P2P Lending Masih Jadi Mitra Pembiayaan Utama dari Startup eFishery
JAKARTA, investortrust.id - CEO & Co-Founder eFishery Gibran Huzaifah mengungkapkan, hingga saat ini sumber dana untuk program pembiayaan Kabayan (Kasih, Bayar Nanti) kepada pembudidaya ikan masih didominasi dari sektor financial technology (fintech) peer to peer (p2p) lending.
”Masih mayoritas dari peer to peer lending,” ujarnya, di Jakarta, belum lama ini.
Gibran mengatakan, sejak startup akuakultur ini berdiri pada 2013, baru di tahun 2020 fintech p2p lending masuk dan melakukan kerjasama. Sebelum itu, atau bahkan sebelum adanya program Kabayan, para pembudidaya ikan masih mengandalkan rentenir untuk memenuhi kebutuhan pendanaan.
“Harus lewat rentenir atau tengkulak, yang biayanya mahal bisa 40-60% per tahun,” katanya.
Baca Juga
Sebelum tahun 2020 pula, lanjut Gibran, pihaknya telah berbenah khususnya dari segi ekosistem. Agar memastikan proses bisnis dari sisi pembudidaya ikan yang dibiayai bisa berjalan dengan semestinya.
Sehingga pendanaan yang didapat dari fintech p2p lending bisa dimanfaatkan secara optimal. Salah satunya dengan menerjunkan tim yang khusus memberi pendampingan bagi para pembudidaya jika bisnisnya kurang berjalan mulus.
“Di eFishery NPL (non performing loan) kita cuman 1%. Karena kita tidak sekadar menyalurkan pembiayaan, tetapi juga menyalurkan pendampingan,” ucap Gbiran.
Baca Juga
Dukung Ekspansi eFishery, HSBC Indonesia Salurkan Pembiayaan Hijau Rp 487,7 Miliar
Di sisi lain, semua sektor tentunya menghadapi risiko. Hanya bagaimana cara kita memitigasi risiko tersebut, apakah dengan dukungan teknologi maupun dengan cara pendampingan kepada para pembudidaya.
”Mudah-mudahan dengan p2p lending terutama di sektor produksi, tidak membuat publik punya persepsi buruk terhadap sektornya,” ujar Gibran.
Karena bagaimanapun sektornya itu penting. Lanjut Gibran, kalau sektornya tidak didukung bagaimana sektor ini mau berkembang ke depan dan mendapatkan akses pembiayaan yang mudah.

