Sempat Ambruk, Emas dan Perak Bangkit
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas dan perak bangkit pada Selasa (3/2/2026) setelah aksi jual besar-besaran yang sempat mengguncang pasar global, mendorong saham pertambangan serta produk investasi berbasis logam mulia kembali menguat dan memicu perdebatan soal arah reli berikutnya.
Harga emas spot naik sekitar 5,6% menjadi US$ 4.930,97 per ons, sementara kontrak berjangka emas menguat sekitar 6,4% dan bergerak di kisaran US$ 4.949. Di saat yang sama, harga perak spot melonjak lebih 6% ke US$ 84,29 per ons, sedangkan kontrak berjangka perak melesat hampir 10% menjadi US$ 84,12 per ons.
Pemulihan ini terjadi setelah tekanan jual tajam pada awal pekan. Pada Senin (2/2/2026), harga emas melemah menyusul penurunan hampir 10% pada Jumat pekan lalu, sementara perak mencatat kejatuhan sekitar 30% dalam 1 hari, yang menjadi kinerja harian terburuk sejak 1980.
Kenaikan harga logam mulia tercermin pada saham pertambangan dan produk reksa dana yang diperdagangkan di bursa (exchange traded fund/ETF) di berbagai kawasan. Minat beli kembali muncul seiring investor menilai ulang valuasi pascakejatuhan tajam.
Baca Juga
Koreksi Tajam Rp 183.000, Harga Emas Antam (ANTM) Menjauh dari Rekor
Di London, saham raksasa pertambangan mencatatkan penguatan. Rio Tinto naik 2,2%, Anglo American menguat lebih 3%, dan Antofagasta melonjak 2,5%. Fresnillo, produsen perak terbesar dunia sekaligus saham dengan kinerja terbaik di indeks FTSE 100 London pada 2025, terakhir diperdagangkan 3,1% lebih tinggi.
Di Amerika Serikat, ETF ProShares Ultra Silver melonjak sekitar 15% menjelang pembukaan pasar. Sementara itu, abrdn Physical Silver ETF naik sekitar 8,3%. iShares Silver Trust (SLV), yang belakangan menjadi pusat perhatian investor ritel, juga menguat 8,3%.
Penguatan serupa terlihat pada saham penambang logam mulia yang tercatat di bursa AS. Endeavour Silver melonjak 7,5% pada perdagangan pra-pasar, Coeur Mining bertambah 7,7%, sedangkan Hecla Mining dan First Majestic Silver masing-masing naik sekitar 8%.
Apakah reli emas dan perak berlanjut?
Pemulihan harga ini muncul ketika investor menimbang apakah kejatuhan tajam sebelumnya menandakan perubahan struktural pasar atau sekadar reaksi berlebihan terhadap katalis jangka pendek. Ketidakpastian tersebut membuat volatilitas masih tinggi, terutama di pasar perak yang relatif lebih kecil.
Ahli strategi di Deutsche Bank menilai sejarah menunjukkan bahwa gejolak tersebut lebih mencerminkan katalis jangka pendek, meskipun skala aksi jual telah memunculkan pertanyaan baru terkait posisi pasar. Bank itu menyebut tanda-tanda peningkatan aktivitas spekulatif telah terlihat selama berbulan-bulan, tetapi faktor tersebut saja tidak cukup untuk menjelaskan besarnya pergerakan harga pekan lalu.
“Penyesuaian harga logam mulia melampaui signifikansi katalis yang tampak. Terlebih lagi, niat investor terhadap logam mulia, baik resmi, institusional, maupun individu, kemungkinan besar tidak berubah menjadi lebih buruk,” tulis Deutsche Bank dikutip CNBC.
Aksi jual sebelumnya dipicu kombinasi beberapa faktor, termasuk penguatan dolar AS, perubahan ekspektasi pasar terkait kepemimpinan Federal Reserve (The Fed) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai ketua bank sentral berikutnya, serta pengurangan posisi menjelang akhir pekan.
Baca Juga
Asal Usul Produksi Emas Dipertanyakan DPR, PT Antam (ANTM) Bilang Begini
Meski demikian, Deutsche Bank menegaskan prospek investasi jangka menengah hingga panjang untuk emas dan perak masih terjaga. “Pendorong tematik emas tetap positif dan kami percaya alasan investor untuk mengalokasikan dana ke emas dan logam mulia tidak akan berubah,” tulis bank tersebut.
Menurut Deutsche Bank, kondisi saat ini tidak mencerminkan awal pembalikan tren harga emas yang berkelanjutan dan berbeda dari konteks pelemahan pada era 1980-an maupun 2013.
Nada serupa disampaikan Barclays. Bank ini mengakui adanya kondisi teknikal yang terlalu panas serta posisi pasar yang agresif. Namun, Barclays menilai permintaan emas secara struktural masih akan bertahan di tengah ketidakpastian geopolitik, kebijakan moneter, dan dorongan diversifikasi cadangan.
Sebuah studi yang diterbitkan pada Januari memproyeksikan permintaan perak global akan melonjak sepanjang dekade ini, didorong ekspansi energi surya fotovoltaik dan pergeseran ke teknologi sel yang lebih intensif perak. Total permintaan diperkirakan mencapai 48.000 ton hingga 54.000 ton per tahun pada 2030. Sementara pasokan diproyeksikan hanya meningkat menjadi sekitar 34.000 ton. Dengan demikian, pasokan global diperkirakan hanya mampu memenuhi sekitar 62% hingga 70% dari kebutuhan.
Sektor energi surya diperkirakan mengonsumsi 10.000 hingga 14.000 ton per tahun, atau hingga 41% dari pasokan global. Ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan ini menjadi salah satu faktor utama yang menopang pandangan bullish jangka panjang.
“Permintaan itu belum hilang. Yang kita lihat di sini adalah harga perak yang melampaui batas wajarnya, sesuatu yang memang selalu terjadi selama fase-fase penguatan,” kata Wong.

