Pembangunan MRT Timur-Barat Fase 2 Digeber
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT MRT Jakarta (Perseroda) menggeber pembangunan MRT lintas Timur–Barat Fase 2 (Kembangan–Balaraja). Skema kerja sama ini disiapkan untuk mempercepat perpanjangan jalur MRT lintas Timur–Barat Fase 1 Tahap 1 (Tomang–Medan Satria).
Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta, Farchad Mahfud mengatakan, dalam waktu dekat perusahaan akan menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) guna melakukan kajian lanjutan terkait pengembangan jalur tersebut.
“Kemudian persiapan signing MoU MRT East–West Line Fase 2 yang di sisi Banten. Kita ingin mendorong pengembangan menggunakan developer contribution. Tunggu saja tanggal mainnya nanti dari Pak Direktur Utama, saya kira akan ada pengumuman dalam waktu dekat,” kata Farchad dalam forum jurnalis di Transport Hub Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).
Farchad menjelaskan, rute MRT arah Kabupaten Tangerang direncanakan memiliki panjang sekitar 29,9 kilometer (km), dengan sekitar 10 stasiun dan satu depo. Jalur MRT hingga Balaraja tersebut direncanakan dibangun secara elevated atau melayang di atas permukaan jalan.
Baca Juga
Progres MRT Harmoni–Mangga Besar Tembus 61%, Begini Detailnya
“Mudah-mudahan ini bisa kita luncurkan pengembangan ini sehingga proses pembangunan lintas Timur–Barat ini bisa dipercepat,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Utama MRT Jakarta Tuhiyat menyampaikan, tingginya tingkat kemacetan di Jakarta tidak terlepas dari pergerakan penumpang dari wilayah penyangga seperti Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, Bogor, hingga Bekasi. “Oleh karena itu, kita sadar dan mulai mendorong masing-masing pemerintah daerah, dari sisi Jakarta, Kabupaten Tangerang, termasuk Provinsi Banten,” tuturnya.
Ia menyebut, MRT Jakarta telah melakukan komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Gubernur Jakarta Pramono Anung, Gubernur Banten Andra Soni, serta pemerintah daerah terkait. Dari komunikasi tersebut disepakati dilakukan kajian mencakup aspek kelembagaan, skema pembiayaan, trase, dan titik-titik stasiun.
“Nah, ini akan dilakukan memorandum of understanding (MoU) kurang lebih dalam bulan-bulan inilah, mudah-mudahan bisa kita lakukan,” ucap Tuhiyat.
Tuhiyat menambahkan, skema pembiayaan yang diusulkan bertujuan meningkatkan efisiensi fiskal negara dengan menggandeng pengembang di sepanjang trase MRT Fase 2 melalui kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU). “Bisa enggak kerja sama dalam bentuk KPBU untuk membangun beberapa area stasiun? Sehingga negara nanti tinggal membangun jalurnya,” terangnya.
Menurut Tuhiyat, pembangunan titik-titik stasiun oleh pengembang swasta dapat mencakup sekitar 60% dari total biaya proyek, sementara pemerintah fokus membangun jalurnya dengan porsi sekitar 40%.
Baca Juga
Proyek MRT Timur–Barat Fase 1 Tahap 1 Masuk Tahap Tender pada 2026
Sementara MRT Jakarta sebelumnya memastikan pembangunan MRT lintas Timur – Barat (East – West Line) dimulai pada akhir 2026. Division Head of Project Management for Construction (PMC) 1 MRT Jakarta, Sony Desta mengatakan, pelaksanaan konstruksi belum dapat dimulai lebih awal karena tender baru digelar pada kuartal IV 2025.
Sony menyampaikan, proyek MRT lintas Timur – Barat akan menghadapi tantangan lebih besar dibanding fase sebelumnya yakni rute yang lebih panjang. “Di sana (proyek MRT East – West) sebetulnya lebih masif ya, itu (panjangnya) 24,5 km, ditambah akses ke Depo 5,9 km ya. Jadi, itu lebih panjang ya, ketimbang Fase 1 dan Fase 2,” ujarnya.

