Ribut-Ribut soal Fenomena ‘Mantab’, Ini Penjelasan Menko Perekonomian
JAKARTA, investortrust.id – Menko Perekonomian, Arilangga Hartarto menyebut fenomena makan tabungan alias mantab di kalangan kelas menengah masih dalam kondisi yang relatif aman.
"Ya, relatif aman," kata Airlangga saat ditemui di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (27/12/2023).
Airlangga mengatakan, pengeluaran kelas menengah pada tahun mendatang masih jadi andalan untuk menggerakkan ekonomi. "Kemarin kan mereka banyak simpan karena Covid-19," ujar dia.
Baca Juga
Airlangga belum bisa memastikan insentif apa yang akan diberikan untuk kelas menengah pada 2024. "Ya kita lihat tahun depan," tutur dia.
Sebelumnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Juda Agung meminta masyarakat tak mengkhawatirkan lemahnya pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan.
Menurut Juda, pelemahan pertumbuhan DPK tidak berarti menunjukkan likuiditas yang ketat.
“Kalau kita lihat, alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) itu masih 26%. Secara rata-rata historisnya itu 20%. Ini menurut kami masih memadai,” kata Juda dalam seminar nasional Outlook Perekonomian Indonesia 2024, di Jakarta, Jumat (22/12/2023).
Juda Agung menjelaskan, dengan kondisi tersebut, kapasitas pembiayaan perbankan dalam kondisi yang cukup kuat.
Dia mengakui, pertumbuhan DPK agak lambat 3% akibat ekses simpanan 2020-2022 yang meningkat tajam karena orang tidak banyak mengeluarkan konsumsi.
Baca Juga
OJK Optimistis Kredit Perbankan Tahun ini Tumbuh Dua Digit, kok Bisa?
“Ketika (pandemi) Covid-19 orang kan saving, karena nggak konsumsi. Sekarang begitu konsumsi, tabungannya dipakai. Jadi, saya rasa DPK 3% di tahun ini tidak perlu dikhawatirkan,” tegas dia.
Sementara itu, berdasarkan indeks tabungan masyarakat, khususnya kelompok bawah atau konsumen dengan saldo tabungan di bawah Rp 1 juta terus menurun. Tidak hanya pada kelas menengah, tren mantab juga muncul di masyarakat bawah.
Data Mandiri Spending Index menyebutkan, tingkat belanja kelompok bawah terus meningkat, yaitu mencapai 269,2 pada kuartal IV-2023. Sebaliknya, indeks tabungan turun ke level 47,4. Rata-rata kontribusi belanja mencapai 18%.

