Wall Street Ambruk: Dow Terjungkal 600 Poin, S&P 500 Anjlok 2%
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS anjlok pada hari Selasa waktu AS atau Rabu (4/9/2024) WIB. Perusahaan-perusahaan teknologi membebani pasar dan data ekonomi terbaru kembali memunculkan kekhawatiran seputar kesehatan perekonomian AS.
Baca Juga
Aktivitas Manufaktur Lemah, Ekonomi AS Dikhawatirkan Melambat
Dow Jones Industrial Average jatuh 626,15 poin, atau 1,51%, berakhir pada 40.936,93. S&P 500 turun 2,12%, ditutup pada 5.528,93. Nasdaq Composite turun 3,26% dan menetap di 17,136.30. Ketiga indeks tersebut mencatat hari terburuknya sejak aksi jual global pada 5 Agustus.
Saham-saham chip membebani pasar, dengan Nvidia yang anjlok lebih dari 9%. Micron, KLA dan Advanced Micro Devices juga mengalami penurunan di sesi tersebut.
Secara keseluruhan, VanEck Semiconductor ETF (SMH) turun lebih dari 7%. Sektor teknologi informasi S&P 500 memimpin penurunan indeks secara luas dan mengalami hari terburuk sejak September 2022.
Pasar awalnya melemah pada Selasa pagi setelah dua pembacaan produksi manufaktur menunjukkan tanda-tanda pelemahan. S&P Global menunjukkan penurunan dari bulan Juli hingga Agustus, sementara Institute for Supply Management berada di bawah tingkat yang diantisipasi oleh para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones. Data ini menghidupkan kembali kekhawatiran seputar melambatnya pertumbuhan ekonomi AS, yang membantu mendorong aksi jual yang diawasi ketat pada awal bulan lalu.
“Pasar saat ini tampaknya sangat gelisah terhadap data apa pun yang masuk, Kami telah menjadi pasar yang sangat bergantung pada data,” kata Larry Tentarelli, kepala strategi teknis di Blue Chip Trend Report, seperti dikutip CNBC.
Pergerakan hari Selasa mengawali bulan perdagangan baru setelah tiga rata-rata utama mengakhiri bulan Agustus dengan kenaikan. Pasar AS tutup pada hari Senin karena libur Hari Buruh.
Namun momentum pergerakan saham hingga bulan September tidak selalu diharapkan. Kekhawatiran terhadap jatuhnya perekonomian AS ke dalam resesi, bersamaan dengan pembatalan perdagangan dana lindung nilai yang populer yang melibatkan yen Jepang, menyebabkan saham-saham anjlok pada awal Agustus. S&P 500 pernah turun lebih dari 7% pada bulan sebelum pemulihannya.
Tindakan ini dilakukan menjelang rilis ekonomi besar pertama bulan ini pada hari Jumat, ketika pemerintah AS merilis laporan pekerjaan bulan Agustus. Wall Street juga harus menghadapi tantangan musiman, karena September merupakan bulan terburuk rata-rata bagi S&P 500 selama 10 tahun terakhir.
Baca Juga
Indikator Inflasi Favorit The Fed Meningkat 0,2% pada Bulan Juli

