Langkah Mengejutkan Trump Soal Rusia-Ukraina dan NATO Bikin Uni Eropa Ketar-ketir
MUNICH, investortrust.id – Para pejabat Eropa dibuat terkejut dan tidak siap oleh langkah-langkah pemerintahan Trump terkait Ukraina, Rusia, dan pertahanan Eropa dalam beberapa hari terakhir.
Di sebuah konferensi keamanan besar di Munich akhir pekan ini, para delegasi Eropa merasakan kekecewaan dan ketidakpercayaan. Bahkan, ada sedikit kepanikan, meskipun beberapa mencoba untuk tetap tenang di tengah serangkaian pernyataan dan diplomasi yang membingungkan.
Baca Juga
Pertemuan NATO di Brussels, Tantangan Keamanan Eropa Jadi Sorotan
Ketakutan utama Uni Eropa, mereka tidak lagi bisa yakin akan perlindungan militer dari AS, dan bahwa Presiden AS Donald Trump akan membuat kesepakatan damai dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang melemahkan Kyiv serta keamanan Eropa secara lebih luas.
Kekhawatiran itu, seperti dilansir Reuters, semakin diperburuk oleh pidato Wakil Presiden AS JD Vance di konferensi tersebut, yang hanya menyinggung Ukraina dan pertahanan Eropa secara sekilas, tetapi lebih banyak menuduh Eropa membatasi kebebasan berbicara dan gagal mengelola migrasi.
Para pemimpin Eropa menyatakan bahwa mereka harus lebih bertanggung jawab atas pertahanan mereka sendiri, dengan meningkatkan pengeluaran militer dan produksi senjata.
Namun, setelah bertahun-tahun menyampaikan pernyataan serupa selama masa jabatan pertama Trump pada 2017-2021, dan setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, mereka masih belum sepakat tentang bagaimana mengorganisir upaya tersebut atau bagaimana membiayainya.
Mereka juga berada di bawah tekanan AS untuk menyusun rencana jaminan keamanan bagi Ukraina, yang akan dibahas oleh sekelompok pemimpin dalam pertemuan darurat di Paris pada Senin, 17 Februari.
Ketakutan Eropa untuk disingkirkan semakin nyata setelah utusan Ukraina dari Trump, pensiunan Letnan Jenderal Keith Kellogg, menyatakan pada Sabtu (15/02/2025) bahwa mereka tidak akan diikutsertakan dalam perundingan damai, meskipun pandangan mereka akan dipertimbangkan.
Kemudian pada hari yang sama, muncul laporan bahwa pejabat AS dan Rusia akan bertemu di Arab Saudi dalam beberapa hari mendatang untuk memulai pembicaraan guna mengakhiri perang.
Pejabat AS bersikeras bahwa mereka hanya akan menerima kesepakatan damai yang "berkelanjutan" dan Ukraina akan turut serta dalam perundingan tersebut.
Baca Juga
Eropa Terguncang
Orang-orang Eropa terguncang oleh serangkaian langkah pemerintahan Trump dalam beberapa hari terakhir, meskipun Washington mengatakan bahwa mereka tetap berkomitmen pada aliansi transatlantik NATO (North Atlantic Treaty Organisation) yang telah menjadi pilar keamanan Eropa selama 75 tahun.
Pada Rabu, Menteri Pertahanan AS yang baru, Pete Hegseth, menyatakan di markas NATO bahwa kesepakatan damai tidak akan mencakup keanggotaan NATO bagi Ukraina dan tidak realistis bagi Ukraina untuk kembali ke perbatasannya sebelum 2014, ketika Rusia mencaplok Krimea.
Hegseth juga mengatakan bahwa "realitas strategis yang keras" mencegah AS untuk "berfokus terutama pada keamanan Eropa."
Pada hari yang sama, Trump mengatakan bahwa ia telah menelepon Putin, memberikan penilaian optimis tentang percakapan tersebut, dan mengumumkan bahwa pembicaraan damai akan segera dimulai.
Tindakan Trump membalikkan kebijakan Barat selama bertahun-tahun, yang dilakukan oleh pemerintahan Biden dan negara-negara Eropa, untuk mencoba mengisolasi Putin dan menegaskan bahwa pembicaraan damai hanya boleh dimulai ketika Ukraina berada dalam posisi lebih kuat di medan perang.
Banyak dari langkah-langkah ini telah diisyaratkan oleh Trump selama kampanye pemilihannya dan mengingatkan kembali pada masa jabatan pertamanya, ketika ia sering mengkritik NATO dan menuduh negara-negara Eropa gagal mengeluarkan cukup dana untuk pertahanan.
Namun, semua ini membuat para pemimpin Eropa harus berjuang untuk mengejar ketertinggalan.
Setelah berbulan-bulan memperdebatkan kemungkinan jaminan keamanan Eropa bagi Ukraina, mereka kini didesak oleh tuntutan diplomatik AS untuk segera merinci apa yang bisa mereka tawarkan.
Dua pemimpin Eropa juga menyerukan pada Minggu agar Uni Eropa menunjuk utusan khusus untuk perundingan damai Ukraina—beberapa bulan setelah Trump menunjuk utusannya sendiri.
Namun, banyak pejabat Eropa tetap bingung saat mereka mencoba memahami apakah pemerintahan Trump memiliki rencana yang terperinci untuk Ukraina dan siapa saja tokoh kuncinya.
Beberapa pihak merasa lebih optimis setelah berdiskusi dengan pejabat AS di balik layar, yang menurut mereka lebih tenang dan konstruktif dibandingkan pernyataan publik yang tajam dari Vance, Hegseth, dan lainnya.
Baca Juga
Pasar Cermati Prospek Kesepakatan Damai Ukraina, Harga Minyak Turun
Namun, yang lain khawatir dengan masa depan aliansi transatlantik secara keseluruhan, dengan berpendapat bahwa pemerintahan Trump bukan hanya mengejar kebijakan yang berbeda dari Eropa, tetapi juga secara aktif menentang arus politik utama di Eropa.
Pada Jumat, Vance bertemu dengan para pemimpin sayap kanan jauh Alternative for Germany (AfD), yang dijauhi oleh partai-partai arus utama, menjelang pemilu nasional pada 23 Februari.
"Sudah jelas sekarang bahwa AS ingin menghancurkan tatanan dunia pasca-Perang Dunia Kedua yang mereka ciptakan. Dan itu termasuk menghancurkan Uni Eropa. Kita harus bersiap untuk itu dan mengubah sikap kita sepenuhnya," kata seorang diplomat Eropa.

