Jalin: Kebutuhan Uang Tunai Tetap Tinggi, Tembus Rp 1.101 Triliun Tahun 2023
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin), Ario Tejo Bayu memprediksi kebutuhan uang tunai di masyarakat ke depannya masih akan tinggi, terlebih pada momen Ramadan dan Idulfitri 1445 H seperti sekarang.
Merujuk data yang dimilikinya, lanjut Ario, kebutuhan uang tunai di masyarakat pada tahun 2023 menunjukkan angka tertingginya, yaitu Rp 1.101 triliun. Jumlah tersebut ditopang oleh pertumbuhan nominal uang beredar di masyarakat sebesar 9%.
“Ini masih terus berkembang dan merupakan satu konfirmasi juga. Setelah Covid-19 Indonesia masih mengalami kenaikan pada uang kartal,” ujarnya, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Baca Juga
Bahkan, menurut Ario dari waktu ke waktu atau sejak tahun 2019 hingga 2023 kebutuhan uang tunai di masyarakat masih tinggi dan cenderung meningkat. Bahkan, metode pembayaran yang sering digunakan masyarakat 45% masih dengan cash.
“Lalu, transaksi setor tunai melalui alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) itu masih tumbuh 1%. Dan untuk belanja masih 9% menggunakan uang tunai,” katanya.
Baca Juga
Sambut Lebaran 2024, BTN Siapkan Uang Tunai Rp 39,44 Triliun
Di sisi lain, ia juga memprediksi akan terjadi peningkatan pada transaksi digital seiring dengan adopsi teknologi yang semakin familiar di masyarakat. Hal ini tercermin dari jumlah merchant yang menggunakan quick response code Indonesia standard (QRIS) tercatat sebanyak 30 juta merchant.
Dari jumlah tersebut, mayoritas atau 20 juta merchant masih berada di Pulau Jawa, sementara sisanya tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, sebenarnya seluruh Jawa pun belum mengadopsi ini secara sepenuhnya. “Jadi trennya ke sana tapi adopsinya butuh waktu,” jelas Ario.

