BRIS Punya Dua Amunisi untuk Masuk Jajaran Top 3
JAKARTA, Investortrust.id – PT Bank Syariah Indonesia Tbk punya dua amunisi yang akan membuatnya meraksasa dan mampu bersaing dengan bank-bank konvensional KBMI 4 dari sisi ukuran aset, layanan hingga, jaringan.
Disampaikan Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk Hery Gunardi, dua amunisi yang mampu membawanya menjadi bank di jajaran tiga besar nasional pertama adalah statusnya sebagai bank syariah. Dengan statusnya sebagai bank syariah, maka bank berkode bursa BRIS ini akan menikmati kemewahan sebagai tempat labuhan tabungan haji para calon jamaah haji nasional yang jumlahnya cukup besar.
“Kita memiliki luxury yang gak dimiliki oleh bank konvensional. Pemerintah, bersyukur, sebentar lagi Pak Menteri Agama datang, akan memberikan mandat bahwa tabungan haji itu gak boleh ditabung di bank konvensional. Adanya di bank syariah,” kata Hery Gunardi saat berbuka puasa bersama dengan para pemimpin media massa di Jakarta, Jumat (7/3/2025).
Sekadar gambaran, Hery memaparkan saat ini ada hampir 22 juta penduduk Indonesia yang memenuhi syarat untuk berangkat ibadah haji ke Makkah. Sementara yang menyimpan dana tabungan hajinya di BSI dan juga bank syariah lainnya ternyata baru sebatas 5 juta nasabah saja.
Hery pun mengeklaim bahwa BSI punya cara untuk menarik 17 juta nasabah calon jamaah haji lainnya untuk melabuhkan dana tabungan hajinya di BSI, tanpa mengharapkan imbalan dari bank, termasuk berupa return.
“Kita ubah pola untuk mengumpulkan (tabungan haji) ini. Januari lalu, kita bisa meraih hampir Rp1 triliun sebulan di tabungan haji. Jadi kalau 1 triliun dikalikan 12 akan terkumpul dana tabungan sebesar Rp 12 triliun. Dan cost of fund-nya nol karena (menggunakan akad) Wadiah. Itu salah satu berkah bagi bank syariah,” tuturnya.
Akad wadiah dalam perbankan syariah mengacu pada akad tentang penitipan barang atau uang. Dengan kata lain, wadiah adalah sebuah aktivitas yang mencakup tentang penitipan barang yang dilakukan antara pihak yang ingin melakukan penitipan kepada pihak yang memiliki kuasa untuk melakukan penitipan serta mendapatkan kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, keamanan, serta keutuhan barang atau uang tersebut.
Dalam aktivitas perbankan syariah, maka akad wadiah ini bersifat simpanan yang bisa diambil kapan saja (on call) atau berdasarkan kesepakatan. Dan terpenting bagi bank, dalam akad wadiah ini tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat sukarela.
Nah di BSI, menurut Hery, baik tabungan maupun giro yang ditawarkan lewat akad wadiah saat ini mencapai 30% dari total dana pihak ketiga yang totalnya mencapai Rp327,45 triliun pada tahun 2024.
“Termasuk tabungan Wadiah, Giro Wadiah, hari ini mungkin (porsinya) lebih dari 30 persen DPK BSI bentuknya adalah Wadiah. Wadiah itu artinya nasabahnya hanya nitip dan tidak minta apa-apa dari kita,” kata Hery.
Maka tak salah jika BSI, lanjut Hery, kini fokus untuk meningkatkan porsi tabungan haji sebagai engine pertumbuhan, mengingat dampak berupa cost of fund yang cukup rendah yang bisa dinikmati oleh BSI. “BSI pun bisa bersaing dengan bank-bank yang lain. Ini kan namanya game changer ya. Growth story yang orang lain gak punya,” kata Hery.
Dalam kesempatan tersebut Hery memaparkan lanskap industri tabungan haji, dari hampir 22 juta calon jamaah haji pada tahun 2024, sebanyak 11,8 juta atau 57,3% calon jamaah telah memiliki tabungan haji, sementara sisanya 8,8 juta atau 42,7% belum punya tabungan haji. Nah dari total pemilik tabungan haji tadi, sebanyak 52,54% di antaranya adalah pemilik tabungan haji di BSI.
