BEI Dorong Pengembang Properti Kelas Menengah untuk Melantai di Bursa
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mendorong perusahaan properti skala menengah (penjualan rumah Rp 1-2 miliar) untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan guna mempercepat ekspansi usaha dan memperkuat struktur permodalan perusahaan.
Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI, Listyorini Dian Pratiwi berkomitmen memberikan dukungan dan pelayanan terbaik bagi para pemangku kepentingan pasar modal, termasuk perusahaan properti yang memiliki potensi untuk berkembang.
“Acara ini merupakan komitmen dari Bursa Efek Indonesia untuk mendukung dan memberikan pelayanan terbaik bagi stakeholder pasar modal,” kata Listyorini dalam workshop DPD Realestat Indonesia (REI) DKI Jakarta: Solusi Percepatan Pendanaan non-Bank melalui Pasar Modal di main hall BEI, Jakarta, Senin (23/2/2026).
Listyorini menilai kondisi pasar keuangan global pada akhir 2025 hingga awal 2026 masih diwarnai dinamika dan tantangan, baik dari faktor global maupun domestik. “Kondisi ini dipengaruhi beberapa hal, di antaranya kebijakan moneter agresif, adanya tensi dagang, serta risiko perlambatan ekonomi global yang pada akhir 2025 dan awal 2026 ini secara angka berada di bawah historical,” jelasnya.
Menurutnya, sektor properti saat ini menghadapi tekanan dari sisi permintaan, pembiayaan, hingga dinamika makroekonomi, tetapi tetap menjadi indikator penting bagi perekonomian nasional.
“Sektor properti bukan sekadar industri pembangunan fisik. Kami menyadari bahwa properti merupakan indikator perekonomian di Indonesia dan ini merupakan optimisme ekonomi kita,” tandas Listyorini.
Ia menambahkan, pertumbuhan sektor properti akan meningkatkan kepercayaan masyarakat, memperluas pembiayaan, serta menciptakan lapangan kerja dan efek berganda bagi sektor lain.
“Ketika properti tumbuh kita melihat kepercayaan masyarakat meningkat, pembiayaan juga meningkat, kemudian penciptaan lapangan pekerjaan tentu meningkat, dan multiplier effect dari pertumbuhan properti ini menyebar ke berbagai sektor ekonomi lainnya, di antaranya sektor konstruksi, sektor perbankan hingga industri pendukung seperti bahan bangunan,” imbuh Listyorini.
BEI juga melihat banyak pengembang properti kelas menengah memiliki potensi untuk scale up, tetapi masih terkendala akses pendanaan.
“Dalam beberapa kesempatan kami bertemu dengan para pengusaha, kami menemukan banyak properti developer yang sangat berpotensi untuk scale up tetapi terkendala dari sisi pembiayaan, seperti untuk akuisisi land bank maupun operasional,” ungkap Listyorini.
Dikatakan Listyorini, pasar modal dapat menjadi katalis bagi perusahaan untuk memperkaya pilihan pendanaan melalui instrumen saham, obligasi, sukuk, hingga Dana Investasi Real Estate (DIRE) atau REITs.
Lebih jauh, ia mencontohkan perjalanan pendanaan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) yang memanfaatkan pasar modal secara bertahap. “Salah satu case dari perusahaan properti kita BSD City atau BSDE, kita bisa simpulkan bahwa IPO (initial public offering) merupakan awal dari sebuah perjalanan pendanaan perusahaan,” tutur Listyorini.
Dia menjelaskan, sebelum melakukan penawaran umum perdana saham (IPO), perusahaan tersebut lebih dahulu menerbitkan obligasi dan kemudian melanjutkan berbagai aksi korporasi di pasar modal, termasuk penerbitan REITs dan obligasi pasca-IPO.
