Kemandirian Energi Indonesia dari RDMP hingga Bioavtur, Jalan Panjang yang Menjanjikan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Seperti peribahasa “bagai menimba air di daun keladi”, upaya Indonesia mencapai kemandirian energi kerap terasa menguap sebelum terserap tuntas. Setiap langkah maju dalam pembangunan kilang, modernisasi teknologi, dan efisiensi operasi sering kali dihadang realitas keras, yakni kebutuhan energi tumbuh lebih cepat daripada kapasitas pengolahan minyak nasional. Namun, di balik tantangan itu, terselip tekad panjang untuk menjadikan negeri ini benar-benar berdiri di atas kaki sendiri dalam urusan energi.
Kemandirian energi tetap menjadi mimpi besar Indonesia. Meski negeri ini termasuk produsen minyak di kawasan Asia, kapasitas kilang nasional belum sanggup memenuhi seluruh kebutuhan bahan bakar domestik. Untuk itu, impor bahan bakar minyak (BBM) masih menjadi pilihan rasional untuk menjaga roda ekonomi tetap berputar.
Dalam sebuah kesempatan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mempersoalkan sedikitnya jumlah kilang minyak di Indonesia menyebabkan subsidi energi melonjak. Apalagi, impor BBM juga masih cukup besar, yakni US$ 21,6 miliar sepanjang tahun 2024.
Sejatinya, persoalan impor minyak Indonesia bisa dilihat dari sisi hulu dan pengolahan di kilang. Terlepas dari persoalan produksi di hulu yang belum optimal karena lapangan tua (mature), fase pengolahan juga perlu akselerasi. Saat ini, permintaan minyak nasional sekitar 1,6 juta barel per hari (barrel per day/bpd), sementara total kapasitas nasional kilang Pertamina hanya mencapai 1,056 juta bph. Dari jumlah itu, tidak semuanya memproduksi bahan bakar minyak (BBM), tetapi ada juga produk petrokimia.
Adapun produksi BBM secara nasional hanya hingga Juni 2025 mencapai 580.405–583.275 barel per hari dengan target produksi minyak untuk 2025 adalah 605.000 bpd menurut SKK Migas dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
“Wajar kalau kita impor. Apakah bisa kita tidak impor, jawabnya bisa, kita sudah punya roadmap-nya,” ujar General Manager Pertamina Refinery Unit (RU) VI Balongan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Yulianto Triwibowo dalam media visit yang diikuti Investortrust.id di Kilang Balongan, Indramayu, Jumat (17/10/2025)
Menurutnya, energi adalah nadi perekonomian, tanpa pasokan yang cukup, aktivitas industri dan transportasi bisa tersendat.
Pemerintah sejak lama memahami dilema ini. Pada era Presiden Soeharto, pembangunan kilang dijalankan secara masif yang melibatkan investasi besar. Kini, semangat serupa dihidupkan kembali lewat program Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kilang Balikpapan dan Grass Root Refinery (GRR) Tuban, dua proyek strategis yang digagas untuk meningkatkan kapasitas kilang nasional agar Indonesia tak lagi bergantung pada impor.
Perjalanan Panjang RDMP dan GRR
Program RDMP dan GRR menjadi tulang punggung strategi Pertamina dalam memperluas kapasitas pengolahan minyak hingga 1,5 juta barel per hari. Target ambisius itu diyakini bisa mencukupi seluruh kebutuhan domestik. Namun, jalan menuju target tersebut terbukti berliku.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri tidak memungkiri bahwa masukan Menkeu Purbaya menjadi perhatian Pertamina. Maka dari itu, Pertamina telah mempersiapkan RDMP Balikpapan yang dalam waktu dekat ditargetkan on stream.
“Mudah-mudahan di bulan November, tanggal 10 November (2025) adalah kita akan mulai on stream proyek RDMP Balikpapan, yang nanti akan meningkatkan kapasitas pengolahan kilang,” ujar Simon dalam acara di Sarinah, Jakarta, Selasa (7/10/2025).
