Investasi Properti Jadi Motor Ekonomi, Dorong Pariwisata hingga UMKM
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Investasi properti terbukti memberikan dampak ekonomi luas yang menjangkau berbagai sektor, mulai dari konstruksi, infrastruktur, hingga pariwisata dan usaha kecil menengah (UMKM). Efek berantai (multiplier effect) dari sektor ini menjadikannya sebagai salah satu instrumen utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di banyak negara.
Di berbagai negara, sektor properti telah menjadi pilar penting perekonomian. Di Uni Emirat Arab, misalnya, pertumbuhan ekonomi banyak ditopang sektor non-minyak seperti properti dan pariwisata. Sementara itu, Arab Saudi melalui program Visi Arab Saudi 2030 menggelontorkan investasi lebih dari US$ 500 miliar untuk proyek pembangunan. Di Monako, tingginya nilai properti mewah turut menjamin arus modal yang stabil.
Fenomena serupa dinilai relevan bagi Indonesia yang tengah memperkuat posisinya sebagai tujuan investasi global. Setiap proyek properti memicu aktivitas ekonomi dari tahap konstruksi hingga operasional. Pada tahap awal, sektor konstruksi menyerap tenaga kerja mulai dari arsitek, insinyur, hingga pemasok material. Selanjutnya, fase operasional menggerakkan sektor jasa seperti perhotelan, transportasi, restoran, hingga layanan pemeliharaan.
Baca Juga
Konflik Iran–AS Dinilai Berdampak Moderat ke Properti RI, Ini Catatan Colliers
Co-Founder Seven Sky Villas, Dormidonov Alexander Yurievich, mengatakan dampak ini sangat terasa terutama di kawasan wisata. “Efek ini akan sangat terasa di daerah wisata, di mana properti secara intrinsik terkait dengan industri perhotelan,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa (31/3/2026).
Data Badan Pusat Statistik mencatat Indonesia menerima 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025. Pertumbuhan ini mendorong peningkatan kebutuhan properti seperti villa, apartemen, hingga kawasan resor terpadu.
Seiring meningkatnya arus wisatawan, pengembangan properti kini tidak hanya berfokus pada hunian, tetapi juga fasilitas pendukung seperti ruang publik, pusat kesehatan, co-working space, dan infrastruktur layanan terpadu.
Baca Juga
Dari sisi investasi, properti resor menawarkan imbal hasil yang kompetitif, yakni sekitar 12%–15% per tahun dengan tingkat hunian rata-rata 70%–80%. Salah satu contoh adalah proyek OctaSun Residence di Bali Selatan yang dikembangkan Seven Sky Villas, yang menawarkan model investasi terintegrasi dengan proyeksi pengembalian dalam 6–7 tahun.
Minat terhadap sektor ini juga sejalan dengan tren global yang mengarah ke kawasan Asia Tenggara sebagai salah satu wilayah dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di kawasan, dinilai memiliki daya tarik kuat dengan pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5% per tahun.
Sementara itu, Kementerian Investasi dan BKPM mencatat realisasi investasi Indonesia sepanjang 2025 telah melampaui Rp 1.400 triliun, menunjukkan kuatnya minat investor terhadap berbagai sektor, termasuk properti.

