Para Kardinal Ini Berpeluang Jadi Paus Pengganti Fransiskus
VATIKAN, Investortrust.id – Setelah Paus Emeritus Fransiskus dinyatakan meninggal dunia pada Senin (21/4/2025), Vatikan akan segera menggelar sebuah prosesi yang disebut Konklaf (Conclave). Konklaf adalah periode hari ke-15 hingga ke-20 setelah wafatnya paus, yang merupakan proses pemilihan Paus pengganti.
Di periode ini para Kardinal Elektoral akan mengisolasi diri di dalam Kapel Sistina di Vatikan untuk memulai proses pemilihan Paus baru yang telah berlangsung selama berabad-abad. Hanya kardinal yang berusia di bawah 80 tahun yang saat ini berjumlah sekitar 135 orang, yang berhak memberikan suara.
Meskipun para kardinal tidak berkampanye untuk jabatan ini, selalu ada nama-nama unggulan menjelang konklaf untuk memilih Paus baru. Dan kenyataannya selalu ada kandidat unggulan, yang dikenal dengan sebutan “papabile,” yaitu mereka yang memiliki sejumlah kualitas yang dianggap diperlukan untuk menjadi Paus, seperti yang digambarkan dalam film nominasi Oscar tahun lalu, “Conclave.”
Secara teknis, sejatinya siapa pun pria Katolik yang dibaptis bisa menjadi Paus. Namun sejak tahun 1378, hanya kardinal lah yang bisa dipilih.
Seperti dikemukakan sebelumnya kandidat terpilih harus meraih setidaknya dua pertiga suara dari para kardinal yang berusia di bawah 80 tahun dan memenuhi syarat untuk memilih. Paus Fransiskus, yang wafat pada hari Senin, telah mengangkat sebagian besar kardinal pemilih tersebut, umumnya mereka yang sejalan dengan prioritas pastoralnya, yang mengisyaratkan keberlanjutan, dan bukan perubahan drastis kebijakan gereja.
Namun, siapa pun yang mencoba menebak hasil konklaf harus diingat pula bahwa Jorge Mario Bergoglio pernah dianggap terlalu tua untuk terpilih sebagai Paus pada 2013, ketika saat itu ia berusia 76 tahun. Ingat pula dengan Karol Wojtyla, yang sejatinya tidak masuk dalam daftar potensial pada konklaf 1978, namun ia akhirnya terpilih sebagai Paus Yohanes Paulus II.
Baca Juga
Pemilihan Paus Baru Disiapkan, Ini Prosesi yang Digelar di Vatikan
Di bawah ini adalah sejumlah nama kardinal yang dianggap potensial masuk dalam bursa Konklaf, seperti dilansir oleh theHuffPost.com.
Kardinal Peter Erdo
Erdo, 72 tahun, adalah Uskup Agung Budapest dan primat Hungaria, dua kali terpilih sebagai ketua Dewan Konferensi Uskup Eropa (tahun 2005 dan 2011), yang menunjukkan bahwa ia adalah personal yang disegani oleh para kardinal Eropa, selaku kelompok pemilih terbesar. Dalam perannya, ia juga banyak berinteraksi dengan para kardinal Afrika. Ia dikenal publik saat membantu menyelenggarakan pertemuan Vatikan tahun 2014 dan 2015, serta selama kunjungan Paus ke Budapest pada 2021 dan 2023.
Kardinal Reinhard Marx
Marx, 71 tahun, Uskup Agung München dan Freising, ditunjuk oleh Paus Fransiskus sebagai penasihat utama pada 2013. Ia juga memimpin dewan yang mengawasi keuangan Vatikan selama reformasi besar. Sebagai mantan ketua konferensi uskup Jerman, ia mendukung “jalur sinodal”, sebuah proses dialog kontroversial di Gereja Jerman yang membahas isu-isu seperti selibat, homoseksualitas, dan pentahbisan perempuan. Hal ini membuatnya dikritik oleh kalangan konservatif. Pada 2021, ia sempat mengajukan pengunduran diri sebagai bentuk penyesalan atas skandal pelecehan seksual, tetapi ditolak oleh Paus Fransiskus.
Kardinal Marc Ouellet
Ouellet, 80 tahun, asal Kanada, memimpin kantor penting Vatikan untuk urusan uskup selama lebih dari satu dekade. Meskipun diangkat oleh Paus Benediktus XVI, Paus Fransiskus tetap mempertahankannya hingga 2023. Ia dikenal sebagai konservatif, tetapi tetap memilih uskup yang berpikiran pastoral sesuai dengan visi Fransiskus. Ia mendukung peran perempuan lebih besar dalam tata kelola Gereja. Ia juga memiliki hubungan erat dengan Gereja Amerika Latin. Sejak 2019, kantornya bertugas menyelidiki uskup yang diduga menutupi kasus pelecehan seksual, yang memberinya informasi sensitif. Posisi ini disebut-sebut bisa menjadi modalnya untuk maju, namun sekaligus beban karena ia nyaris tidak memiliki pendukung.
Kardinal Pietro Parolin
Parolin, 70 tahun, asal Italia, adalah Sekretaris Negara Vatikan sejak 2014 dan dianggap sebagai salah satu kandidat utama karena perannya yang sangat penting. Ia mengawasi kesepakatan Vatikan dengan China terkait pengangkatan uskup, dan juga terlibat dalam investasi properti di London lewat sebuah ventura properti, meskipun tidak didakwa. Sebelumnya ia adalah duta besar Vatikan untuk Venezuela. Parolin dikenal sebagai figur diplomatis yang akan melanjutkan jejak Paus Fransiskus, tetapi dengan gaya yang lebih tenang.
