ABAC Meeting I 2026, Airlangga: 70% Ekspor RI ke Negara APEC
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pertemuan ABAC Meeting I 2026 dengan tema “Openness, Connectivity, Synergy” digelar di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (7/2/2026). Pertemuan ini dihadiri perwakilan 21 ekonomi anggota APEC serta pelaku usaha dari berbagai negara.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia memiliki kepentingan besar terhadap APEC karena mayoritas ekspor nasional ditujukan ke negara-negara anggota forum tersebut.
“Pertama, APEC ini kan adalah 21 ekonomi dan APEC ini Indonesia eksportnya 70% ke negara-negara APEC. Nah, oleh karena itu Indonesia perlu mendukung agar APEC berjalan secara baik karena ini adalah salah satu ekonomi terbesar dan tentu Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan dengan negara-negara APEC ini bisa kita tingkatkan ekspor kita,” kata Airlangga, Sabtu (7/2/2026).
Ia menambahkan, Indonesia juga mendorong penguatan digitalisasi, termasuk sistem pembayaran lintas negara. “Oleh karena itu, Indonesia juga mendorong digitalisasi melalui ASEAN dan tentu kalau ini bisa terus didorong juga ke beberapa negara APEC dan sebetulnya digitalisasi payment untuk Indonesia itu sudah juga masuk Korea, Jepang dan Timur Tengah tetapi dengan negara APEC yang lain tentu kita akan dorong. Dan kedua, di dalam APEC ini kan ada China, ada Amerika Serikat, jadi ini juga menjadi sebuah pasar yang sangat strategis buat Indonesia,” jelas Menko Airlangga.
Terkait sektor yang akan didorong dalam peningkatan ekspor, Airlangga menyebut sejumlah komoditas unggulan, mulai dari sektor agrikultur hingga tekstil.
Baca Juga
“Kalau Indonesia kan tentu mendorong ekspor yang sekarang menjadi andalan yaitu pertama logam, kedua kelapa sawit, ketiga tentu yang padat karya tekstil, furniture, apparel, sepatu kemudian produk daripada agrikultur itu seperti udang dan yang lain,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua ABAC Indonesia sekaligus Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya N Bakrie menyampaikan dukungan terhadap peran Indonesia dalam forum APEC.
“Yang Mulia Airlangga Hartarto bukan sosok asing di APEC. Beliau telah mendukung ABAC dan APEC dalam berbagai kesempatan dan dengan puluhan tahun kepemimpinan di pemerintahan, parlemen, dan industri, beliau menjadi arsitek sekaligus berada di garis depan dalam memperkuat daya saing ekonomi Indonesia, iklim investasi, dan pembangunan industri,” tutur Anindya.
Ia juga memperkenalkan jajaran pejabat dan pelaku usaha yang hadir dalam pertemuan tersebut. “Pak Airlangga, saya memperkenalkan kepada Bapak para pejabat senior dan pemimpin bisnis dari 21 ekonomi APEC dan juga bergabung para pemimpin industri yang saya yakini merepresentasikan kapitalisasi pasar lebih dari US$ 1 triliun,” pungkasnya.
Sepanjang 2025, ekspor Indonesia ke negara-negara anggota APEC didominasi oleh berbagai komoditas baik migas maupun nonmigas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan China, Amerika Serikat, dan India sebagai tiga tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia, dengan komoditas unggulan yang diekspor ke negara-negara ini meliputi besi dan baja, bahan bakar mineral, serta produk nikel ke China.
Sedangkan ekspor ke Amerika Serikat banyak didorong oleh mesin dan perlengkapan elektrik, alas kaki, serta pakaian dan aksesorisnya. Selain itu, sektor komoditas seperti lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja, serta produk nikel juga tercatat menjadi penyumbang utama nilai ekspor nonmigas Indonesia dalam periode Januari–Juni 2025.
Secara keseluruhan, minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) juga mencatat volume ekspor tinggi sepanjang tahun, dengan nilai ekspor tahunan mencapai sekitar US$ 24,42 miliar pada 2025, mencerminkan permintaan kuat dari pasar ekspor global termasuk negara APEC.

