Goldman Sachs Perkirakan The Fed Pangkas Suku Bunga Tiga Kali Tahun 2025
NEW York, investortrust.id - Menjelang pengumuman tarif terbaru Presiden Donald Trump minggu ini, Goldman Sachs memperkirakan bea masuk yang agresif dari Gedung Putih akan meningkatkan inflasi dan pengangguran serta memperlambat pertumbuhan ekonomi. Namun, bank investasi itu memperkirakan Federal Reserve akan memangkas suku bunga tiga kali tahun ini.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga Acuan, Masih Proyeksikan Dua Pemangkasan Tahun Ini
Goldman Sachs kini memperkirakan tarif akan melonjak 15 poin persentase, skenario "risiko" yang sebelumnya dianggap tidak mungkin tetapi kini tampaknya lebih mungkin terjadi ketika Trump mengumumkan tarif balasan pada hari Rabu. Namun, Goldman mencatat bahwa pengecualian produk dan negara pada akhirnya akan menurunkan kenaikan itu menjadi 9 poin persentase.
Ketika kebijakan perdagangan baru ini diberlakukan, tim ekonomi Goldman yang dipimpin oleh kepala penelitian investasi global, Jan Hatzius, memperkirakan dampak negatif yang luas terhadap ekonomi.
"Kami percaya bahwa risiko dari tarif 2 April lebih besar daripada yang sebelumnya diasumsikan oleh banyak pelaku pasar," papar Goldman Sachs dalam catatan yang diterbitkan pada hari Minggu (30/03/2025), seperti dikutip CNBC.
Inflasi Melebihi Target
Mengenai inflasi, perusahaan tersebut memperkirakan ukuran inti, tidak termasuk harga makanan dan energi, akan mencapai 3,5% pada tahun 2025. Naik 0,5 poin persentase dari perkiraan sebelumnya dan jauh di atas target 2% yang ditetapkan Federal Reserve.
Baca Juga
Inflasi Inti PCE AS Februari Capai 2,8% YoY, Lebih Tinggi dari Perkiraan
Hal ini akan disertai dengan pertumbuhan ekonomi yang lemah. Hanya 0,2% pada tingkat tahunan di kuartal pertama dan 1% untuk keseluruhan tahun jika diukur dari kuartal keempat 2024 hingga kuartal keempat 2025. Angka ini turun 0,5 poin persentase dari perkiraan sebelumnya. Selain itu, Goldman kini memperkirakan tingkat pengangguran mencapai 4,5%, naik 0,3 poin persentase dari perkiraan sebelumnya.
Secara keseluruhan, Goldman kini memperkirakan kemungkinan resesi dalam 12 bulan ke depan sebesar 35%, naik dari 20% dalam perkiraan sebelumnya.
Perkiraan ini menunjukkan kemungkinan meningkatnya ekonomi stagflasi, yakni pertumbuhan rendah dengan inflasi tinggi. Terakhir kali AS mengalami stagflasi pada akhir 1970-an dan awal 1980-an. Saat itu, Federal Reserve yang dipimpin oleh Paul Volcker menaikkan suku bunga secara drastis, menyebabkan ekonomi jatuh ke dalam resesi karena bank sentral memilih untuk memerangi inflasi daripada mendukung pertumbuhan ekonomi.
Tiga Kali Pemangkasan
Namun, ekonom Goldman tidak melihat skenario yang sama terjadi kali ini. Bahkan, bank investasi itu kini memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga acuannya sebanyak tiga kali tahun ini, masing-masing sebesar seperempat poin persentase, naik dari proyeksi sebelumnya yang hanya dua kali pemangkasan.
"Kami telah menarik pemangkasan tunggal yang sebelumnya diperkirakan untuk tahun 2026 ke tahun 2025 dan kini memperkirakan tiga kali pemangkasan berturut-turut tahun ini pada Juli, September, dan November, yang akan membuat perkiraan suku bunga terminal kami tetap di 3,5%-3,75%," urai ekonom Goldman, mengacu pada suku bunga dana federal, yang saat ini berada di kisaran 4,25% hingga 4,50%.
Baca Juga
Tarif Trump Hambat Pertumbuhan, OECD Pangkas Proyeksi Ekonomi AS dan Global
Meskipun cakupan tarif terbaru masih belum diketahui, The Wall Street Journal melaporkan pada hari Minggu bahwa Trump mendorong timnya untuk menerapkan bea masuk yang lebih agresif, yang bisa berarti pukulan sebesar 20% terhadap mitra dagang AS secara keseluruhan.

