BI Ingin Produk Instrumen Domestik dapat Jadi Penopang Stabilitas Rupiah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) menjaga koordinasi kebijakan dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Salah satu aksi yang dilakukan BI yaitu membeli surat berharga negara (SBN) pada saat dibutuhkan. Upaya ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Dan sebaliknya juga, kita bisa melakukan penjualan SBN pada saat waktu yang tepat,” kata Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, saat menjadi pembicara kunci di Central Banking Forum 2026, di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Destry berharap dapat membuat produk-produk dari instrumen domestik menarik. Kalau dilihat, dalam sepekan terakhir SBN terus mengalami inflow.
Hingga 8 April 2026, BI mencatat aliran modal atas kepemilikan SBN tercatat sebesar Rp 199,1 triliun dari non bank, Rp -21,1 triliun untuk non residen, dan Rp 57,5 triliun untuk bank.
Baca Juga
Rupiah Melemah 2,39% Sejak Awal 2026, BI Janji Optimalkan Instrumen Moneter 24 Jam
Sementara itu, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) bergerak positif. Dengan kenaikan imbal hasil SRBI, terjadi inflow SRBI. Hingga 8 April, SRBI mengalami aliran dana masuk sebesar Rp 29,08 triliun.
“Dan SRBI juga beberapa kali lelang, inflow asingnya juga masuk cukup banyak,” kata dia.
Selain mengelola operasi moneter, BI juga mengeluarkan kebijakan untuk mengatur jual beli valuta asing. Menurut Destry, saat ini terdapat aturan untuk menyampaikan underlying jika hendak menukar dolar di atas US$ 50.000.
“Jadi kalau sebelumnya US$ 100.000 sekarang kami sudah mengeluarkan aturan transaksi di atas US$ 50.000 itu bisa dilakukan tapi ada underlying-nya yang jelas,” ucap dia.
Baca Juga
Jurus Ginandjar Kartasasmita Pulihkan Rupiah saat Krisis 1998: Kepercayaan Jadi Kunci
Tak hanya itu, Destry mengatakan BI juga mendorong transaksi berdasarkan local currency transaction atau LCT. Transaksi dengan negara lain tersebut didorong tak selalu menggunakan dolar AS, melainkan dapat menggunakan mata uang negara yang bersangkutan.
“Transaksi kita dengan China, Jepang saja, per bulan sudah mencapai Rp 3-3,5 miliar per bulan. Kalau kita bisa langsung dengan LCT dan bisa diperluas, tentunya kan tekanan terhadap rupiah-dolar AS bisa kita kurangi,” kata dia.