Baca Juga
Ciputra Group Jalin Sinergi dengan Perbankan Jaga Momentum Pertumbuhan Sektor Properti
BEI mencatat hingga saat ini terdapat 956 perusahaan tercatat saham dan 131 perusahaan penerbit obligasi di pasar modal Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 92 emiten berasal dari sektor properti dan real estate. “Kami berharap akan lebih banyak lagi konstituen untuk sektor properti dan real estate, khususnya yang berasal dari anggota di DPD REI DKI Jakarta,” kata Listyorini.
Terpisah, DPD REI DKI Jakarta DKI Jakarta menargetkan sedikitnya 25 pengembang properti skala menengah mulai IPO atau melantai di bursa pada 2026–2028.
Ketua DPD REI DKI Jakarta, Arvin F Iskandar menyatakan, langkah tersebut dilakukan melalui penyelenggaraan workshop pasar modal guna mendorong anggota REI memanfaatkan alternatif pembiayaan selain perbankan.
“Jadi, kita lakukan workshop ini untuk men-support teman-teman kita anggota REI DKI. Tentunya top 30 developer yang sudah go public (IPO) merupakan anggota REI DKI. Cuma masih banyak teman-teman kita ini sesama developer yang masih medium size (belum go public),” kata Arvin di main hall BEI, Jakarta, Senin (23/2/2026).
Menurutnya, pengembang skala menengah masih menghadapi kendala transparansi laporan keuangan serta keraguan untuk masuk ke pasar modal. Padahal, akses pendanaan melalui bursa dinilai penting di tengah sikap kehati-hatian perbankan terhadap sektor properti pascapandemi COVID-19.
“Kita tahu bank konvensional saat ini terhadap properti kan ya dibilang merah enggak, kuning iya. Jadi, bagaimana di tahun 2026 dengan program Pak Presiden Prabowo untuk men-support 3 juta rumah ini, para developer ini bisa meraih program tersebut yaitu tidak menggunakan dana perbankan tapi melalui capital market,” jelas Arvin.
Dia menambahkan, sumber permodalan pengembang saat ini masih didominasi pembiayaan internal dan kredit bank, dengan skema umum 30% dana sendiri dan 70% pembiayaan perbankan. “Pertama dari self-financing operasional. Kedua biasanya perbankan mintanya 30% self-financing, 70% bisa dibiayai perbankan,” ujar Arvin.
Ihwal itu, ia menilai pengembang kelas menengah perlu mendapatkan kesempatan pendanaan yang sama seperti perusahaan besar yang telah melantai di bursa. “Itu yang kita targetkan, supaya teman-teman yang medium size ini pada 2026 bisa mendapatkan hak yang sama juga, tidak hanya developer-developer yang besar,” ujar Arvin.
Baca Juga
Matahari (MPPA) Siapkan Rights Issue 24 Miliar Saham, Dana untuk Akuisisi Properti
Lebih lanjut, Arvin menjelaskan, strategi utama REI DKI untuk mendorong pengembang go public (IPO) guna meningkatkan transparansi laporan keuangan serta membuka diri terhadap pendanaan ekuitas.
“Satu, lebih transparan terhadap laporan keuangan. Kedua, jangan khawatir apabila yang medium size ini untuk mendapatkan pendanaan di equity,” ucap dia.
Selain pendanaan saham, kata Arvin, pihaknya juga mendorong pemanfaatan instrumen utang seperti obligasi sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.
Seiring dengan itu, kata Arvin, REI DKI menargetkan sekitar 5–10% pengembang baru akan proses pendanaan di pasar modal pada periode 2026 hingga 2028. “Minimalnya 5% itu sekitar 25 developer. Kita mengharapkan 25 pengembang (anggota REI DKI) yang medium size ini bisa bersama-sama untuk menjalankan atau mendapatkan dana di capital market,” imbuh dia.
Ia memperkirakan satu perusahaan pengembang menengah berpotensi menghimpun dana Rp 100–200 miliar. Dengan asumsi tersebut, total potensi pendanaan sektor properti untuk melantai di bursa nantinya tidak kurang dari Rp 5 triliun.

