Fungsi US Treasury sebagai 'Safe Haven' Mulai Meluntur, Apa Pasal?
JAKARTA, Investortrust.id – Emas telah menjadi instrumen safe haven, dan telah menjadi sebuah keniscayaan. Harga emas akan terus menanjak naik ketika publik mulai kehilangan kepercayaan pada nilai tukar dan instrumen investasi yang bergerak fluktuatif. Di luar emas, obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah Amerika Serikat, khususnya US Treasury dengan tenor 10 tahun juga dianggap sebagai safe haven bagi banyak negara dunia, termasuk para investor kelas kakap.
Obligasi US Treasury baik berupa T-Bonds (tenor jangka panjang) maupun T-Bills (tenor jangka pendek) akan menjadi sasaran alokasi manajer investasi global, dan bank sentral negara-negara dunia sebagai aset aman saat portofolio di pasar modal dunia bergejolak, atau mulai merebaknya potensi krisis keuangan dunia.
T-Bonds dan T-Bills kerap dianggap sebagai safe haven, terutama oleh investor global yang mencari keamanan dan kestabilan jangka panjang dengan alasan produk inevstasi ini dijamin penuh oleh pemerintah AS, yang tingkat default risk-nya sangat rendah.
Namun belakangan fungsinya sebagai safe haven mulai dipertanyakan, menyusul meningkatnya tingkat yield US Treasury, khususnya T Bonds bertenor 10 tahun yang selama ini menjadi acuan. Peningkatan yield atau tingkat imbal hasil dari US Treasury bisa diartikan bahwa sejumlah investor melakukan aksi lepas atau jual, sehingga terbentuk diskon yang tecermin pada besaran yield tadi. Aksi lepas tentu berkaitan dengan tingkat kepercayaan pada instrumen terkait.
“Ketika panic selling dan harga saham berjatuhan, galibnya, dana yang berdesakan keluar dari ekuitas akan banyak mampir, walau cuma sementara, di obligasi. Tapi ketika panik tarif Trump beberapa waktu lalu dan 3 indeks harga saham utama AS berguguran, ternyata imbal hasil US Treasury, yang logikanya turun, malah naik . Artinya, investor jual saham dan obligasi secara bersamaan!” kata Hasan Zein Mahmud, salah satu founder bursa saham Tanah Air, dalam satu komentarnya di grup media sosial.
Baca Juga
Tingkat yield US Treasury sejatinya sempat mencapai angka terendah di tahun ini di angka 3,99 pada 4 April 2025, dua hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif pada 50 negara yang dinilai telah berperan dalam defisit perdagangan AS. Sejumlah negara lainnya dikenakan tarif tinggi karena telah manipulatif dalam sejumlah kebijakan fiskal dan moneternya.
Pada tanggal 2 April di saat pengumuman tarif dilakukan di Rose Garden Gedung Putih, Washington DC, tingkat yield US Treasury masih di angka 4,18%. Dan segera turun ke angka 3,99%. Namun beberapa hari berikutnya tingkat yield membengkak menyentuh angka 4,43. Artinya, US Treasury saat itu mulai ditinggalkan para loyalisnya.
Dikatakan Hasan Zein, meningkatnya imbal hasil US Treasury terjadi berbarengan dengan aksi resiprokal sejumlah negara yang membalas penerapan tarif oleh Trump. Utamanya adalah China selaku negara adidaya ekonomi yang membalas tarif atas produk impor asal AS dengan angka yang juga tinggi.
“Sikap proteksionistis pemerintahan Trump punya dampak menaikkan inflasi. Memberi alasan mengapa The Fed tidak jadi menurunkan tingkat bunga, atau bahkan menaikkannya bila dianggap mendesak. Begitu FFR naik, yang pertama ngintil naik, ya imbal hasil US treasury,” kata Hasan.
Kondisi defisit anggaran Federal, total utang dan treasury outstanding di Amerika yang naik, juga dianggap menjadi alasan yang cukup membuat kepercayaan terhadap US Treasury menjadi luntur. Nah menariknya, Hasan Zein Mahmud memprediksi akan ada langkah balasan dari China di luar kebijakan tarif, yakni dengan menjual aset berupa US Treasury-nya yang dikabarkan menyentuh angka US$ 2 triliun. Bahkan ia menduga langkah pelepasan aset berupa T Bonds dan T Bills bisa saja akan diikuti Jepang.
“Saya punya perkiraan yang lebih firmed, bahwa China akan sangat mengurangi pemilikannya. Cukup signifikan untuk mengerek imbal hasil,” tuturnya. “Jadi masihkah Anda percaya US Treasury sebagai instrumen safe haven?” tanyanya.
Baca Juga
Yield USTreasury 10-Tahun Menembus Level 4,5%, Pertanda Apa?
