Pasokan AS Berlimpah, Harga Minyak Melemah
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak ditutup melemah pada hari Rabu (20/11/2024) setelah stok minyak mentah dan bensin AS naik lebih dari yang diharapkan pekan lalu. Namun, penurunan dibatasi oleh kekhawatiran tentang perang yang semakin intensif antara Rusia dan Ukraina, produsen minyak utama.
Baca Juga
Eskalasi Perang Rusia-Ukraina, Harga Minyak Melonjak di Atas 3%
Kontrak berjangka Brent untuk Januari ditutup turun 50 sen, atau 0,68%, pada $72,81 per barel. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk Desember, yang berakhir pada hari Rabu, turun 52 sen, atau 0,75%, menjadi $68,87, sementara kontrak WTI Januari yang lebih aktif turun 49 sen, atau 0,71%, pada $68,75.
Stok minyak mentah dan bensin AS meningkat lebih dari yang diharapkan menurut data Administrasi Informasi Energi (EIA), yang membebani harga.
Tambahan pasokan juga datang dari Norwegia, dengan Equinor yang mengumumkan pemulihan kapasitas penuh di ladang minyak Johan Sverdrup di Laut Utara setelah pemadaman listrik.
Permintaan yang lemah dari China, importir minyak mentah terbesar di dunia, terus membebani pasar, dengan langkah-langkah stimulus yang diumumkan gagal mendorong pertumbuhan permintaan minyak dalam jangka pendek, menurut ahli strategi energi Macquarie.
Konflik Rusia-Ukraina dan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak di masa depan membantu menjaga harga tetap rendah. “Risiko terhadap pasokan mengimbangi kekhawatiran seputar prospek permintaan global,” kata John Kilduff, partner di Again Capital di New York, seperti dikutip CNBC.
Ketegangan geopolitik juga mendukung harga. Ukraina meluncurkan rudal Storm Shadow buatan Inggris ke wilayah Rusia pada hari Rabu, setelah sehari sebelumnya menggunakan rudal ATACMS buatan AS, memanaskan risiko geopolitik di pasar energi.
Analis energi StoneX, Alex Hodes, mengatakan, ketegangan geopolitik menambah risiko pasar minyak, meskipun data menunjukkan penurunan signifikan dalam posisi beli WTI oleh hedge fund.
Selain itu, AS memveto resolusi Dewan Keamanan PBB untuk gencatan senjata di Gaza, yang memicu premi risiko perang pada harga minyak di tengah kekhawatiran tentang potensi gangguan pasokan akibat perang di Timur Tengah.
Baca Juga
Gara-gara OPEC, Harga Minyak Anjlok Lebih dari 4% dalam Sepekan
OPEC+ juga diperkirakan akan mempertimbangkan untuk menunda peningkatan produksi pada pertemuan 1 Desember mendatang karena lemahnya permintaan global.

