Digital Banking Awards 2025 Jadi Barometer Kematangan Transformasi Digital
JAKARTA, investortrust.id – Digital Banking Awards (DBA) 2025 diharapkan menjadi barometer bagi bank yang benar-benar memiliki kematangan transformasi digital, yang membedakan dengan bank lain yang sekadar digital. Bank-bank yang berhasil meraih penghargaan tahun ini memiliki berbagai keunggulan, bukan hanya pada aplikasi mobile yang canggih, tetapi pada kemampuan mengintegrasikan digital strategy dengan governance, keamanan data, inklusi keuangan, dan keberlanjutan bisnis.
“Dengan kata lain, mereka adalah contoh role model digital banking di Indonesia,” Ketua Dewan Juri DBA 2025, Bayu Prawira Hie, yang juga Direktur Eksekutif Intellectual Business Community (IBC) dalam wawancara dengan investortrust.id tentang Digital Banking Awards (DBA) 2025 yang akan digelar pada Selasa (2/9/2025) di Hotel Sultan, Jakarta.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae akan hadir memberikan sambutan pengarahan pada DBA yang diprakarsasi investortrust.id dan IBC. Ini merupakan event keempat, yang mengusung tema "Leadership Matters".
Kriteria penilaian yang ditetapkan oleh Dewan Juri untuk pemenang mengacu pada enam (6) dimensi utama kematangan digital serta sub-sub dimensi (21 sub-dimensi) yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Keenam dimensi tersebut adalah dimensi data, teknologi, manajemen risiko, kolaborasi, tatanan institusi, dan customer.
Penghargaan terbagi ke dalam tujuh kelompok bank, yakni kelompok KBMI (Kelompok Bank Modal Inti) 4, KBMI 3, KBMI 2, KBMI 1, kelompok bank digital murni, kelompok Bank Pembangunan Daerah (BPD), dan kelompok bank syariah. Dalam DBA 2025, pertama kali Dewan Juri memberikan award Digital Banker of The Year atau pemimpin bank terpilih yang telah menunjukkan hasil dari inisiatif transformasi digital yang dilakukan.
Berikut wawancara investortrust.id dengan Bayu Prawira Hie seputar gelaran Digital Banking Awards 2025:
Apa keistimewaan DBA 2025 dibanding event serupa sebelumnya?
Keistimewaan DBA 2025 terletak pada pendekatan penilaian yang lebih komprehensif, khususnya dalam menilai tata kelola digital sesuai dengan arahan OJK dan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (PDP), penerapan Artificial Intelligence (AI), serta dampaknya terhadap nasabah dan ekosistem perbankan. Tahun ini, kami tidak hanya menilai pencapaian teknologi, tetapi juga bagaimana inovasi tersebut mampu menciptakan nilai berkelanjutan, inklusif, dan etis bagi masyarakat.
Dengan demikian, DBA 2025 menjadi barometer penting yang membedakan bank yang sekadar digital dengan bank yang benar-benar memiliki kematangan transformasi digital. Di samping itu, dalam DBA 2025 ini, pertama kali kami memberikan award Digital Banker of The Year kepada beberapa pemimpin bank terpilih yang telah menunjukkan hasil dari inisiatif yang dilakukannya kepada banknya. Hanya tiga orang yang terpilih untuk award ini.
Mengapa memilih tema “Leadership Matters”?
Kita makin melihat jelas betapa pentingnya kepemimpinan, di segala institusi termasuk bank. Jika pemimpinnya bagus, capaian institusinya akan bagus, demikian sebaliknya. Walaupun antara tindakan pemimpin sampai terlihat dampaknya perlu waktu. Oleh karenanya, dalam pemilihan Digital Banker of The Year 2025, kami mendalami benar inisiatif yang dilakukan pemimpin tersebut apakah benar-benar berdampak baik dan nyata kepada nilai keberlanjutan, inklusifitas, dan etika.
