporkan kekurangan tenaga kerja karena pemerintahan Trump melakukan penangkapan besar-besaran terhadap imigran ilegal.
Harga daging sapi grosir naik 4,6%, sementara harga telur melonjak 7,3%. Harga kopi naik 1,1%. Tidak termasuk pangan dan energi, harga barang naik 0,4%, dengan kenaikan tajam pada baja, aluminium, dan logam nonferrous primer. Juga terdapat kenaikan harga signifikan pada peralatan elektronik rumah tangga, perlengkapan olahraga, dan barang atletik.
Secara tahunan hingga Juli, PPI naik 3,3% setelah meningkat 2,4% pada Juni. Ekonom mengatakan data ini menunjukkan bisnis tidak sepenuhnya menyerap kenaikan biaya akibat tarif, seperti yang diasumsikan sebagian pihak setelah kenaikan ringan harga konsumen pada Juli.
“Bukti tetap jelas bahwa harga sejumlah barang tahan lama diteruskan kepada konsumen. Jika data ini tidak berubah dalam revisi berikutnya, ini menunjukkan adanya kenaikan harga di tingkat grosir yang akan memakan waktu lebih lama sebelum sampai ke konsumen,” urai Michael Hanson, Ekonom J.P. Morgan.
Saham di Wall Street melemah. Dolar menguat terhadap sekeranjang mata uang. Imbal hasil obligasi AS naik.
Masalah Pengumpulan Data
BLS menghentikan perhitungan dan publikasi sekitar 350 indeks, termasuk data dari PPI Permintaan Akhir–Permintaan Menengah, indeks khusus, klasifikasi industri, dan komoditas.
Lembaga ini mengalami kekurangan dana selama bertahun-tahun di bawah pemerintahan Partai Republik maupun Demokrat, yang semakin memburuk oleh kampanye besar Presiden Donald Trump untuk merombak pemerintahan federal melalui pemangkasan anggaran besar-besaran dan PHK massal pegawai negeri.
Keterbatasan sumber daya ini berdampak pada laporan ketenagakerjaan yang diawasi ketat, serta menyebabkan penghentian pengumpulan data untuk sebagian keranjang CPI di beberapa wilayah di AS. Hal ini menimbulkan kekhawatiran atas kualitas data ekonomi pemerintah yang selama ini dianggap sebagai standar emas.
Baca Juga
Trump Copot Erika McEntarfer dari BLS, Pasar Khawatirkan Integritas Data Ekonomi AS
Pencalonan ekonom Heritage Foundation, E.J. Antoni - kritikus BLS - menggantikan Erika McEntarter untuk memimpin lembaga statistik ini juga menambah kekhawatiran atas kualitas data. Ekonom lintas spektrum politik menilai Antoni tidak memenuhi kualifikasi untuk posisi tersebut.
Dengan laporan PPI dan CPI ini, ekonom memperkirakan Indeks Harga PCE Inti naik 0,3% pada Juli setelah kenaikan serupa pada Juni. Ini akan mendorong inflasi PCE inti tahunan naik menjadi 2,9% dari 2,8% di Juni. Inflasi PCE inti adalah salah satu ukuran yang dipantau The Fed untuk target 2%-nya.
Baca Juga
Tak Terpengaruh Tekanan Trump, The Fed Kembali Pertahankan Suku Bunga
The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%-4,50% bulan lalu untuk kelima kalinya sejak Desember. Sebagian ekonom mengatakan The Fed hanya boleh mempertimbangkan pemangkasan suku bunga bulan depan jika data harga produsen dan konsumen Juli terbukti anomali dan pertumbuhan lapangan kerja non-pertanian tetap di bawah 75.000 pada Agustus.
“Jika ketiga kondisi itu tidak terpenuhi, maka akan tidak bertanggung jawab secara kredibilitas bank sentral untuk memangkas suku bunga,” kata Brian Bethune, Profesor Ekonomi di Boston College.

