Bagikan

Telah Lewati Titik Siklus Terendah, Sektor Properti Bakal Tumbuh 8-10%

Poin Penting

Sektor properti diprediksi tumbuh 8-10% seiring proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai di atas 5,5% pada tahun 2026.
Properti telah melewati titik siklus terendah setelah sempat melemah dalam satu dekade terakhir akibat pertumbuhan ekonomi yang terbatas.
Momentum kebangkitan properti didorong oleh elastisitas sektor terhadap ekonomi dan perbaikan iklim investasi di bawah pemerintahan saat ini.

JAKARTA, investortrust.id — Satuan Tugas (Satgas) Perumahan memproyeksikan sektor properti tumbuh 8-10% pada era pemerintahan Prabowo Subianto. Selain telah melewati siklus terendah, sektor proerti bakal ditopang laju perekonomian yang ditargetkan tumbuh di atas 5%.

Menurut anggota Satgas Perumahan, Panangian Simanungkalit, pelemahan sektor properti telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir akibat ekonomi yang tumbuh terbatas. Kini, sektor tersebut mulai bangkit.

“Properti itu kan sudah agak melemah sejak beberapa tahun lalu, terutama karena pertumbuhan ekonomi hanya berkisar 4%. Kalau kita lihat antara 2014—2024, rata-rata cuma tumbuh 4,3%, termasuk karena faktor Covid-19,” kata Panangian dalam media briefing di Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Baca Juga

ARES 2025 Ungkap Pasar Properti Asia Makin Kompleks di Era Digital

Satgas Perumahan --dibentuk untuk mengakselerasi program pembangunan perumahan nasional-- optimistis pertumbuhan ekonomi domestik ke depan lebih baik. Apalagi Kabinet Merah Putih menargetkan ekonomi tahun ini tumbuh di atas 5%, bahkan 8% dalam jangka panjang. Bank Indonesia (BI) juga memproyeksikan perekonomian 2026 tumbuh di atas 5,5%.

Ilustrasi perumahan. Foto: Ist

“Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, sektor properti tahun ini melewati titik siklus terendahnya. Terlebih pemerintah juga berkomitmen terus memperbaiki iklim investasi. Sektor properti itu siklus, kalau titik rendahnya sudah disentuh kan tinggal dipelihara biar naik,” tutur dia.

Panangian menjelaskan, elastisitas sektor properti berada di kisaran 1,5 hingga 1,7 terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan asumsi ekonomi tumbuh di kisaran 5,2—5,5%, sektor properti diprediksi tumbuh berkisar 8% hingga mendekati 10%.

Panangian juga menyinggung pengalaman kebangkitan sektor properti pascakrisis finansial global 2008-2009. Saat itu, sektor properti mulai tumbuh pada 2009 dan mencapai puncaknya pada 2013—2014 seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi.

Panangian Simanungkalit mengungkapkan, momentum pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan berlanjut hingga menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2029 menjadi peluang bagi sektor properti untuk terus berkembang pesat. “Ini momentumnya bagus banget untuk properti,” tandas Panangian.

Pengunjung melihat maket apartemen. Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal

Baca Juga

Ketum REI: Injeksi US$ 3,5–7 Miliar ke Sektor Properti Tambah Pertumbuhan Ekonomi 0,5%

Berdasarkan Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) BI, harga properti residensial di pasar primer pada kuartal III-2025 tumbuh terbatas.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menyatakan, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada kuartal III-2025 tumbuh 0,84% (year on year/yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan kuartal II-2025 sebesar 0,90% (yoy).

"Sejalan dengan perkembangan harga, penjualan unit properti residensial tipe menengah dan besar juga masih belum kuat di tengah positifnya penjualan properti residensial tipe kecil," kata Ramdan, beberapa waktu lalu.

Secara keseluruhan, menurut BI, penjualan unit properti residensial di pasar primer tercatat mengalami kontraksi sebesar 1,29% (yoy), membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencatatkan kontraksi 3,80% (yoy).

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024