Bagikan

Bank Jago, BEI, dan Stockbit Ajak Masyarakat Jadi Investor Realistis

Poin Penting

Bank Jago, BEI, dan Stockbit menekankan pentingnya membangun investor yang realistis dan berorientasi jangka panjang.
BEI mengingatkan investor untuk selalu berpegang pada prinsip 2L (Legal dan Logis) agar terhindar dari penipuan.
Investor pengguna aplikasi Jago didominasi generasi muda (Gen Z dan milenial).

JAKARTA, investortrust.id - Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi, masih banyak calon investor yang memulai tanpa pemahaman memadai mengenai tujuan, risiko, dan proses investasi. Untuk mendorong praktik investasi yang sehat, terencana dan berorientasi jangka panjang, PT Bank Jago Tbk (ARTO) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Stockbit mendorong masyarakat untuk menjadi investor realistis.

Head of PR & Communication Bibit & Stockbit William mengungkapkan, persepsi keliru tentang investasi terbentuk karena publik lebih sering disuguhi kisah cuan instan di media dan media sosial. Sementara proses, risiko, dan perjalanan jangka panjang jarang disorot.

“Tanpa disadari, ini membentuk persepsi bahwa investasi adalah sesuatu yang selalu cepat dan mudah. Padahal, ada proses dan risiko yang harus diperhatikan,” ujarnya, dalam keterangan pers, Senin (2/2/2026).

Baca Juga

Bukan Emas dan Bitcoin, Survei JPMorgan Sebut Keluarga Kaya Justru Lirik Investasi Ini

Divisi Pengembangan Pasar BEI Teja Amanda Putra mengingatkan pentingnya prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis, dalam setiap keputusan investasi. Produk investasi, kata dia, harus terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta sesuai dengan profil risiko investor.

“Mengabaikan hal ini sama saja membuka pintu bagi penipuan berkedok cuan,” katanya.

Sementara itu, Digital Product Lead Bank Jago Yusuf Aria Putera mengatakan, untuk mendukung kebiasaan investasi yang sehat, pihaknya menghadirkan fitur kantong pada aplikasi Jago. Yang memungkinkan pengguna memisahkan dana berdasarkan tujuan keuangan.

Pengguna dapat membuat hingga 60 kantong untuk kebutuhan harian, tabungan maupun investasi. Sehingga pengelolaan dana menjadi lebih terkontrol dan terencana.

“Kantong di aplikasi Jago dapat terhubung langsung dengan aplikasi Stockbit dan Bibit. Integrasi ini juga didukung dengan RDN (rekening dana nasabah) Jago yang memungkinkan pengguna membeli saham, obligasi, dan reksa dana,” ucap Yusuf.

Baca Juga

IHSG makin Terpuruk Jatuh 2% dalam 10 Menit Transaksi, Big Cap kembali Berguguran

Saat ini, kata dia, lebih dari 3 juta pengguna aplikasi Jago telah terhubung dengan Bibit dan Stockbit, meningkat 38% dalam setahun. Para nasabah tersebut telah membuat hampir 4,5 juta kantong untuk tujuan investasi, dengan lebih dari separuhnya menggunakan RDN Jago.

“Kesadaran nasabah Bank Jago untuk berinvestasi meningkat pesat setiap tahunnya, terlihat dari nilai investasi mereka di Bibit dan Stockbit yang meningkat hampir 80% sepanjang 2025,” ujar Yusuf.

Secara demografi, sekitar 95% investor pengguna aplikasi Jago berada di usia produktif 17-44 tahun. Generasi Z mendominasi hampir 65%, disusul milenial sekitar 30%. Bahkan, lebih dari 5% investor berasal dari kelompok usia 17-19 tahun.

Sebagai panduan bagi investor pemula, Yusuf memperkenalkan konsep 3C, yaitu curious, critical, dan conscious. Menurutnya, investor perlu terus belajar bersikap kritis dalam menyaring informasi, serta mengambil keputusan investasi secara sadar dan sesuai kondisi pribadi.

“3C bukan sekadar konsep, tapi kompas dalam berinvestasi. Curious membuat kita terus bertumbuh tanpa kehilangan kendal, critical melindungi dari keputusan impulsif, dan conscious menjaga agar kita tidak salah arah,” katanya.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024