Investasi yang dibutuhkan untuk bangun satu kilang diperkirakan Rp 200 triliun hingga Rp 500 triliun, tergantung lokasi dan skala proyek. Pendanaan sebesar itu tak bisa sepenuhnya mengandalkan pemerintah. Sebagian besar harus diperoleh lewat kemitraan strategis dan skema pendanaan campuran.
Proyek besar, seperti RDMP Balikpapan, GRR Tuban, dan pengembangan kilang menjadi fokus utama. RDMP Balikpapan ditargetkan menambah kapasitas menjadi 360.000 barel per hari, sementara GRR Tuban bersama mitra Rosneft asal Rusia dirancang menambah kapasitas serupa. Jika semua berjalan sesuai rencana, Indonesia berpotensi menekan impor BBM dalam 1 dekade ke depan.
Selain tantangan finansial, Yulianto Triwibowo mengungkapkan, faktor keselamatan juga menjadi perhatian utama. Industri kilang memiliki risiko tinggi akibat tekanan dan suhu ekstrem. Untuk itu, standar keselamatan (safety) diterapkan dengan disiplin ketat. “Safety itu mahal. Tapi nyawa tidak ada gantinya,” tegas Yulianto.
Setiap prosedur dijalankan secara detail, termasuk pemeriksaan pre-startup safety review (PSSR) sebelum kilang dioperasikan. Bahkan, penggunaan perangkat, seperti hand phone di area tertentu dilarang karena berpotensi memicu gangguan elektromagnetik yang bisa berakibat fatal.
Pertamina juga mengadopsi prinsip learning from event (LFE), yakni pembelajaran dari setiap insiden di seluruh dunia. “Bahkan kilang besar di Amerika seperti Chevron pun masih bisa alami kebakaran. Jadi, kita harus selalu siaga,” kata Yulianto Triwibowo.
Balongan, Kilang Termuda dengan Kompleksitas Tertinggi
Salah satu kilang yang menjadi simbol ketekunan dan efisiensi adalah Kilang Balongan di Indramayu, Jawa Barat. Kilang ini dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), anak usaha Pertamina.
Dengan Nelson Complexity Index (NCI) sebesar 11,9 -tertinggi di Indonesia- Balongan menjadi model pengolahan minyak modern dengan efisiensi tinggi dan fleksibilitas dalam mengolah berbagai jenis minyak mentah. Semakin tinggi NCI, semakin efisien dan fleksibel kilang dalam mengolah berbagai jenis crude oil.
Meskipun termasuk “muda” karena dibangun pada 1990-an, usia Kilang Balongan kini sudah lebih dari 30 tahun. “Kilang-kilang Pertamina lain bahkan lebih tua. Plaju berdiri sejak 1904, Cilacap dari tahun 1970-an, Dumai dan Balikpapan dari era 1950-an. Jadi kami memang menjaga aset bersejarah, bagian dari perjalanan bangsa ini,” jelas Yulianto Triwibowo.
Dengan kadar sulfur rendah dan teknologi pengolahan modern, Balongan menghasilkan bahan bakar berstandar Euro V, termasuk Pertamax Turbo, Avtur, dan Propylene untuk industri petrokimia.
Dengan luas area 250 hektare, RU VI Kilang Balongan menampung lebih dari 1.600 pekerja tetap dan kontraktor. Struktur produksinya terdiri dari 52% bahan bakar khusus (BBK), 26% BBM reguler, 12% produk non-BBM, 9% bahan kimia, dan 1% bahan bakar aviasi.
Kilang Balongan dengan kapasitas 150.000 barel per hari atau sekitar 14,2% dari total kapasitas kilang nasional, menjadi penopang utama pasokan BBM untuk wilayah padat konsumsi energi seperti Jakarta, Banten, dan sebagian besar Jawa Barat. Sekitar 82% hasil produksi Balongan dikirim ke wilayah tersebut, termasuk ke Depot Plumpang dan Cikampek, 12% ke daerah lain, dan sekitar 6% diekspor ke Singapura dalam bentuk Decant Oil.
