Data Ekonomi AS Melemah, Harga Minyak Mentah Jatuh Lebih dari 3%
NEW YORK, investortrust.id - Minyak mentah AS turun 3% lebih pada hari Jumat (2/8/2024), setelah laporan pekerjaan yang lemah menimbulkan kekhawatiran baru soal resesi ekonomi.
Kontrak West Texas Intermediate untuk bulan September turun $2,79, atau 3,66%, menjadi $76,81 per barel. Kontrak Brent Oktober turun $2,71, atau 3,41%, menjadi $76,81 per barel. WTI turun 4,7% untuk minggu ini, sementara patokan global telah turun 5,3% meskipun ketegangan meningkat di Timur Tengah.
Baca Juga
Pertumbuhan Lapangan Kerja AS Melambat, Pengangguran Membengkak. Tanda resesi?
AS menambahkan 114.000 pekerjaan pada bulan Juli, jauh lebih sedikit dari perkiraan para ekonom sebesar 185.000. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,3%.
“Pertumbuhan ekonomi yang lemah di negara-negara besar dapat menghambat permintaan minyak meskipun terjadi peningkatan ketegangan di Timur Tengah yang dapat berdampak pada pasokan,” kata analis Panmure Liberum Ashley Kelty, seperti dikutip CNBC.
Data ekonomi dari negara importir minyak utama Tiongkok dan survei yang menunjukkan melemahnya aktivitas manufaktur di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat meningkatkan risiko lesunya ekspansi ekonomi global yang akan membebani konsumsi minyak.
Turunnya aktivitas manufaktur di Tiongkok juga menghambat harga energi, menambah kekhawatiran mengenai permintaan di masa depan setelah data bulan Juni menunjukkan impor dan aktivitas pengilangan di Tiongkok lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Impor minyak mentah Asia pada bulan Juli turun ke level terendah dalam dua tahun terakhir, melemahnya permintaan di Tiongkok dan India, menurut data dari LSEG Oil Research.
Sementara itu, pertemuan OPEC+ pada hari Kamis mempertahankan kebijakan produksi minyak kelompok tersebut tidak berubah, termasuk rencana untuk mulai mengurangi satu lapis pengurangan produksi mulai bulan Oktober.
Investor minyak juga memantau perkembangan di Timur Tengah, di mana pembunuhan para pemimpin senior kelompok militan Hamas dan Hizbullah yang bersekutu dengan Iran memicu kekhawatiran bahwa kawasan itu mungkin berada di ambang perang habis-habisan, sehingga mengancam akan mengganggu pasokan.
Baca Juga
Pemimpin Hamas Terbunuh di Teheran, Minyak Mentah AS Melonjak 4%
Hizbullah di Lebanon yang didukung Iran mengatakan konfliknya dengan Israel telah memasuki fase baru dan berjanji untuk merespons setelah komandan militer utama mereka terbunuh dalam serangan Israel.

