OJK Optimistis Kredit Perbankan Tumbuh 12% di Tahun Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 berada di kisaran 10%-12%, sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan pemerintah dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan, optimisme tersebut harus dibarengi dengan pendalaman pasar keuangan guna mendukung berbagai program pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kita terus berkomitmen untuk bersinergi dengan pemerintah dan juga seluruh pihak (termasuk) Bank Indonesia (BI) dan seluruh stakeholder lainnya untuk bagaimana bersama-sama mensukseskan program-program tersebut dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya dalam Press Conference "Indonesia Economic Outlook 2026", di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Baca Juga
Di Indonesia Economic Outlook, Prabowo Singgung Pengusaha Besar Kerap Minta Restrukturisasi Kredit
Menurut Friderica, OJK berkomitmen penuh mendukung program-program nasional yang diarahkan Presiden, termasuk dalam memperkuat peran sektor jasa keuangan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Kita tadi semua mendengarkan arahan Bapak Presiden bagaimana beliau menyampaikan program pemerintah, program nasional yang sangat luar biasa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Baca Juga
Didorong Kredit Investasi, OJK Catat Total Kredit Perbankan Tumbuh 9,6%
Menurut Friderica, terdapat sejumlah fokus kebijakan OJK pada 2026. Salah satunya, penguatan permodalan sektor jasa keuangan agar lebih resilien dalam menghadapi dinamika global dan domestik.
Kemudian, lanjutnya, reformasi integritas sektor di sektor pasar modal melalui peningkatan free float saham dari 7,5% menjadi 15%. Serta, pembukaan informasi ultimate beneficial owner (UBO) di atas kepemilikan 1%.
Selain itu, OJK juga mendorong peningkatan kualitas dan granularity data investor melalui pengembangan sistem di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dari sebelumnya sembilan menjadi 28 data investor.