Membenarkan apa yang disampaikan Hasan Zein, Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menyebut dunia memang mulai mempertanyakan posisi T-Bonds dan T-Bills sebagai instrumen safe haven. Hal ini tak terlepas dari situasi fiskal yang dihadapi oleh AS saat ini, termasuk potensi sell off dua instrumen andalan tadi oleh para investor global akibat blunder penetapan tarif yang dilansir Trump. Apesnya, kata Wijayanto, aksi sell off US Treasury terjadi di tengah kebutuhan AS yang harus merefinancing utangnya sebesar hampir US$ 9,2 triliun pada tahun ini.
“Maka bisa dipahami jika akhirnya Trump pun tekuk lutut menunda kenaikan tarif selama 90 hari,” ujar Wijayanto kepada Maulana Kautsar Rahmad lewat pesan singkatnya. Artinya, Trump juga tampaknya ‘keder’ jika gejolak fiskal yang terjadi akibat penerapan tarif impor bisa membuat pasar tak lagi percaya pada surat utang yang diterbitkan pemerintahannya.
Sepakat dengan Wijayanto, peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan di LPEM FEB UI Teuku Riefky menyebut, dengan tingkat yield US Treasury yang makin meningkat sebagai bentuk penurunan demand di tengah eskalasi perang tarif bisa diartikan pasar dunia tak lagi menjadikannya sebagai safe haven. “Nampaknya yang kini jadi safe haven adalah emas dan mata uang dolar,” tuturnya.
China Ancam Lepas US Treasury
Jika Wijayanto menganggap ancaman China yang diprediksi akan melepas portofolio US Treasury-nya sebagai kebijakan kental politis, buat Riefky langkah tersebut dianggapnya sebagai strategi untuk menurunkan harga yang diharapkan bisa diikuti oleh negara-negara lainnya.
“China potensinya sangat besar (melepas US Treasury) karena AS mau menerapkan tarif 245% terhadap produk dari China,” ujarnya. Dengan peningkatan tarif signifikan oleh AS, bisa dipastikan Amerika Serikat juga bakal menghadapi potensi inflasi tinggi, akibat terkereknya harga di domestik.
Setidaknya, dengan langkah pelepasan US Treasury oleh China, maka Trump akan merasakan ‘karma’ dengan melonjaknya tingkat yield, dan kepercayaan publik global terhadap surat utang AS bisa meluntur, dan setiap pelepasan surat utang berikutnya AS akan menghadapi risiko undersubscribe.
Mengomentari potensi China melepas T-Bonds dan T-Bills, bagi pengajar Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Prof Syafruddin Karimi, memang bisa dipandang sebagai langkah balasan atas perang tarif, dan patut diantisipasi sebagai bagian dari strategi tekanan balik terhadap Amerika Serikat.
Sebagai pemegang asing terbesar atau kedua terbesar surat utang pemerintah AS, China memiliki kartu yang sangat strategis di tengah konflik dagang yang terus memanas. “Ketika Presiden Trump terus menaikkan tarif hingga lebih dari 245 persen, sementara China membalas dengan boikot dan penghentian ekspor logam tanah jarang, maka opsi melepaskan sebagian kepemilikan Treasuries bisa menjadi eskalasi finansial berikutnya,” kata Syafruddin.
Menurut Syafruddin, dalam konteks geopolitik dan ekonomi, langkah ini akan dibaca dunia sebagai sinyal bahwa Beijing tidak hanya bereaksi melalui perdagangan barang dan jasa, tetapi juga siap memanfaatkan pengaruhnya di pasar keuangan global.
“Pelepasan treasuries secara besar-besaran akan menaikkan yield obligasi AS, meningkatkan biaya pinjaman pemerintah AS, dan memperlemah nilai dolar secara temporer. Hal ini akan menciptakan efek kejut bagi pasar keuangan global yang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen terhadap aset-aset safe haven,” ujarnya.
Namun menurutnya China kemungkinan tidak akan mengambil langkah ini secara drastis karena dua alasan utama. Pertama, penurunan harga obligasi akibat aksi jual akan menggerus nilai portofolio yang masih mereka miliki, sehingga China justru bisa merugi secara finansial. Kedua, langkah seperti itu bisa dianggap sebagai "nuclear option" dalam perang ekonomi dan akan memicu ketegangan geopolitik yang lebih dalam serta memperkuat citra China sebagai aktor destabilizing di mata pasar global.
“Maka, jika China memilih jalur ini, mereka akan melakukannya secara terukur, bertahap, dan dengan strategi diversifikasi portofolio ke mata uang dan aset lain seperti euro, yen, atau emas. China juga bisa menggunakan bank sentral bayangan atau entitas off-shore untuk menjual secara tidak langsung agar tidak memicu lonjakan pasar yang tajam,” ujar Syafruddin.
