Soal Tarif Resiprokal AS 15%, Anindya: Perdagangan RI–AS Tidak Akan Lebih Jelek
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya N Bakrie menilai hubungan perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) tetap memiliki prospek positif di tengah kebijakan tarif resiprokal sebesar 15% terhadap Indonesia serta hasil putusan Supreme Court of The United States atau Mahkamah Agung (MA) AS.
Anindya menekankan, Amerika merupakan mitra dagang terbesar kedua Indonesia dengan nilai perdagangan sekitar US$ 40 miliar sehingga memerlukan perhatian khusus, terutama bagi sektor padat karya.
“Pertama-tama kalau kita bicara mengenai Amerika Serikat, perlu dicatat bahwa Amerika itu adalah mitra berdagang kita yang nomor dua terbesar. Jumlahnya sekitar US$ 40 miliar,” kata Anindya saat ditemui dalam acara buka puasa bersama Kadin seluruh Indonesia di Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Dia menyebut, sejumlah sektor ekspor utama yang perlu menjadi perhatian, antara lain garmen, tekstil, alas kaki, furnitur, hingga elektronik.
Anindya menyampaikan, terdapat lebih 1.000 jenis produk yang memperoleh insentif tarif hingga 0% untuk ekspor ke AS, termasuk komoditas kakao, kopi, hingga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). “Tujuannya itu untuk memastikan bahwa produk-produk Indonesia bisa masuk ke Amerika dengan tarif sedang mungkin bahkan 0%,” jelas dia.
Baca Juga
Menko Perekonomian: Tarif AS Turun ke 15%, Berlaku Setelah 90 Hari
Terkait keputusan Supreme Court of the United States yang memengaruhi kebijakan perdagangan Amerika, Anindya menilai kondisi tersebut telah diperkirakan sebelumnya dan tidak membuat posisi Indonesia menjadi lebih buruk dibanding negara lain.
“Indonesia saya rasa tidak akan dapat lebih jelek daripada sebelumnya dan tidak akan lebih jelek dari negara yang sebelumnya juga tidak lebih bagus daripada kita,” imbuh dia.
Ia menambahkan, hubungan dagang kedua negara tetap berjalan baik, termasuk impor komoditas strategis Indonesia dari Amerika Serikat, seperti kedelai, kapas, dan gandum yang dibutuhkan industri domestik. “Yang penting kan dari kita adalah harganya itu terjangkau. Kalau harganya 0% ya artinya buat konsumen kita tentunya harganya murah,” kata Anindya.
Pengusaha Harus Ofensif, Bukan Defensif
Menanggapi perubahan kebijakan tarif Amerika, Anindya mengatakan, pelaku usaha nasional justru perlu meningkatkan kapasitas produksi untuk menangkap peluang ekspor.
Dikatakan Anindya, pembukaan akses pasar di AS serta negara lain, seperti Eropa dan Kanada harus direspons secara ofensif melalui ekspansi produksi, investasi, serta penciptaan lapangan kerja.
“Indonesia mesti siap-siap memperluas kapasitas produksinya. Jadi bukan hanya defensif dari sisi bertahan, tapi bagaimana bisa lebih ofensif dalam arti kata memperluas kapasitas produksi, punya lapangan kerja, hingga investasi,” tegas dia.
Berdasarkan catatan investortrust.id, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan putusan Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat (AS) membuat tarif yang didapat Indonesia turut berubah. Setelah agreement on reciprocal trade (ART) tercapai, MA AS membatalkan tarif resiprokal yang dibuat Presiden AS Donald Trump.
Baca Juga
Bakrie & Brothers (BNBR) Beri Sinyal Dividen Usai Kuasi Reorganisasi, Laba 2025 Melonjak 49,6%
Trump lantas mengenakan tarif 10% ke semua negara mitra dagang AS. Tak berselang lama, tarif berubah menjadi 15%.
“Tarif global (AS) 15%, maka yang berlaku adalah global tarif yang 15%. Dapat diskon jadi 15%” kata Airlangga di kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Jumat (27/2/2026) lalu.
Airlangga menambahkan, pemerintah Indonesia dan AS akan membahas Agreement on Reciprocal Trade (ART) RI-AS. Oleh karena itu, kesepakatan yang ditandatangani kedua negara tetap berlaku. “Enggak batal, itu kan baru berlaku sesudah 90 hari dan sesudah ratifikasi,” terang dia.
Lebih lanjut, Airlangga menyatakan, komoditas yang mendapat tarif 0% tetap berlaku sama. Dengan bea masuk sebesar 0% untuk barang-barang dari Indonesia, dia berharap pasar dapat berekspansi. “Kalau biaya masuk 0% untuk 1.600 sektor lebih itu kan salah satu andalan kita. Jadi diharapkan market-nya bisa ekspansi,” tutup dia.

