Timothy Ronald Ungkap Strategi Floq Jadi Platform Kripto Ramah Pemula
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Penggiat dan edukator kripto Timothy Ronald blak-blakan soal platform exchange kripto yang ia dirikan bersama mantan CEO Tokocrypto Yudhono Rawis, yakni Floq. Platform ini diklaim sebagai gerbang ramah pemula untuk masuk ke dunia aset digital, dengan kemudahan transaksi menggunakan rupiah.
Floq dirancang untuk menurunkan hambatan masuk ke dunia kripto, terutama bagi masyarakat yang baru mengenal aset digital. Melalui antarmuka yang sederhana dan fitur transaksi dengan mata uang lokal, Floq menargetkan inklusi digital di sektor keuangan baru ini.
Baca Juga
“Bisa untung, cuma menurut saya enggak akan signifikan,” ujar Timothy, yang kini dikenal luas di kalangan investor muda dalam wawancara eksklusif bersama Investortrust dikutip, Sabtu (11/10/2025).
Ia menambahkan, meski potensi keuntungan ada, sektor exchange kripto di Indonesia sudah sangat kompetitif. Menurutnya, sulit bagi platform baru, seperti Floq untuk mengejar margin besar. “Kalau buat ngejar 10% dari portofolio saja, butuh waktu sampai mati duluan,” ujarnya berseloroh.
Meski begitu, Timothy menegaskan bahwa Floq bukan sekadar bisnis, melainkan bentuk kontribusi kepada industri dan masyarakat. Ia menyebut misi utamanya adalah membantu masyarakat — terutama yang di luar kota besar — agar bisa mengakses aset digital secara mudah dan aman. “Bisa onboarding orang dari daerah yang enggak punya akses beli kripto, jadi mereka bisa ikut bagian dari industri ini. Itu menurut saya giving back ke industrinya juga,” kata Timothy.
Hingga kini, Floq telah mencatat lebih dari 1 juta pengguna, angka yang menurut Timothy merupakan salah satu pertumbuhan tercepat di antara platform sejenis.
Beli Bitcoin mulai dari Rp 1.000
Floq mengusung konsep aksesibilitas tinggi dengan pengguna bisa membeli Bitcoin mulai dari Rp 1.000. Langkah ini terinspirasi dari pengalaman pribadi Timothy ketika dulu kesulitan membeli aset kripto di Indonesia. “Waktu Pak Oscar (pendiri Indodax) belum bikin platform, saya enggak bisa beli Bitcoin. Saya enggak akan jadi Timothy yang sekarang kalau dulu enggak bisa belajar dari situ. Jadi Floq ini semacam legacy buat saya,” tuturnya.
Selain Floq, Timothy juga mengembangkan Akademi Crypto, platform edukasi kripto yang didirikannya pada Desember 2022. Ia berharap akademi tersebut bisa menjadi pusat pembelajaran terlengkap untuk trading, investasi, hingga teknologi blockchain di Indonesia.
“Kripto tuh bukan cuma trading. Saya pengen kasih tahu cara programming smart contract, cara analisis proyek, sampai bikin token sendiri,” jelasnya.
Baca Juga
Industri Kripto Indonesia Melesat, OJK Dikabarkan Terima Pengajuan Dua Bursa Baru
Akademi Crypto disebut telah memiliki ribuan modul, yang mencakup riset pasar dari sumber global seperti Bloomberg dan Nansen.
Dengan visi itu, Timothy ingin membentuk ekosistem kripto yang lebih teredukasi dan berkelanjutan di Indonesia, tidak hanya sekadar tren sesaat.

