RI–India Perkuat Investasi Industri Baja, AI, hingga Semikonduktor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah Indonesia membuka peluang kerja sama investasi lanjutan dengan India di sejumlah sektor strategis, seiring meningkatnya kehadiran perusahaan India yang telah menanamkan modal di Tanah Air.
Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Heldy Satrya Putera mengatakan, sektor kesehatan menjadi salah satu peluang investasi yang terbuka untuk dijajaki bersama India.
“Salah satu peluang investasi di Indonesia adalah sektor kesehatan. Saya mengetahui India memiliki teknologi dan pengetahuan sangat kuat di bidang kesehatan, sehingga kami berharap mereka dapat berinvestasi di industri kesehatan di Indonesia,” kata Heldy dalam acara acara India Nights di Jakarta, Rabu (28/1/2026) malam.
Selain sektor kesehatan, Heldy menyebut industri baja juga menjadi fokus pemerintah untuk menarik investasi dari India. Menurutnya, India memiliki teknologi yang kuat di sektor baja, sementara Indonesia masih membutuhkan pengembangan industri tersebut. “Kami sangat ingin memiliki lebih banyak industri baja,” ujar dia.
Peluang investasi berikutnya di sektor teknologi informasi dan komunikasi (information communication technology/ICT), khususnya pengembangan pusat data serta infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Baca Juga
Dubes India Ungkap Lompatan Ekonomi: India Kini Tujuan Ekspor Terbesar Ketiga Indonesia
“Kami perlu mengembangkan lebih banyak pusat data di Indonesia. Selain itu, kami juga mendapatkan informasi bahwa beberapa investor ingin membangun infrastruktur kecerdasan buatan,” tutur Heldy.
Ia menjelaskan, infrastruktur AI memiliki konsep hampir serupa dengan pusat data, tetapi menggunakan komponen berbeda, terutama penggunaan graphic processing unit (GPU) dalam jumlah besar. “Konsepnya hampir sama seperti data center,” terang Heldy.
Lebih lanjut, Heldy menyampaikan, sektor semikonduktor (cip) juga menjadi peluang investasi yang dapat dijajaki bersama India, meski diakui bukan hal yang mudah untuk dikembangkan di Indonesia. “Saya tahu tidak mudah membangun industri semikonduktor di Indonesia karena persaingan yang ketat di Asia. Namun, saya meyakini India memiliki teknologi yang sangat baik,” imbuh dia.
Pemerintah Indonesia dan India memperkuat kerja sama strategis di bidang kecerdasan buatan (AI) untuk memastikan teknologi tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kepentingan publik. Kolaborasi ini dinilai krusial di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital kedua negara.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyatakan, Indonesia menargetkan nilai ekonomi digital mencapai US$ 330 miliar pada 2030, sementara ekonomi internet India diproyeksikan menembus US$ 1 triliun.
Menurutnya, AI menjadi pengungkit utama untuk menjawab tantangan strategis, mulai inklusi keuangan hingga ketahanan iklim, asalkan ditopang tata kelola yang aman dan tepercaya.
Baca Juga
Di Hadapan Pengusaha India, Petinggi Danantara Bocorkan Arah Kebijakan Investasi
“Pengembangan AI tidak boleh hanya soal adopsi teknologi, tetapi membangun ekosistem yang human-centric dan memberi kepastian regulasi bagi inovasi serta investasi jangka panjang,” kata Nezar dalam acara AI Pre-Summit di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Senada dengan Nezar, Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty menegaskan bahwa isu AI bagi Indonesia dan India bersifat langsung dan berdampak, bukan sekadar wacana teknologi.
“Pilihan yang kita ambil soal AI akan membentuk bukan hanya hasil pembangunan nasional, tetapi juga norma global tentang bagaimana AI diatur, diterapkan, dan dialami masyarakat,” jelas dia.

