Wall Street Melonjak Ditopang Saham Teknologi, Indeks Nasdaq Melesat Hampir 1%
NEW YORK, investortrust.id - Meski pasar global diwarnai kegelisahan terkait tarif perdagangan, bursa saham AS berada di jalur positif pada Senin waktu AS atau Selasa (11/02/2025) WIB. Ketiga indeks utama kompak menguat.
Saham teknologi menjadi motor penggerak, sementara para trader mengabaikan ancaman tarif terbaru dari Presiden AS Donald Trump.
Baca Juga
Wall Sreet Bergolak Dipicu Sentimen Tarif dan Inflasi, Dow Ambles Lebih dari 400 Poin
Indeks S&P 500 menguat 0,67% menjadi 6.066,44, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 0,98% ke 19.714,27.
Dow Jones Industrial Average naik 167,01 poin atau 0,38%, didorong oleh kenaikan 4,8% pada saham McDonald’s. Indeks yang terdiri dari 30 saham ini ditutup pada 44.470,41.
Pasar tetap galau di tengah kekhawatiran inflasi dan dampak negatif rencana tarif Trump terhadap ekonomi AS.
Trump mengatakan kepada wartawan pada Minggu bahwa ia berencana mengumumkan tarif menyeluruh sebesar 25% pada semua impor baja dan aluminium pada Senin. Namun, Trump tidak merinci kapan tarif ini akan diterapkan dan menambahkan bahwa ia juga akan memberlakukan tarif balasan terhadap negara-negara yang mengenakan pajak pada impor AS. Pengumuman ini muncul setelah tarif sebelumnya yang dikenakan Trump terhadap China.
Baca Juga
Eskalasi Baru Perdagangan AS, Trump Bakal Kenakan Tarif 25% untuk Baja dan Aluminium
Saham baja dan aluminium melonjak. U.S. Steel dan Nucor masing-masing melaju 4,8% dan 5,6%. Cleveland-Cliffs melonjak hampir 18%, sedangkan saham Alcoa naik 2,2%.
Saham produsen chip juga menguat seiring meningkatnya sentimen setelah aksi jual saham teknologi di akhir Januari yang dipicu oleh kekhawatiran terhadap kemunculan startup AI asal China, DeepSeek. Nvidia naik 2,9%, sementara Broadcom dan Micron masing-masing naik 4,5% dan 3,9%. Saham raksasa teknologi seperti Alphabet, Amazon, dan Microsoft juga mengalami kenaikan.
“Volatilitas terkait DeepSeek dan kekhawatiran tarif tidak menghapus prospek positif kami terhadap aset berisiko, terutama di AS. Dalam jangka pendek, kami memperkirakan volatilitas akan tetap ada akibat berita tarif dan potensi pengesahan RUU pada April di AS, tetapi kami tetap mempertahankan target akhir tahun S&P 500 di 6.500,” tulis Fabio Bassi, kepala strategi lintas aset JPMorgan, dalam sebuah catatan kepada klien, seperti dikutip CNBC.
Ancaman tarif tambahan muncul menjelang serangkaian data ekonomi yang akan dirilis minggu ini.
Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) Januari dijadwalkan rilis pada Rabu pagi waktu setempat diikuti oleh klaim pengangguran mingguan awal dan Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis. Ketua Federal Reserve Jerome Powell juga akan berbicara di hadapan Kongres pada Selasa pagi.

