Trump Isyaratkan Tarif yang Berlaku Mulai April ‘Lebih Lunak’ dari Resiprokal
WASHINGTON, investortrust.id - Presiden Donald Trump mengatakan bahwa tarif yang akan diberlakukan kemungkinan “lebih lunak daripada resiprokal," seiring dengan makin dekatnya tenggat waktu 2 April bagi sejumlah tarif yang akan mulai dikenakan.
Baca Juga
Perang Dagang Memanas, Trump Tandatangani Rencana Tarif Resiprokal Besar-Besaran
"Mungkin akan lebih lunak daripada resiprokal, karena jika saya menerapkan tarif resiprokal, itu akan sangat sulit bagi banyak pihak," kata Trump dalam wawancara dengan Newsmax.
"Saya tahu ada beberapa pengecualian, dan ini masih dalam diskusi yang sedang berlangsung, tetapi tidak terlalu banyak, tidak terlalu banyak pengecualian," tambahnya, dikutip dari CNBC, Kamis (27/3/2025).
Gedung Putih kemudian mengklarifikasi pernyataan presiden, dengan mengatakan bahwa pemerintahan Trump tidak lagi mempertimbangkan hambatan non-tarif yang diberlakukan negara lain terhadap Amerika Serikat dalam menentukan tarif resiprokal, sebagaimana diberitakan oleh CNBC.
Hambatan non-tarif mencakup faktor-faktor seperti pajak pertambahan nilai (PPN), yaitu pajak atas konsumsi akhir suatu barang atau jasa berdasarkan nilai tambah di setiap tahap produksi, serta penekanan upah dan manipulasi mata uang.
Sikap yang lebih lunak dari pemerintahan Trump terhadap tarif ini dapat sedikit menenangkan para investor yang khawatir perang dagang global akan memperlambat ekonomi AS.
Saat ini, sentimen konsumen dan korporasi telah terdampak. Pada hari Selasa, Conference Board melaporkan bahwa indeks ekspektasi konsumen terhadap bisnis, pendapatan, dan tenaga kerja turun ke level terendah dalam 12 tahun.
Baca Juga
Terus Menurun, Kepercayaan Konsumen AS Capai Titik Terendah dalam 12 Tahun
Pasar saham juga mengalami tekanan belakangan ini, dengan S&P 500 turun 3% dalam sebulan terakhir. Indeks acuan ini juga sempat memasuki wilayah koreksi akibat tekanan tarif, dengan perdagangan turun lebih dari 10% dari rekor yang dicapai pada Februari.

