Harita Nickel (NCKL) Percepat Ekspansi Smelter, Volume Penjualan Naik Hingga 46%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), perusahaan tambang dan pengolahan nikel yang dikenal sebagai Harita Nickel, mencatat pertumbuhan signifikan pada volume penjualan logam nikel sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Peningkatan ini didorong tambahan kapasitas produksi dari proyek smelter baru dan ekspansi fasilitas pengolahan nikel di Pulau Obi, Maluku Utara.
Hal itu terungkap dalam pembaruan kinerja bisnis dalam paparan analis Harita yang dikutip Sabtu (14/3/2026). Dalam pemaparan itu, manajemen menjelaskan bahwa ekspansi fasilitas pengolahan dan peningkatan kapasitas produksi menjadi pendorong utama pertumbuhan volume penjualan nikel sepanjang tahun berjalan.
Baca Juga
Pengendali NCKL Jual Saham, Harita Jayara Raup Rp1,34 Triliun
Volume penjualan dari bisnis pengolahan berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) tercatat mencapai 99.858 ton kandungan nikel pada periode Januari hingga September 2025. Angka tersebut meningkat sekitar 46% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut terutama didorong kontribusi proyek ONC yang mulai beroperasi pada April 2024 dan mencapai kapasitas penuh pada Agustus 2024. Selain itu, proyek smelter RKEF ketiga milik perusahaan, yaitu KPS, mulai beroperasi pada Januari 2025 dan turut meningkatkan produksi.
Manajemen menjelaskan bahwa penjualan HPAL tersebut terdiri dari produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan nikel sulfat yang digunakan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik.
Kinerja bisnis juga tercermin dari pertumbuhan penjualan pada lini produksi ferronikel. Volume penjualan dari fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) meningkat sekitar 41% secara tahunan seiring peningkatan kapasitas produksi dari fase pertama proyek PT Karunia Permai Sentosa (KPS) entitas milik Harita yang mencapai kapasitas penuh pada Maret 2025.
Harita menyampaikan bahwa perusahaan terus memperluas kapasitas produksi melalui investasi fasilitas baru dan peningkatan efisiensi operasional. Strategi ini dilakukan untuk memperkuat posisi perusahaan di industri nikel global sekaligus mendukung kebutuhan bahan baku untuk ekosistem baterai kendaraan listrik.
Sejalan dengan peningkatan volume penjualan, kinerja keuangan perusahaan juga menunjukkan tren positif. Margin laba kotor relatif stabil karena struktur biaya dan harga jual rata-rata tidak mengalami perubahan signifikan selama periode tersebut.
Namun demikian, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) tercatat meningkat sekitar 21% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut mencerminkan pertumbuhan produksi serta efisiensi operasional yang lebih baik.
Pertumbuhan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga dipengaruhi oleh peningkatan kepemilikan perusahaan pada proyek PT Obi Nickel Cobalt (ONC) serta tambahan kapasitas produksi dari fasilitas smelter KPS.
Baca Juga
Harita (NCKL) dan Babak Baru Industri Nikel Indonesia Hadapi Era Terkini EV
Perusahaan juga mengembangkan proyek ekstraksi besi melalui entitas Bhakti Bumi Sentosa. Proyek ini bertujuan mengolah limbah hasil proses HPAL menjadi produk bernilai tambah sehingga dapat mengurangi limbah sekaligus meningkatkan efisiensi sumber daya. Saat ini proyek tersebut masih berada pada tahap pilot project dan direncanakan memasuki tahap pembangunan fasilitas pada 2026.
Di sisi hulu, aktivitas eksplorasi tambang terus diperluas. Hingga sembilan bulan 2025, kegiatan pengeboran telah mencakup area sekitar 466 hektare dengan lebih dari 2.172 titik pengeboran untuk mendukung estimasi sumber daya dan perencanaan tambang.
Perusahaan menilai ekspansi ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat rantai pasok nikel terintegrasi, mulai dari penambangan hingga pengolahan lanjutan yang menghasilkan bahan baku baterai.