Kardinal Robert Prevost
Gagasan tentang Paus asal Amerika Serikat selama ini dianggap tabu karena dominasi geopolitik AS. Namun Prevost, 69 tahun, kelahiran Chicago, bisa jadi pengecualian. Ia punya pengalaman panjang di Peru, sebagai misionaris dan kemudian uskup agung. Saat ini, ia memimpin dikasteri penting untuk urusan uskup dan menjabat sebagai Presiden Komisi Kepausan untuk Amerika Latin, yang menjadikannya dekat dengan Gereja di wilayah dengan umat Katolik terbanyak. Paus Fransiskus telah lama memperhatikannya, termasuk saat mengirimnya ke Peru pada 2014. Namun, usia relatif muda dan kewarganegaraan AS-nya bisa menjadi faktor yang mengurangi peluangnya jika para kardinal enggan memilih seorang Paus yang bisa menjabat dua dekade ke depan.
Kardinal Robert Sarah
Sarah, 79 tahun, asal Guinea, merupakan kepala emeritus Kantor Liturgi Vatikan dan telah lama dianggap sebagai harapan terbaik bagi Afrika untuk memiliki seorang paus. Dikenal dan dicintai oleh kalangan konservatif, Sarah akan menandai kembalinya gaya kepausan yang berfokus pada doktrin dan liturgi seperti pada masa Paus Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI.
Sebelumnya ia memimpin kantor amal Vatikan Cor Unum, namun Sarah beberapa kali berselisih dengan Paus Fransiskus, terutama ketika ia dan Benediktus menulis bersama sebuah buku yang menekankan “keharusan” mempertahankan selibat bagi imam-imam Ritus Latin.
Buku tersebut diterbitkan saat Fransiskus sedang mempertimbangkan untuk mengizinkan imam yang sudah menikah di wilayah Amazon guna mengatasi kekurangan imam di sana. Fransiskus kemudian memberhentikan sekretaris Benediktus dan beberapa bulan setelahnya.
Kardinal Christoph Schoenborn
Schoenborn, 80 tahun, Uskup Agung Wina, Austria, adalah murid dari Benediktus XVI dan secara teori memiliki latar belakang akademik yang doktrinal, sehingga menarik bagi kalangan konservatif. Namun, ia menjadi terkait dengan salah satu keputusan paling kontroversial Paus Fransiskus karena membela pendekatan kepada umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi secara sipil.
Ia menyebutnya sebagai “perkembangan doktrin yang organik,” bukan perpecahan seperti yang diyakini sebagian kaum konservatif.
Orang tua Schoenborn bercerai ketika ia masih remaja, sehingga isu tersebut sangat personal baginya. Ia juga pernah mendapat kecaman dari Vatikan karena mengkritik penolakan sebelumnya untuk menghukum para pelaku pelecehan seksual berpangkat tinggi, termasuk pendahulunya sebagai Uskup Agung Wina.
Schoenborn mendukung serikat sipil dan perempuan sebagai diakon, serta berperan penting dalam penyusunan pembaruan Katekismus Gereja Katolik tahun 1992, buku pegangan ajaran Gereja yang diprakarsai Benediktus ketika memimpin kantor doktrin Vatikan.
Kardinal Luis Tagle
Tagle, 67 tahun, asal Filipina, tampaknya menjadi pilihan Paus Fransiskus untuk menjadi Paus Asia pertama.
Fransiskus memindahkan Uskup Agung Manila yang populer ini ke Roma untuk memimpin kantor evangelisasi misionaris Vatikan, yang melayani kebutuhan Gereja Katolik di sebagian besar wilayah Asia dan Afrika.
Perannya menjadi semakin penting ketika Paus Fransiskus melakukan reformasi birokrasi Vatikan dan meningkatkan kedudukan kantor tersebut.
Tagle sering menyebut garis keturunan Tionghoanya, karena nenek dari pihak ibu berasal dari keluarga Tionghoa yang pindah ke Filipina, dan ia dikenal sebagai pribadi yang emosional saat membicarakan masa kecilnya.
Meskipun memiliki pengalaman pastoral, administratif, dan pengalaman di Vatikan, ia pernah memimpin Caritas Internationalis, federasi organisasi amal Katolik sedunia, sebelum pindah permanen ke Roma . Usia Tagle yang relatif muda bisa saja menjadi penghalang karena para kardinal mungkin akan lebih memilih kandidat yang lebih tua agar masa kepausannya tidak berlangsung terlalu lama.
Kardinal Matteo Zuppi
Zuppi, 69 tahun, Uskup Agung Bologna dan ketua Konferensi Waligereja Italia (dipilih pada tahun 2022), memiliki keterkaitan erat dengan Komunitas Sant’Egidio, sebuah organisasi amal Katolik yang berbasis di Roma dan berpengaruh pada masa kepemimpinan Fransiskus, terutama dalam dialog antaragama.
Zuppi merupakan bagian dari tim Sant’Egidio yang membantu menengahi berakhirnya perang saudara di Mozambik pada 1990-an, dan ia ditunjuk oleh Fransiskus sebagai utusan perdamaian untuk konflik Rusia-Ukraina.
Fransiskus mengangkatnya menjadi kardinal pada 2019, dan kemudian menegaskan keinginannya agar Zuppi memimpin para uskup Italia, tanda kekaguman Fransiskus terhadap imam ini yang dikenal sebagai “imam jalanan,” sama seperti dirinya.Zuppi berasal dari keluarga dengan ikatan kuat terhadap institusi Gereja. Ayahnya bekerja untuk surat kabar Vatikan L’Osservatore Romano, dan ibunya adalah keponakan dari Kardinal Carlo Confalonieri, dekan Dewan Kardinal pada 1960-an dan 1970-an.

