Rusia Balas Serangan Rudal Ukraina, Harga Minyak Melonjak
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak melonjak pada Kamis (21/11/2024) setelah Rusia dan Ukraina saling meluncurkan rudal. Ketegangan Rusia-Ukraina mengesampingkan dampak peningkatan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan.
Baca Juga
Minyak Brent berjangka naik $1,44, atau 1,98%, menjadi $74,25 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka naik $1,35, atau 1,96%, menjadi $70,10 per barel.
Ukraina meluncurkan rudal jelajah Inggris ke Rusia pada Rabu, senjata Barat terbaru yang diizinkan untuk digunakan, sehari setelah menembakkan rudal AS.
Angkatan udara Kyiv mengatakan bahwa Rusia merespons pada Kamis pagi dengan meluncurkan rudal balistik antarbenua ke Ukraina. Ini adalah pertama kalinya Moskow menggunakan rudal jarak jauh yang begitu kuat selama perang.
Baca Juga
Rusia menyatakan bahwa penggunaan senjata Barat untuk menyerang wilayahnya yang jauh dari perbatasan merupakan eskalasi besar dalam konflik. Kyiv berpendapat bahwa untuk mempertahankan diri, mereka harus dapat menyerang pangkalan Rusia yang digunakan untuk mendukung invasi Moskow, yang minggu ini memasuki hari ke-1.000.
“Untuk pasar minyak, risikonya adalah jika Ukraina menargetkan infrastruktur energi Rusia, sementara risiko lainnya adalah ketidakpastian tentang bagaimana Rusia merespons serangan-serangan ini,” tulis analis ING dalam sebuah catatan, seperti dikutip CNBC.
Sementara itu, OPEC+ mungkin menunda kembali peningkatan produksi dalam pertemuan pada 1 Desember mendatang karena lemahnya permintaan minyak global, menurut tiga sumber OPEC+.
Baca Juga
Kelompok produsen ini, yang menggabungkan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya seperti Rusia, memompa sekitar setengah dari minyak dunia. Awalnya, mereka berencana secara bertahap membalikkan pemotongan produksi dari akhir 2024 hingga 2025.
Namun, Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan bahwa jika pemotongan OPEC+ tetap ada, pasokan minyak masih akan melebihi permintaan pada 2025.
Pasar juga dibebani oleh kenaikan stok minyak mentah AS sebesar 545.000 barel menjadi 430,3 juta barel dalam pekan yang berakhir 15 November, melebihi ekspektasi para analis.
Stok bensin pekan lalu naik lebih dari perkiraan, sementara persediaan distilat mencatat penurunan yang lebih besar dari ekspektasi, menurut data dari Administrasi Informasi Energi AS.

