BTN Tuntaskan Akuisisi Victoria Syariah, KNEKS : Jadi Katalis Positif Perbankan Syariah Tanah Air
JAKARTA, investortrust.id – Akuisisi PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) terhadap 100% saham Bank Victoria Syariah (BVIS) bukan hanya mendatangkan kebahagiaan bagi manajemen kedua bank tersebut. Aksi ini juga berimbas posisitf terhadap pengembangan industri syariah di Tanah Air.
Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mengapresiasi keputusan BTN untuk memisahkan unit usaha syariah BTN menjadi bank umum syariah melalui akuisisi Bank Victoria Syariah. Kehadiran bank umum syariah (BUS) baru BTN Syariah akan menjadi katalis positif bagi industri perbankan syariah sekaligus memberikan pilihan bagi masyarakat.
“Seperti yang juga diharapkan OJK, kehadiran BTN Syariah hasil spin off bisa bahu membahu bersama Bank Syariah Indonesia (BSI) dalam mengakselerasi pertumbuhan industri perbankan dan keuangan syariah di tanah air. Barakallahu fi kum, semoga semua pihak yang terlibat dalam proses ini mendapat berkat. Ini kado indah di awal tahun,” kata Direktur KNEKS Sutan Emir Hidayat di Jakarta, Senin (20/1/2025).
Baca Juga
Bos BTN (BBTN) Beberkan Alasan Akuisisi Bank Victoria Syariah
Emir berharap langkah BTN dalam menyapih UUS dapat ditiru bank syariah lain yang memang sudah memenuhi kriteria dan syarat spin off. Semakin banyak UUS yang naik kelas menjadi BUS bakal memberikan peluang lebih besar bagi pertumbuhan industri. “Pada akhirnya masyarakat yang diuntungkan karena mendapatkan banyak pilihan untuk menikmati jasa dan produk keuangan syariah yang mumpuni dan dapat diandalkan untuk pemenuhan kebutuhan finansial sehari hari,” katanya.
Emir menjelaskan, pertumbuhan industri perbankan syariah sejatinya cukup menggembirakan selama beberapa tahun terakhir. Namun, market share dibandingkan industri perbankan konvensional masih jauh tertinggal. Otoritas Jasa Keuangan mencatat aset industri perbankan syariah sebesar Rp935,4 triliun per November 2024, setara 7,45% dari total aset perbankan nasional. “Market share ini belum ideal dan perlu ditingkatkan, baik secara organik maupun anorganik melalui affirmative policy. Munculnya BUS baru dengan size lebih besar juga bagian dari ikhtiar untuk mempercepat pertumbuhan industri,” kata Emir.
Dalam keterbukaan informasi hari ini, manajemen BTN menyatakan aksi korporasi BTN terhadap BVIS merupakan bagian dari rencana strategik perseroan untuk membentuk suatu bank umum syariah (BUS) melalui strategi anorganik.
“BTN menilai perkembangan perekonomian syariah di Indonesia perlu didukung dengan adanya pemain yang memiliki kekuatan daya saing atau competitive advantage dengan proposisi layanan perbankan dan keuangan komprehensif untuk sektor perumahan. Aksi korporasi ini akan mendukung pengembangan BTN Syariah untuk memenuhi posisi tersebut dan menjawab kebutuhan nasabah di pasar syariah,” kata Direktur Utama BTN Nixon L.P Napitupulu.
Baca Juga
Ekonomi Syariah Dapat Jadi Pengungkit Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ke 8%
BTN bersama PT Victoria Investama Tbk (VICO) dan PT Bank Victoria International Tbk (BVIC), pemegang saham pengendali BVIS, telah menandatangani perjanjian jual beli bersyarat (CSPA) pada 15 Januari lalu. Berselang dua hari kemudian, BTN meraih izin prinsip dari Otoritas Jasa Keuangan.
Setelah penandatanganan CSPA dan persetujuan prinsip dari OJK, maka proses berikutnya adalah meminta persetujuan pemegang saham. BTN dan BVIS dijadwalkan menggelar RUPSLB pada Maret mendatang. “Setelah itu, kita mengajukan lagi izin ke OJK untuk mendapatkan persetujuan yang bersifat definitif terkait akuisisi ini. Pada tahap ini, regulator akan menilai kepatutan BTN sebagai calon pengendali baru BVIS,” katanya.
Jika semua proses ini berjalan lancar dan sesuai target, maka paling lambat semester II 2025 mendatang, BVIS resmi menjadi anak usaha BTN. Terhitung sejak saat itu, perseroan memulai proses penggabungan (merger) dengan cara mengintegrasikan UUS ke dalam BVIS.
“Semoga rangkaian aksi korporasi ini bisa kami selesaikan tepat waktu dan kami dapat segera memperkenalkan BTN Syariah sebagai BUS hasil spin off. Kami berterima kasih atas dukungan Kementerian BUMN selaku pemegang saham pengendali dan stakeholders lainnya sehingga tercapainya agenda strategis ini,” kata Nixon.
Baca Juga
BTN (BBTN) Paling Diuntungkan Pemangkasan BI Rate, Begini Perhitungannya
Nixon menegaskan, paska merger dan spin off BTN Syariah bakal segera tancap gas meningkatkan layanan produk dan jasa keuangan syariah, termasuk aktif berpartisipasi dalam menyukseskan agenda program 3 juta rumah pemerintah.
Sebagai catatan, Per kuartal III-2024, BTN Syariah telah mencatat aset sebesar Rp58 triliun, bertumbuh sebesar 19,2% year-on-year (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp48 triliun. Berdasarkan proyeksi yang dilakukan BTN, lanjut Nixon, nilai aset BTN Syariah setelah menjadi bank umum syariah nantinya dapat mencapai sekitar Rp66 triliun-Rp67 triliun.
Sementara itu, Bank Victoria Syariah memiliki size relatif kecil sehingga memudahkan proses integrasi dengan UUS BTN. Berdasarkan laporan keuangan per triwulan III-2024, aset Bank Victoria Syariah mencapai sebesar Rp3,32 triliun, meningkat 8,02% secara yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,08 triliun.

