Jasa Raharja Putera Sebut Penerapan PSAK 117 dan 'Cybercrime' Jadi Tantangan Industri
JAKARTA, investortrust.id - Saat ini berbagai industri menghadapi tantangan yang tidak mudah, tak terkecuali industri asuransi. PT Asuransi Jasaraharja Putera menyatakan, setidaknya ada empat tantangan yang dihadapi industri ini, yaitu terkait implementasi pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) 117, cyber crime (keamanan siber), bonus demografi, serta persaingan bisnis.
Hal tersebut seperti diungkapkan Direktur Utama Jasaraharja Putera Abdul Haris, dalam acara media gathering yang digelar di Jakarta, Rabu (18/12/2024).
“Beberapa hal yang menjadi tantangan di industri asuransi pada saat ini adalah pertama, penerapan PSAK 117. Industri asuransi sekarang mengubah standar akuntansinya, dan ini memerlukan energi yang besar di asuransi,” ujarnya.
PSAK 117 (sebelumnya PSAK 74) telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI). Standar ini mengadopsi aturan dari IFRS 17 yang berlaku secara global sejak 1 Januari 2023 lalu.
Baca Juga
Implementasi PSAK 117, Tantangan Regulasi dan Penyesuaian Strategi Bisnis Asuransi
Secara umum, penerapan standar akuntansi baru ini bertujuan meningkatkan transparansi atas pelaporan keuangan untuk industri asuransi, terutama di tingkat global. PSAK 117 yang berlaku pada 1 Januari 2025 di Indonesia ini mengatur pemisahan yang jelas antara pendapatan dari kegiatan asuransi, dengan pendapatan dari kegiatan investasi.
Selain PSAK 117, lanjut Haris, tantangan lain yang tak kalah penting bagi industri asuransi adalah risiko kejahatan siber atau cyber crime. Karena, seiring berkembangnya teknologi, risiko kejahatan siber menjadi salah satu hal yang perlu diantisipasi dan ditangani dengan serius oleh pelaku asuransi.
Kemudian, faktor ekonomi juga menjadi tantangan besar, terutama dengan penurunan daya beli masyarakat yang mempengaruhi keputusan untuk membeli asuransi.
“Makanya asuransi harus menyesuaikan dengan hal demikian. Contohnya, membuat produk yang simpel, murah, unik, dan bisa terjangkau oleh berbagai masyarakat,” kata Haris.
Lalu, bonus demografi Indonesia yang membawa dominasi generasi muda juga menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri perasuransian. “Bonus demografi itu banyak anak muda, dan itu yang harus dijawab oleh asuransi dengan digital, termasuk untuk menjembatani orang-orang lainnya untuk berpartner dalam berasuransi,” ucap dia.
Tantangan terakhir bagi industri asuransi, dikatakan Haris, adalah berkaitan dengan persaingan bisnis. Namun, dengan inovasi dan adaptasi, ia yakin industri ini dapat terus bertahan dan berkembang. “Persaingan bisnis, ini adalah hal yang biasa di dunia asuransi,” kata Haris.