Dengan demikian, lanjutnya, pelepasan US Treasuries oleh China akan dirancang agar memberi tekanan maksimal pada AS tanpa menciptakan ketidakstabilan yang merugikan posisi strategis China sendiri.
Langkah pelepasan US Treasury oleh China sebagai bentuk perlawanan juga diamini oleh Myrdal Gunarto, ekonom PT Maybank Indonesia. “Kalau kita lihat stance dari pemerintah China, sangat kuat ya dalam menghadapi perang dagang ini. Mereka kelihatannya juga efortnya begitu keras ya, sampai Xi Jinping melakukan kunjungan ke negara-negara ASEAN,” kata Myrdal.
“Kemungkinan mereka akan fight untuk melawan pelakuan dari Donald Trump. Ada kemungkinan mereka akan kurangi kepemilikan di US Treasury. Kalau misalkan ada pelakuan yang lebih parah lagi dari Donald Trump, bisa jadi mereka kurangi kepemilikan US Treasury-nya lebih masif lagi,” imbuh Myrdal.
Soal potensi dua produk surat utang AS ini akan kehilangan pamornya sebagai safe haven, Syafruddin mengabaikan pendapat ini. Menurutnya US Treasuries secara struktural masih dianggap sebagai safe haven, kendati kepercayaan investor global terhadap instrumen ini mulai tergerus karena ketidakpastian kebijakan fiskal dan geopolitik Amerika Serikat.
Pamor US Treasury sebagai Safe Haven Meluntur
Sementara Wijayanto Samirin menyebut bisa saja T-Bills dan T-Bonds akan kehilangan posisi sebagai Safe Haven jika Trump terus menabuh genderang perang tarif-nya. “Dugaan saya, Trump tidak akan berani, ia akan mundur pelan-pelan, sambil mencari cara untuk menyelamatkan muka,” kata Wijayanto.
Pendapat berbeda disampaikan Yanuar Rizky, ekonom Aspirasi Indonesia Research Institute. Menurutnya aksi jual banyak investor terhadap T-Bond sebelum pause kebijakan tidak bisa diartikan sebagai tanda ditinggalkannya instrumen tersebut sebagai safe haven secara permanen.
Terkadang, menurut Yanuar, aksi jual itu bukan berarti mereka tak percaya lagi pada T-Bond sebagai penyimpan nilai jangka panjang, tapi bisa jadi hanya karena ingin mengatur ulang posisi portofolio menjelang perubahan besar seperti penerapan kebijakan tarif, yang bisa memicu volatilitas atau ketidakpastian pasar.
Untuk bisa menyimpulkan memahami aksi investor tadi, lanjutnya, maka perlu diperdalam lagi apakah investor sedang mengambil posisi long dengan memegang T-Bond dengan harapan nilainya naik atau untuk lindung nilai terhadap inflasi, ataukah dalam posisi short sehingga menjual T-Bond sebagai bentuk spekulasi harga turun serta mengalihkan dananya ke instrumen lain.
Baca Juga
Meningkatnya Permintaan Aset Safe Haven Dorong Kenaikan Harga Emas
“Posisi Short, artinya cash in portopolio direalokasi ke portopolio lainnya, baik itu profit taking dan atau memperbaiki posisi long itu sendiri,” kata Yanuar.
Menurutnya meskipun short-selling terhadap T-Bond akan memicu volatilitas, perhitungan suku bunga riil akan mengarahkan investor untuk membentuk posisi long di instrumen lain, dan bukan berarti semua dana ditarik jadi cash. Dana hanya dipindahkan, bukan ditarik keluar dari pasar.
“Jika dilihat dari penjualan US T Bond 10 tahun adalah untuk menaikan yield agar dapat merespons kenaikan (forward) inflasi 5 tahun AS yang akan naik karena tarif. Dengan posisi ini, long safe haven di T Bond tenor 10 tahun yang berhimpit dengan emas, tercapai dalam pola tren jangka panjang keduanya, US Real Interest Rate linear dengan Harga Emas,” kata Yanuar.
Sementara mengenai potensi China melepas T-Bonds, bisa saja dibaca sebagai langkah psy war dari China. Namun di sisilai jika dibaca posisi short jual, dan kemudian diambil kembali setelah Yield nya setara dengan harga emas, sama saja dengan melakukan posisi forward atas inflasi selama 5 tahun.
Sedangkan terhadap proyeksi Jepang yang akan ikut melepas T-Bonds, menurut Yanuar sejatinya langkah itu merupakan kebijakan Bank Sentral Jepang yang memang ingin melepas porsi surat utang di neracanya, atau normalisasi.

