Lonjakan Harga Minyak Bikin Pasar Mobil Listrik Lebih Sehat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Lonjakan harga minyak mentah dan kebijakan efisiensi BBM melalui work from home (WFH) bakal menciptakan fondasi pasar yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi mobil listrik (electric vehicle/EV).
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai penurunan mobilitas akibat WFH mendorong masyarakat lebih rasional dalam membeli kendaraan. “Dalam konteks ekosistem EV, kebijakan ini memang tidak langsung mendorong lonjakan penjualan, tetapi justru menciptakan ruang penyesuaian yg lebih sehat bagi pasar,” ujarnya kepada investortrust.id, Jumat (27/3/2026).
Dosen ITB itu juga menekankan perubahan ini penting bagi pertumbuhan jangka panjang industri kendaraan listrik. Menurutnya, masyarakat kini lebih mempertimbangkan total biaya kepemilikan atau total cost of ownership dibanding sekadar harga beli awal.
“Ketika mobilitas menurun, masyarakat terutama kelas menengah dipaksa lebih rasional dalam menghitung biaya kepemilikan kendaraan, sehingga pertimbangan total cost of ownership menjadi lebih dominan dibanding sekadar harga beli,” jelasnya.
Baca Juga
Momentum Hemat BBM, VinFast Tawarkan Mobil Listrik Nyaris Tanpa Biaya Operasional
Yannes menilai permintaan EV berbasis kesadaran efisiensi akan jauh lebih kuat. Ia menyebut bahwa jika dibandingkan dengan lonjakan sesaat akibat kenaikan harga BBM, pola ini justru lebih berkelanjutan.
“Permintaan EV yang terbentuk dari kesadaran efisiensi akan jauh lebih kuat dan berkelanjutan dibanding dorongan impulsif akibat lonjakan harga BBM,” katanya.
Hal ini menjadi sinyal positif bagi investor di sektor otomotif. Ia pun menekankan pentingnya integrasi kebijakan agar momentum efisiensi tidak hilang.
“Karena itu momentum WFH seharusnya tidak berhenti sebagai solusi jangka pendek, tetapi perlu disinergikan dengan kebijakan transisi energi yg lebih terarah,” harapnya.
Di sisi lain, Yannes mendorong pemerintah untuk memperkuat strategi jangka panjang. Menurutnya, insentif spesifik seperti pembangunan infrastruktur SPKLU dan skema pembiayaan ringan perlu dipercepat.
Pasalnya, tanpa integrasi kebijakan, ia mengingatkan adanya potensi rebound konsumsi BBM. Kondisi ini muncul berpotensi lahir saat harga minyak stabil dan aktivitas kembali normal.
“Tanpa integrasi kebijakan seperti ini, WFH hanya akan menjadi solusi sementara yang berisiko menimbulkan rebound konsumsi BBM,” pungkasnya.
Baca Juga
Hyundai Subscribe Meluncur, Solusi Pakai Mobil Listrik Tanpa Harus Membeli

