Pasokan AS Melonjak, Harga Minyak Jatuh Jelang Pertemuan Trump–Putin
Poin Penting
- Harga Brent turun 0,74%, WTI melemah 0,82% setelah lonjakan stok AS.
- Trump dan Putin akan bertemu di Alaska bahas perang Ukraina.
- IEA naikkan proyeksi pasokan, OPEC+ prediksi permintaan tahun depan meningkat.
- Analis nilai prospek bullish minyak jangka pendek masih lemah.
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak global melemah pada Rabu (14/8/2025) setelah data menunjukkan lonjakan stok minyak mentah AS yang tak terduga. Harga minyak jatuh ke level terendah dalam lebih dari dua bulan.
Baca Juga
Harga Minyak Turun Jelang Pertemuan Trump–Putin dan Rilis Data Inflasi AS
Namun, penurunan terbatas setelah Menteri Keuangan AS menyatakan Presiden Donald Trump dapat memanfaatkan sanksi dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Minyak Brent berjangka turun 49 sen atau 0,74% menjadi US$65,63 per barel, sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) melemah 52 sen atau 0,82% menjadi US$62,65 per barel.
Stok minyak mentah AS naik 3 juta barel menjadi 426,7 juta barel, menurut Administrasi Informasi Energi (EIA), jauh di atas ekspektasi penurunan 275.000 barel dalam survei Reuters. Impor minyak mentah bersih AS naik 699.000 barel per hari pekan lalu.
“Ekspor minyak mentah ini tetap di bawah rata-rata yang biasa kita lihat, turun akibat tekanan tarif,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital New York. Ia menambahkan bahwa ekspor yang terus melemah dapat menekan harga.
Badan Energi Internasional (IEA) pada Rabu menaikkan proyeksi pertumbuhan pasokan minyak tahun ini, namun menurunkan proyeksi permintaan.
Trump dijadwalkan bertemu Putin di Alaska pada Jumat untuk membahas penghentian perang Rusia di Ukraina yang telah mengguncang pasar minyak sejak Februari 2022.
Trump menyatakan, Rusia akan menghadapi konsekuensi jika Putin tidak sepakat menghentikan perang setelah pertemuan Jumat. Saat ditanya apakah konsekuensinya berupa sanksi atau tarif, Trump mengatakan kepada wartawan: “Saya tidak perlu mengatakan, akan ada konsekuensi yang sangat berat,” ujarnya, dikutip dari Reuters. Ia juga mengatakan pertemuan keduanya dapat segera diikuti dengan pertemuan kedua yang melibatkan pemimpin Ukraina.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Rabu mengatakan sanksi atau tarif sekunder dapat diperketat jika pertemuan tidak berjalan baik, dan mendesak para pemimpin Eropa juga memanfaatkan sanksi. “Ia (Presiden Trump) akan menegaskan kepada Presiden Putin bahwa semua opsi ada di meja,” kata Bessent kepada Bloomberg Television.
Sementara itu, dalam laporan bulanan Selasa, OPEC+ menaikkan proyeksi permintaan minyak global tahun depan dan memangkas estimasi pertumbuhan pasokan dari AS serta produsen lain di luar kelompok tersebut, mengindikasikan pasar yang lebih ketat.
Baca Juga
Harga Minyak Turun Setelah OPEC+ Setujui Kenaikan Produksi September
“Jika kita mengambil agregat proyeksi pertumbuhan permintaan minyak IEA dan OPEC untuk 2025, bahkan angka tengah yang moderat—sekitar lebih dari 1 juta barel per hari—saat ini bisa sepenuhnya dipenuhi oleh pertumbuhan pasokan non-OPEC,” urai analis energi independen Gaurav Sharma. Karena itu, ia tidak melihat adanya prospek bullish untuk minyak dalam jangka pendek.

