Harga Minyak Melonjak Akibat Kekhawatiran Pasokan, tapi Tertahan Sentimen Tarif Trump
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak melonjak pada Selasa (11/02/2025) di tengah kekhawatiran atas pasokan minyak Rusia dan Iran serta ancaman sanksi. Namun, kenaikan itu tertahan oleh sentimen tarif perdagangan AS. Meningkatnya tarif perdagangan diperkirakan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi global.
Baca Juga
Minyak Anjlok ke US$ 74,2 Setelah Trump Ulangi Janjinya untuk Pangkas Harga
Kontrak berjangka Brent naik $1,11, atau 1,46%, menjadi $76,98 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 99 sen atau 1,37% menjadi $73,31.
Kedua kontrak mencatat kenaikan hampir 2% pada sesi sebelumnya setelah mengalami kerugian tiga minggu berturut-turut.
"Dengan AS menekan ekspor Iran dan sanksi yang masih berdampak pada aliran minyak Rusia, harga minyak mentah Asia tetap kuat dan menopang reli sejak kemarin," kata analis minyak PVM John Evans, seperti dikutip CNBC.
Pengiriman minyak Rusia ke China dan India, dua importir minyak mentah terbesar dunia, telah terganggu secara signifikan oleh sanksi AS bulan lalu yang menargetkan kapal tanker, produsen, dan perusahaan asuransi.
Menambah kekhawatiran pasokan, AS juga memberlakukan sanksi terhadap jaringan pengiriman minyak Iran ke China setelah Trump mengembalikan kebijakan "tekanan maksimum" terhadap ekspor minyak Iran pekan lalu.
Namun, kenaikan harga minyak dibatasi oleh tarif terbaru yang diberlakukan Trump, yang dapat memperlambat pertumbuhan global dan permintaan energi.
Pada hari Senin, Trump secara signifikan meningkatkan tarif impor baja dan aluminium ke AS menjadi 25% "tanpa pengecualian atau dispensasi" untuk membantu industri yang sedang berjuang, yang dapat meningkatkan risiko perang dagang multi-front.
Baca Juga
Eskalasi Baru Perdagangan AS, Trump Bakal Kenakan Tarif 25% untuk Baja dan Aluminium
Tarif tersebut akan berdampak pada jutaan ton impor baja dan aluminium dari Kanada, Brasil, Meksiko, Korea Selatan, dan negara lainnya.
"Tarif dan tarif balasan berpotensi membebani bagian ekonomi global yang intensif terhadap minyak, menciptakan ketidakpastian permintaan," kata Morgan Stanley dalam sebuah catatan pada hari Senin.
Namun, bank tersebut juga menambahkan bahwa kondisi ini kemungkinan besar akan mendorong OPEC+ untuk memperpanjang kuota produksi saat ini sekali lagi guna menjaga keseimbangan pasar pada paruh kedua tahun 2025.

