Hindari Gaya Hidup Konsumtif, OJK Minta Kaum Muda Jangan FOMO dan FOPO
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan, banyak generasi muda di seluruh dunia terjerat gaya hidup yang konsumtif. Hal ini tak lain karena adanya perasaan fear of missing out (FOMO) dan fear of other people opinion (FOPO), hingga prinsip hidup you only live once (YOLO).
"Mereka menggunakan, memanfaatkan kemudahan-kemudahan untuk mendapatkan pinjaman untuk sekedar membeli tiket konser, membeli pakaian-pakaian, membeli produk-produk yang konsumtif yang sebenarnya tidak terlalu mendesak. Jadi titip teman-teman, jangan FOMO, jangan FOPO hanya karena YOLO," ujar wanita yang akrab disapa Kiki tersebut dalam acara Investortrust Goes to Campus "Financial Literacy" di Binus University, Jakarta, Selasa (11/6/2024).
Lebih lanjut, Kiki pun membeberkan bahaya dari menggunakan produk-produk keuangan secara tidak bertanggung jawab. Seperti kebutuhan utama menjadi tidak terpenuhi, ketergantungan untuk berbelanja hingga pada akhirnya terjerat pada utang alias besar pasak daripada tiang.
Baca Juga
OJK Tekankan Pentingnya Literasi Keuangan Bagi Generasi Muda, Kunci Siapkan Masa Depan dengan Baik
Bahkan kata Kiki, ada yang lebih bahaya lagi bagi para Gen Z dari perilaku seperti ini. Apalagi seluruh informasi di sektor keuangan sekarang sudah terkoordinasi dengan yang namanya Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Di mana perilaku masyarakat di sektor keuangan sudah terintegrasi ke dalam sistem ini.
"Misalnya si A pernah hutang kepada paylater atau si D pernah menunggak cicilan kartu kredit atau si C punya hutang cicilan motor tidak bayar dan kemudian kabur begitu aja. Semua bisa terlihat di sistem layanan informasi keuangan, seperti kami misalnya. Misalnya waktu itu menjadi anggota dewan komisioner akan dicek kredibilitas dan integritas keuangannya di dalam sistem ini," jelas Kiki.
Sehingga, lanjut Kiki, hal ini akan membuat para generasi muda yang tidak bertanggung jawab dalam menggunakan berbagai produk keuangan bakal kesulitan untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga finansial hingga mencari pekerjaan.
"Para pemberi kerja, your employer will check your financial credibility. Di dalam yang what so called SLIK ini. Nanti namanya akan berubah menjadi OJK checking. Banyak anak-anak muda yang pintar, yang kemudian berprestasi, tetapi secara keuangan tidak berintegritas, tidak punya kredibilitas. Akhirnya ia yang tadinya mungkin bisa masuk ke dalam posisi-posisi pekerjaan tersebut, akhirnya tidak bisa karena ada catatan buruk pada keuangannya," ujar Kiki.
Di sisi lain, Kiki mengingatkan kepada para generasi muda untuk selalu berhati-hati dalam menggunakan produk-produk keuangan di tengah berbagai kemudahan yang diberikan. "Sekali lagi jangan FOMO, jangan YOLO, jangan FOPO," imbaunya.

