Kadin Targetkan Perdagangan RI-Eurasia Naik Dua Kali Lipat dalam Tiga Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memasang target ambisius untuk mendongkrak volume perdagangan dengan negara-negara Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Langkah strategis ini diambil menyusul efektivitas kesepakatan perdagangan bebas (FTA) yang diharapkan menjadi katalis baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Perjanjian Luar Negeri Kadin Indonesia, Pahala Mansury, mengungkapkan bahwa potensi pasar di kawasan Eurasia sangat besar namun belum tergarap maksimal. Saat ini, total nilai perdagangan antara Indonesia dengan blok tersebut masih tertahan di angka yang moderat.
"Total perdagangan antara Indonesia dengan negara-negara EAEU saat ini kurang lebih mencapai US$ 5 miliar. Kita harapkan dengan adanya implementasi FTA, angka ini bisa meningkat sampai dengan dua kali lipat dalam waktu tiga tahun ke depan," ujar Pahala usai acara Russia-Indonesia Workshop di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Baca Juga
Kadin Tolak Wacana Penahanan Restitusi, Dunia Usaha Butuh Ketenangan dan Kepastian
Pahala menjelaskan bahwa optimisme tersebut didorong oleh penghapusan berbagai hambatan perdagangan, baik berupa tarif maupun non-tarif (non-tariff barriers). Penurunan beban biaya masuk ini diyakini akan membuat produk unggulan Indonesia lebih kompetitif dibandingkan produk pesaing di pasar Eurasia.
Setidaknya terdapat tiga sektor utama yang diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan. Sektor pertama adalah komoditas pangan, seperti minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya, gandum, serta bahan baku pupuk seperti potash. Selain itu, sektor energi dan hilirisasi mineral juga menjadi poin krusial bagi Indonesia.
Pemerintah dan pengusaha berkomitmen mendorong ekspor produk bernilai tambah tinggi, termasuk hasil olahan nikel, guna memenuhi kebutuhan industri di negara anggota EAEU seperti Rusia, Kazakhstan, dan Belarus. Di sisi lain, industri padat karya seperti tekstil, garmen, dan alas kaki juga memiliki peluang luas untuk mengisi pasar di Kyrgyzstan serta Armenia.
Pahala menegaskan bahwa keberhasilan target ini sangat bergantung pada kolaborasi aktif antara pelaku usaha dan pemerintah dalam menjaga standar kualitas.
"Adanya pengurangan tarif ini adalah pintu masuk. Tugas kita sekarang adalah memastikan kualitas dan konsistensi suplai produk kita bisa memenuhi standar tinggi di negara-negara tersebut," pungkasnya.