BSI sebagai Bullion Bank
Nah amunisi berikutnya yang menjadi growth story bagi BSI adalah statusnya sebagai bullion bank atau bank emas, yang belum lama ini diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto. BSI merupakan satu dari dua institusi di Indonesia yang telah ditunjuk oleh pemerintah untuk memberikan layanan bullion bank. Mengingat BSI merupakan bank satu-satunya yang telah ditunjuk untuk memberikan bullion bank services, maka lanjut Hery, perseroan akan punya fleksibilitas untuk bertumbuh lebih tinggi dari industri.
Mengulang cerita saat peresmian bullion bank pada pekan lalu, Hery menyebut bahwa saat ini terdapat 1.800 ton emas yang beredar di masyarakat. Separuhnya merupakan emas hasil dari pertambangan, sementara sisanya merupakan perhiasan dan emas batangan yang disimpan oleh masyarakat.
Dengan layanan bullion bank, BSI menawarkan masyarakat untuk menyimpan emasnya di lembaga finansial formal seperti BSI. Perseroan sendiri saat ini sudah mengelola sekitar 17,5 ton emas milik nasabah.
Menariknya, kata Hery, jika otoritas jasa keuangan berkenan menjadikan emas simpanan di BSI disamakan statusnya sebagai dana pihak ketiga, maka dengan serta merta BSI telah mendapatkan tambahan DPK senilai Rp25 triliun.
BSI pun kini giat menyiapkan tiga kanal bagi masyarakat yang ingin emasnya dikelola BSI. Pertama adalah lewat aplikasi superApp BSI dengan jenama Byond. Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan maupun berinvestasi dalam bentuk emas, mereka bisa mendapatkan emas secara digital baik secara tunai maupun cicilan lewat fitur yang tersedia di Byond by BSI.
Kanal berikutnya adalah BSI Gold, produk emas batangan yang didesain dengan logo BSI, dan tersedia di sejumlah cabang perseroan. Masyarakat pun bisa mendapatkan emas dari BSI Gold, bahkan hingga 1 kg emas.
Berikutnya kanal ketiga yang kini dikembangkan oleh BSI adalah ATM Emas BSI. Nantinya perseroan akan menyediakan 50 titik ATM Emas BSI, yang salah satunya telah tersedia di Senayan City, Jakarta. Lewat ATM Emas BSI, masyarakat bisa membeli emas dari gramasi terkecil sebesar 5 gram, hingga 25 gram.
“Nah saya melihat antusiasmenya cukup tinggi. Apalagi nanti ATM-nya makin banyak,” kata Hery.
Sementara itu bicara kinerja BSI di 2024, Hery memaparkan perseroan berhasil mencetak laba bersih Rp7,01 triliun, atau bertumbuh double digit 22,83% secara tahunan (yoy). Dengan pertumbuhan laba bersih 22,83% yoy pada 2024, BSI menjadi salah satu di jajaran Top 10 Bank yang mencatatkan pertumbuhan kinerja tertinggi. Pencapaian laba yang tinggi tidak terlepas dari pengelolaan dana pihak ketiga (DPK) yang tepat serta pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang tepat dan sustain.
Di tengah ketatnya kompetisi likuiditas sektor perbankan, BSI mencatat pertumbuhan DPK sebesar 11,46% menjadi Rp327,45 triliun. Pencapaian ini ditopang oleh dana murah (CASA) yang mencapai rasio 60,12% dari total DPK. Sepanjang 2024, CASA BSI mencapai Rp197 triliun atau naik 10,65% yoy. Tercatat, DPK BSI dari produk-produk tabungan mencapai Rp140,53 triliun, disusul deposito Rp130,58 triliun, dan giro Rp56,33 triliun. Pengelolaan DPK yang tepat memberikan dampak positif pada penurunan beban bagi hasil.
"Ini berkah menurut saya mudah-mudahan akan berlanjut terus pertumbuhan kita. Dan BSI akan bisa tidak hanya jadi bank nomor 5, tapi juga bisa menjadi bank 3 besar di Indonesia. Insyaallah, amin," kata Hery.