Kami meyakini bahwa di era AI dan digital banking, kepemimpinan adalah faktor pembeda utama. Teknologi dapat dibeli dan diadopsi, tetapi kepemimpinan yang visioner, berintegritas, dan berani mengambil risiko transformasi adalah kunci keberhasilan. Tema “Leadership Matters” dipilih karena masa depan perbankan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh para pemimpin yang mampu mengarahkan organisasi, mengelola risiko digital, serta memastikan inovasi tetap berorientasi pada nasabah.
Setelah memberikan penilaian kepada seluruh bank peserta DBA 2025, bagaimana kemajuan perbankan dalam layanan digital banking dan penerapan AI?
Secara umum, kami melihat kemajuan signifikan pada perbankan Indonesia. Mayoritas bank telah melewati fase adopsi digital dasar. Namun pertanyaannya, apakah bank tersebut benar punya misi melayani masyarakat atau hanya mengejar profit melalui digitalisasi, apakah bank tersebut benar melakukan transformasi digital dengan mematuhi aturan yang berlaku, karena ini penting dalam membuat layanan perbankan Indonesia berdampak positif bagi masyarakat Indonesia.
Dalam penerapan AI, belum banyak bank yang menggunakan potensi AI sesuai dengan potensi sesungguhnya. Banyak bank sudah menggunakan AI dalam hal chatbot, fraud detection, credit scoring, personalisasi layanan, hingga risk management, walau banyak juga yang menggunakan jasa pihak ketiga dalam hal ini, bukan merupakan kompetensi inti SDM intenal.
Ke depannya, diharapkan bank mulai menyatukan AI ke dalam proses inti, bukan sekadar front-end features. Hal ini akan membuat perbankan nasional bergerak ke arah data-driven institution yang lebih matang.
Dari bank-bank yang menang awards, keunggulan apa saja yang mereka miliki?
Bank-bank yang berhasil meraih penghargaan tahun ini adalah mereka yang mampu menunjukkan keunggulan bank tersebut dibandingkan dengan bank dalam kategorinya, dalam dimensi kematangan digital berdasarkan arahan OJK. Keunggulan mereka bukan hanya pada aplikasi mobile yang canggih, tetapi pada kemampuan mengintegrasikan digital strategy dengan governance, keamanan data, inklusi keuangan, dan keberlanjutan bisnis. Dengan kata lain, mereka adalah contoh role model digital banking di Indonesia.
Apa yang diharapkan dari event DBA 2025?
DBA 2025 adalah ajang yang penting karena menjadi tolok ukur kemajuan digital banking Indonesia. Acara ini bukan sekadar penghargaan, melainkan platform berbagi pengetahuan, inspirasi, dan best practices antarbank. Dengan adanya DBA, diharapkan industri perbankan memiliki kebersamaan semangat transformasi digital yang lebih jelas, sehingga transformasi tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi membentuk ekosistem yang lebih kuat, aman, dan kompetitif.
Dari sejumlah wawancara dengan para banker yang menggawangi transformasi digital di bank masing-masing, apa benang merah tentang tantangan digital banking, prospek ke depan, dan aspek paling penting yang ditekankan?
Ada tiga benang merah utama yang digarisbawahi para bankir yang membawahkan IT, yang pertama, tantangan terbesar adalah keamanan siber, kecepatan inovasi, dan keterbatasan talenta digital. Kedua, prospek digital banking ke depan sangat besar, terutama dengan AI, open banking, dan integrasi ekosistem digital lintas industri.
Ketiga, aspek paling penting yang ditekankan adalah trust dan human touch. Para bankir sadar bahwa secanggih apapun teknologi, kepercayaan nasabah dan relevansi hubungan manusia tetap menjadi inti layanan perbankan.
Apakah dalam konteks transformasi digital, teknologi adalah di atas segalanya?
Saya ingin menekankan bahwa transformasi digital bukanlah perlombaan teknologi semata, tetapi tentang menciptakan masa depan perbankan yang lebih manusiawi, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan adanya DBA 2025, saya berharap bank-bank Indonesia tidak hanya berkompetisi, tetapi juga berkolaborasi membangun ekosistem keuangan digital yang lebih kuat. Pada akhirnya, tujuan kita bersama adalah agar teknologi, termasuk AI, dapat benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