Balongan dikenal efisien karena mampu memadukan bahan baku domestik dan impor. Sekitar 80% minyak mentah berasal dari dalam negeri, seperti Duri, Minas, dan Banyu Urip, sedangkan 20% diimpor dari sumber, seperti Nile Blend, Ostra, dan Cabinda.
Menjaga Kilang, Menjaga Negeri
Balongan bukan satu-satunya penjaga ketahanan energi. Kilang lain, seperti Cilacap, Plaju, Dumai, Balikpapan, dan Kasim telah lama menjadi penopang sistem energi nasional.
Mengutip materi paparan media visit ke kilang Balongan dan Kilang Cilacap, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) saat ini mengelola enam unit kilang utama yang tersebar dari Sumatra hingga Papua. Total kapasitas pengolahannya mencapai lebih dari 1,1 juta barel per hari, menjadikannya tulang punggung pasokan energi nasional.
Kilang RU II Dumai (Riau) berkapasitas 170.000 barel per hari, menjadi penghasil utama Biosolar B40 dan produk petrokimia berbasis olefin. RU III Plaju (Sumatra Selatan) berkapasitas 126.000 barel per hari, salah satu kilang tertua yang kini berperan penting dalam program biofuel nasional.
Sementara RU IV Cilacap (Jawa Tengah) memiliki kapasitas 348.000 barel per hari, menjadi produsen terbesar hydrotreated vegetable oil (HVO) dan Bioavtur berbasis minyak jelantah.
Adapun RU V Balikpapan (Kalimantan Timur) berkapasitas 360.000 barel per hari, kilang terbesar Pertamina yang sedang menjalani proyek modernisasi RDMP. Sementara RU VI Balongan (Jawa Barat), merupakan kilang dengan kompleksitas tertinggi (NCI 11,9). Terakhir, RU VII Kasim (Papua Barat) berkapasitas 10.000 barel per hari, melayani
Sementara itu, RU IV Cilacap mencetak tonggak penting dalam pengembangan energi hijau nasional. Kilang itu berhasil memproduksi sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur dengan kandungan minyak jelantah (used cooking oil/UCO) sebesar 2,5%, melampaui target awal 1%.
General Manager Refinery Unit (RU) IV Cilacap PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Wahyu Sulistyo Wibowo mengungkapkan, produksi SAF kali ini menggunakan dua bahan baku utama, yakni kerosene (minyak tanah) dan UCO.
“Alhamdulillah, dengan doa masyarakat Indonesia, RU IV Cilacap berhasil mengolah dengan kandungan used cooking oil sebesar 2,5%. Capaian ini sudah melampaui ekspektasi. Kapasitas unit pengolahan bioavtur di RU IV mencapai 9.000 barel per hari," kata Wahyu saat media visit ke Kilang Cilacap yang dihadiri Investortrust.id, dikutip Senin (20/10/2025).
Pencapaian ini menandai kemajuan nyata dalam pemanfaatan bahan bakar ramah lingkungan di sektor penerbangan nasional. Produk SAF tersebut telah diuji pada penerbangan komersial rute Soekarno-Hatta–Denpasar pada 15 Agustus 2025, dan berjalan sukses tanpa kendala teknis.
Secara nasional, Kilang Pertamina Internasional (KPI) memperkuat perannya dalam menjaga ketahanan energi nasional melalui penyelesaian 11 proyek kilang strategis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Pjs Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, mengatakan dalam periode 2019–2024, KPI menyelesaikan sedikitnya 11 proyek kilang strategis di lima lokasi utama, yakni Cilacap, Balongan, Balikpapan, Dumai, dan Tuban. Secara total, 11 proyek strategis tersebut meningkatkan kapasitas pengolahan hingga 125.000 barel per hari, menambah produksi BBM sebesar 3,5 juta kiloliter per tahun, serta menghasilkan Biofuel HVO dan SAF sebanyak 174.000 kiloliter per tahun.
