AAJI Catat Premi Asuransi Jiwa Terkontraksi 1,1% Jadi Rp 133,22 Triliun di Kuartal III 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat, pendapatan premi dari industri asuransi jiwa terkontraksi tipis 1,1% dari Rp 134,76 triliun pada kuartal III 2024 menjadi Rp 133,22 triliun di periode yang sama tahun ini.
Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon mengungkapkan, penurunan premi tersebut dipengaruhi oleh penurunan premi tunggal di tengah pemulihan daya beli masyarakat. Sementara itu, premi reguler justru tumbuh konsisten 5% menjadi Rp 83,04 triliun.
“Ini menunjukkan masyarakat lebih berhati-hati dan memilih pembayaran berkala yang lebih terjangkau,” ujarnya, dalam keterangan pers, Senin (8/12/2025).
Baca Juga
Sementara itu, Ketua Bidang Kanal Distribusi dan Inklusi Tenaga Pemasar AAJI Albertus Wiroyo mengatakan, industri asuransi jiwa membayarkan klaim dan manfaat sebesar RP 110,44 triliun kepada 6,92 juta penerima manfaat di kuartal III 2025. Nominal tersebut, menurun 7,9% dibanding periode yang sama 2024 yaitu Rp 119,97 triliun.
“Penurunan ini terutama berasal dari klaim surrender yang turun 18,7%, menandakan semakin baiknya retensi polis. Pemegang polis kini tidak lagi terburu-buru mencairkan polis mereka untuk kebutuhan jangka pendek,” katanya.
Di sektor kesehatan, lanjut Wiroyo, pembayaran klaim turun 7,5% menjadi Rp 19,35 triliun, diberikan kepada 3,19 juta orang. Nilai klaim kesehatan rata-rata per orang juga mengalami penurunan dari Rp 7 juta menjadi Rp 6,07 juta.
“Perbaikan di lini kesehatan mulai terlihat. Ini momentum bagi industri untuk memperkuat tata kelola manfaat kesehatan dan menjaga keberlanjutan layanan,” ucapnya.
Menurut Ketua Bidang Operational of Excellence AAJI Yurivanno Gani, industri asuransi jiwa tetap berada di posisi yang sehat, tercermin dari total aset yang mencapai Rp 648,58 triliun di kuartal III 2025, tumbuh 3,2% secara year on year (yoy).
Lalu hasil investasi melesat 25,5% dari Rp 26,95 triliun di kuartal III 2024 menjadi Rp 33,81 triliun di periode yang sama tahun ini. Naiknya hasil investasi, sejalan dengan diversifikasi investasi di sejumlah instrumen yang diperkenankan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Gani merinci, surat berharga negara (SBN) tumbuh 15,2% dengan kontribusi terhadap total investasi 41,5% atau setara Rp 236,88 triliun. Saham mengalami penurunan 14% dengan kontribusi terhadap total investasi 21,8% atau senilai Rp 124,57 triliun.
Baca Juga
Reksa dana menurun 2,4% dengan kontribusi 12,4% dari total investasi atau setara Rp 70,60 triliun. Sukuk korporasi tumbuh 16% dan berkontribusi 9,4% dari total investasi atau senilai Rp 53,92 triliun. Serta, deposito menurun 4,1% dengan kontribusi terhadap investasi 5,8% atau setara Rp 33,17 triliun.
“Dominasi produk tradisional mendorong industri untuk memilih instrumen investasi yang aman dan berjangka panjang, sehingga pembayaran manfaat kepada para pemegang polis dapat terjamin meski ekonomi bergerak dinamis,” ujar Gani.

