AAJI: Rasio Klaim Asuransi Kesehatan Melonjak Capai 105,7%
JAKARTA, investortrust.id - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat, hingga semester I 2024 rasio klaim asuransi kesehatan di industri asuransi jiwa mencapai 105,7%, salah satunya dipicu oleh lonjakan klaim kesehatan.
“Ini berarti jumlah klaim yang dibayarkan industri asuransi jiwa lebih besar daripada premi yang diterima, menandakan tekanan keuangan yang signifikan bagi perusahaan asuransi,” ujar Ketua Bidang Literasi & Perlindungan Konsumen AAJI Freddy Thamrin, dalam Konferensi Pers Kinerja Industri Asuransi Jiwa Semester I 2024 AAJI, di Jakarta, Rabu (28/8/2024).
Menurutnya, rasio klaim yang tinggi tersebut dipicu oleh tren kenaikan klaim kesehatan yang masih terus terjadi hingga paruh pertama tahun ini. Di mana, pada periode Januari-Juni 2024, industri asuransi jiwa telah membayarkan klaim kesehatan sebesar Rp 11,83 triliun, meningkat 26% dibanding periode yang sama 2023 yaitu Rp 9,39 triliun.
“Secara lebih detail, klaim kesehatan perorangan menjadi salah satu komponen yang peningkatannya cukup signifikan. Di mana year on year (yoy) naik 29,3% atau secara nilai mencapai Rp 7,52 triliun,” kata Freddy.
Baca Juga
Mitigasi Risiko, AAJI Minta Aturan Pengalihan Polis Tanpa Persetujuan Nasabah Dikaji Ulang
“Sementara untuk klaim kesehatan kumpulan, peningkatannya juga tercatat signifikan sebesar 20,3% jika dibandingkan dengan periode yang sama 2023 yaitu menjadi Rp 4,21 triliun,” tambahnya.
Naiknya klaim kesehatan yang signifikan tersebut, lanjut Freddy, salah satunya dipicu oleh inflasi biaya medis yang terus meningkat. Hal ini turut mempengaruhi kenaikan harga obat, perawatan, dan layanan rumah sakit (RS).
“Akibatnya beban finansial yang harus ditanggung oleh perusahaan asuransi semakin besar,” ucapnya.
Baca Juga
Dikatakan dia, kenaikan klaim asuransi kesehatan yang terjadi secara terus menerus, mengakibatkan adanya kesenjangan antara premi yang dikumpulkan dengan jumlah klaim yang harus dibayar. Di mana, premi asuransi kesehatan yang diperoleh industri di semester I 2024 sebesar Rp 11,19 triliun, lebih rendah ketimbang klaim kesehatan yang dibayarkan mencapai Rp 11,83 triliun.
“Meskipun demikian, kami tetap berkomitmen untuk memastikan bahwa seluruh pemegang polis menerima layanan fasilitas kesehatan yang terbaik, dan berkualitas tinggi sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujar Freddy.