Di samping kilang konvesional dalam skala besar, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut, ada 17 kilang minyak tengah dilakukan feasibility study (FS) atau studi kelayakan. "Yang 17 kilang, FS-nya sudah hampir final," katanya saat ditemui seusai menghadiri rapat koordinasi persiapan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025 di kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jakarta, Rabu (1/10/2025).
Bahlil mengatakan, saat ini pihaknya tengah menunggu hasil studi kelayakan yang dilakukan tim bentukan Kementerian ESDM. "Tim kita yang ke beberapa negara di Afrika dan Amerika kan sudah balik. Jadi ini tinggal sedikit lagi tahap selesai," ujarnya.
Ia menjelaskan, kilang-kilang tersebut nantinya berjenis kilang modular. Kilang tersebut merupakan unit kilang minyak berskala kecil yang dirancang untuk dibangun lebih cepat dan dengan investasi modal yang jauh lebih sedikit dibandingkan fasilitas kilang tradisional skala besar.
Bahlil menambahkan, sebanyak 17 kilang modular tersebut nantinya akan tersebar di sejumlah lokasi, seperti di Jawa, Kalimantan, hingga Papua. “Jadi dia (kilang) itu modular, tersebar di spot-spot,” kata Bahlil.
Sementara Presiden keenam Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan dukungannya terhadap Asta Cita Presiden Prabowo Subianto terkait ketahanan energi. Menurutnya, ini penting untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
“Saya memberikan dukungan penuh kepada Presiden Prabowo Subianto. Saya mendukung visi, komitmen, dan kebijakan beliau untuk membangun ketahanan energi, dan untuk menyelamatkan bumi kita, menyelamatkan kehidupan manusia di masa depan,” kata SBY dalam Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2025, Senin (6/10/2025).
Sementara Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, dalam acara Private CEO Roundtable with UAE Leadership pada Senin, 22 September 2025, di New York, Amerika Serikat menyebut, Indonesia bisa menjadi pusat energi dunia. Indonesia memiliki cadangan energi yang beragam, mulai dari energi terbarukan hingga fosil, yang jika dikelola dengan baik dapat memperkuat ketahanan energi global.
Pengujian Ketat, Standar Internasional
General Manager Refinery Unit IV Cilacap Wahyu Sulistyo Wibowo menegaskan bahwa seluruh produk BBM KPI melewati proses pengujian ketat sebelum dipasarkan. “Setiap produk diuji di laboratorium internal dan eksternal. Misalnya, pengujian research octane number (RON) dilakukan dengan mesin cooperative fuel research (CFR) yang berstandar internasional,” ujar Wahyu di Cilacap.
Menurutnya, hasil pengujian menunjukkan seluruh produk BBM KPI—termasuk Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, Pertadex, Biosolar, dan Avtur—memenuhi spesifikasi nasional dan internasional. “Contohnya, Pertalite dengan RON 90 hasilnya bisa mencapai 90,1 atau 90,2. Kalau hasilnya di bawah 90, pengujian diulang dari awal hingga sesuai,” jelasnya.
KPI juga bekerja sama dengan Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (BBPMGB) Lemigas untuk uji eksternal sebagai bentuk kontrol mutu berkelanjutan.
Kemandirian energi Indonesia bukan mustahil, tetapi jalannya panjang dan menuntut konsistensi. Selama kapasitas kilang belum cukup, impor BBM masih akan menjadi bagian tak terhindarkan dari ekosistem energi nasional. Namun, RDMP, GRR, dan modernisasi kilang membuktikan bahwa langkah menuju kemandirian bukan lagi sekadar wacana. Langkah menuju kemandirian energi perlahan tetapi pasti sedang ditempuh.
Seperti peribahasa “air beriak tanda tak dalam”, kemajuan energi tak perlu banyak gembar-gembor, tapi ditunjukkan lewat hasil nyata, yakni kilang modern, aman, dan efisien. Bila perusahaan-perusahaan swasta di sektor lain, seperti tambang batu bara, mampu bertransformasi menjadi pemain global dengan efisiensi tinggi, maka industri migas nasional pun bisa menapaki jalan serupa, pelan, pasti, dan berdaulat di tanah sendiri.

