Harga Minyak Stabil Setelah Rusia dan Ukraina Sepakati Gencatan Senjata di Laut Hitam
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak relatif stabil pada Selasa (25/03/2025) setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyetujui gencatan senjata dengan Rusia yang mencakup Laut Hitam dan infrastruktur energi. Harga minyak mentah sempat naik karena prospek pasokan global yang lebih ketat akibat ancaman tarif AS terhadap negara-negara yang membeli produksi minyak Venezuela.
Kontrak berjangka Brent naik 3 sen menjadi ditutup pada $73,02 per barel. Minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun 16 sen menjadi $69 per barel.
Baca Juga
Zelenskiy mengatakan gencatan senjata berlaku segera pada Selasa tetapi menambahkan bahwa ia akan mencari lebih banyak senjata dari Presiden AS Donald Trump dan meminta sanksi tambahan terhadap Rusia jika Moskow melanggar kesepakatan.
“Jika ada gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina, ini bisa membuka peluang bagi pengurangan sanksi terhadap minyak Rusia,” kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, seperti dikutip CNBC.
AS mencapai kesepakatan terpisah pada Selasa dengan Ukraina dan Rusia untuk memastikan navigasi yang aman di Laut Hitam dan menerapkan larangan serangan kedua negara terhadap fasilitas energi satu sama lain, menurut laporan Reuters.
Ancaman Trump untuk mengenakan tarif terhadap negara-negara yang mengimpor minyak dan gas dari Venezuela telah menimbulkan kekhawatiran tentang pasokan global, dan kedua patokan minyak naik lebih dari 1% pada Senin setelah pengumuman tersebut.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak Gegara Trump Ancam Tarif 25% Pembeli Migas Venezuela
“Tarif sekunder ini merupakan sanksi tidak langsung yang bertujuan untuk menekan kapasitas pasokan minyak Venezuela dan merugikan sistem penyulingan independen China,” kata Mukesh Sahdev, kepala pasar komoditas global di Rystad Energy.
Minyak adalah ekspor utama Venezuela. China, yang sudah menjadi target tarif impor AS, adalah pembeli terbesar minyak Venezuela.
Pemerintahan Trump juga pada Senin memperpanjang batas waktu hingga 27 Mei bagi produsen AS, Chevron, untuk menghentikan operasinya di Venezuela.
Penarikan izin operasi Chevron dapat mengurangi produksi minyak Venezuela sekitar 200.000 barel per hari, menurut analis ANZ.
OPEC+, yang terdiri dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, kemungkinan akan tetap pada rencana untuk meningkatkan produksi minyak pada Mei untuk bulan kedua berturut-turut, kata empat sumber kepada Reuters, di tengah harga minyak yang stabil dan rencana untuk memaksa beberapa anggota mengurangi produksi guna mengompensasi kelebihan produksi sebelumnya.
Pekan lalu, AS mengeluarkan sanksi baru yang ditujukan untuk menekan ekspor minyak Iran.
Trump juga mengatakan bahwa tarif mobil akan segera diberlakukan, meskipun ia mengisyaratkan bahwa tidak semua tarif yang diancamkannya akan diterapkan pada 2 April dan beberapa negara mungkin mendapatkan pengecualian, sebuah langkah yang diartikan Wall Street sebagai sinyal fleksibilitas setelah berpekan-pekan ketidakpastian di pasar.

